Showing posts with label coretan. Show all posts
Showing posts with label coretan. Show all posts

Saturday, 5 February 2022

10 Alasan, Mengapa Umat dan Agama Butuh Anak Muda!


Buat anak muda, kalian luar biasa. Diharapkan dan dibutuhkan untuk merancang masa depan yang cemerlang. Islam sebagai masa depan umat harus diwariskan pada generasi yang hebat, kuat, dan siap memimpin dunia dengan agama. Mengapa anak muda? ini alasannya:

1. Karena tertarik pada kemajuan zaman.

Zaman terus berkembang, yang sulit beradaptasi akan tumbang. Hebatnya, anak muda tertarik pada hal baru, berani mencoba walau harus mengambil resiko. Tak heran, inovasi dan kreasi muncul dari ide kaum muda, mereka berkolaborasi menciptakan pola baru membangun negeri. Satu hal yang tidak dimiliki generasi tua adalah merancang perubahan di masa mendatang, dan kekuatan terbesar anak muda ada pada visi perubahan di masa depan.

2. Karena generasi pembelajar.

Belajar tak kenal usia, karena mereka yang bertahan adalah yang terus belajar. Di antara tanda kebodohan adalah merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki. Bahkan negeri ini pun masih harus terus belajar. Semakin tua biasanya semakin tinggi akan gengsi, insecure melihat kemampuan diri, habis memikirkan nasib anak cucu nanti.

3. Karena generasi yang paling mudah kolaborasi.

Kini jarak tak lagi menjadi sekat dalam hubungan, siapapun dengan bebas membuka diri menerima segala misi bersama. Usia pun tak lagi senggang, ketika yang tua senang mengajari generasi di bawahnya, dan yang muda semangat menerima pelajaran dari pengalaman. Sepertinya sulit untuk bergerak sendiri, bukan karena tidak mampu mandiri, namun fakta menunjukkan mereka besar karena berkolaborasi.

4. Karena paling melek berita.

Kini zaman tak sulit mencari berita terkini, karena internet menyajikan kita luapan informasi. Anak muda skrng paling update dapat berita, paling cerdas membedakan fakta dan dusta, paling anti dengar hoax di grup tetangga, juga paling waspada di grup WA keluarga.

5. Karena calon pemimpin masa depan.

Masa muda adalah masa penentu kapasitas diri, fisik dan nyali diuji agar kuat menghadapi masalah di masa tua nanti. Dewasa sudah tidak memikirkan diri sendiri, ada banyak orang yang menggantungkan nasibnya ke para pemimpin negeri. Mereka adalah orang2 yg pernah muda, menggapai cita dengan penuh asa, hingga umat percaya pada sosok pemimpin muda.

6. Masa depan di tangan Islam.

Tak perlu mengkhawatirkan masa tua, takutlah saat masa mudamu kosong dari misi perubahan. Tua adalah keniscayaan di masa depan, tapi kebangkitan adalah pilihan. Janji Islam kan kembali memimpin peradaban, bukanlah dongeng yang usang diceritakan. Tapi semua tergantung kita, siapa yang mempersiapkan dia yang akan memetik keberhasilan.

7. Karena mereka generasi melek poliitik.

Apatis bukan soal tidak suka dengan politik, lebih terlihat sudah muak dengan para politisi. Siapa bilang anak muda apatis, buktinya banyak dari mereka yang kritis. Buat program pemberdayaan masyarakat, agar kesadaran masyarakat meningkat. Hidup umat tidak lepas dari aspek politik, isu agama pun dijadikan bahan kepentingan para elit. Hebatnya anak muda yang melawan kepentingan politisi, mulai turun ke jalan hingga maraknya tanda tangan petisi.

8. Karena tajamnya pemikiran kaum muda.

Kritis sudah melekat dalam sifat anak muda, sebab itulah tugasnya hanya bersuara, bukan mengatur negara. Umat akan kuat karena menumbuhkan sikap amar ma’ruf nahy munkar, terus bermuhasabah, tumbuh sifat syaja’ah, terus beramal hingga istiqomah.

9. Karena banyak sejarah baru diukir oleh kaum muda.

Bukan hanya peristiwa sumpah pemuda, atau reformasi ’98, kita belajar dari sosok Sa’ad bin Abi Waqqash, Mushab bin Umair, Asma binti Abu Bakar, Muhammad Al-Fatih, dsb. Jika tanpa tekad kuat dan keteguhan hati anak muda, energi berlebih mereka harus disalurkan untuk mendukung dakwah Islam, sebagaimana para sahabat mendukung penuh dakwah Rasul saw.

10. Karena anak muda itu kuat.

Muslim yang disukai Allah adalah muslim yang kuat. Memang benar, masih muda belum terlampau cerdas, belum berlebih harta, belum dipandang berjasa. Namun mereka yang muda punya energi untuk melahirkan kontribusi. Mereka hanya tidak sadar punya kekuatan, makanya yang dilakukan hanyalah bergerak. Umat Islam mewariskan masa depan pada anak mudanya, mereka harus menjadi generasi yang mau dipimpin dan harus siap memimpin.
Bandung, 5 Februari 2022





Friday, 20 November 2020

Memuliakan Guru dan Para Ulama




*) Disampaikan ketika khutbah Jum'at, 20/11/2020

Jama’ah sholat jum’at rahimakumullah.. 

Islam mengajarkan kepada umatnya agar memuliakan guru. Dalam islam, menuntut ilmu hukumnya wajib, namun tidak semua ilmu yang dituntut akan memberikan manfaat kepada pemiliknya, hanya mereka yang beradab terhadap ilmu saja yang akan mendapatkan manfaat dari ilmu. Memuliakan ilmu berarti sama wajibnya dengan memuliakan guru. Seandainya ada peribahasa buku adalah jendela ilmu, maka guru adalah orang tua kita dalam menuntut ilmu. 

Guru adalah kunci pembangun peradaban. Dulu, dua kota besar di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, dibom atom, sebanyak 75 ribu korban jiwa melayang, suasana kota porak poranda, gelap dan hancur. Seketika Kaisar Hirohito memecahkeheningan dengan bertanya, “Berapa jumlah guru yang masih tersisa?” Para jenderal kaget, mengapa yang ditanyakan pertama kali adalah guru. Dengan cerdas pimpinan Jepang itu menjawab, “Kita telah jatuh karena kita tidak belajar, kalau kita semua tidak bisa belajar, bagaimana kita akan mengejar mereka? Maka kumpulkan semua guru yang tersisa, karena sekarang kepada mereka kita akan bertumpu, bukan kepada kekuatan pasukan."

Sebenarnya tanpa kisah itu pun kita sudah tahu, betapa penting sosok seorang guru bagi kehidupan kita. Sosok guru adalah sosok yang tidak dapat tergantikan, negara yang serius memperhatikan kondisi gurunya berarti ia serius menata masa depan yang cerah, sebaliknya negara yang abai melahirkan guru berkualitas berarti ia telah sengaja mewariskan masa depan yang kelam. 

Walaupun saat ini mencari ilmu lebih mudah karena kemajuan teknologi yang semakin modern. Anak generasi di bawah kita semakin mudah mengakses informasi dan menemukan sumber ilmu. Namun sepintar apapun teknologi masih belum ada yang dapat menggantikan peran guru. Itulah mengapa banyak orang tua yang kesulitan mendidik anaknya belajar dari rumah, tidak seperti guru yang biasa mengajar anaknya di sekolah. Maka, hargailah guru-guru kita, guru untuk anak-anak kita, karena peran mereka kita bisa melahirkan generasi cerdas untuk masa depan. 

Itulah mengapa Allah berfirman dalam Surat At Taubah ayat 122, yang berbunyi: 

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ ࣖ 

Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.” 

Ayat ini turun untuk menjelaskan tentang jihad yang sebenarnya adalah kewajiban, tegas Allah memberi peringatan kepada mereka yang tidak mau ikut berjihad. 

إِلَّا تَنفِرُوا۟ يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا 

Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih…” (QS. At Taubah: 39) 

Setelah ayat ini turun, rupanya ada sebagian umat islam yang tidak suka dengan sebagian kecil panpung yang tidak mengirimkan pasukan jihad karena hendak menuntut ilmu. Lalu turunlah at taubah ayat 122 yang sebelumnya tadi dibacakan, rupanya Allah swt membenarkan sikap sebagian kecil orang yang tidak ikut berperang karena sedang menimba ilmu. 

Ayat 122 ini juga termasuk ke dalam ayat jihad, untuk menjelaskan bahwa menuntut ilmu pun termasuk jihad. Kelak mereka yang disisakan tidak ikut berperang karena menuntut ilmu akan menjadi guru mengajarkan islam kepada generasi baru sepeninggal mereka. Islam sangat memperhatikan ilmu dan guru untuk masa depan, meskipun dalam islam sendiri ada banyak sebutan untuk mencerminkan guru, seperti ustadz, musyrif, mursyid, murabbi, dan lainnya. Apapun sebutannya, mereka adalah orang yang berilmu, dan telah berjasa mengajarkan kita ilmu barang sedikit saja. 

Mencintai ilmu berarti mencintai orang yang memberi ilmu. Ali bin Abi Thalib ra. yang pernah mengatakan, "Siapa yang pernah mengajarkan aku satu huruf saja, maka aku siap menjadi budaknya." Perkataan ini bukan untuk merendahkan kehormatan beliau, namun untuk menunjukkan bahwa orang-orang yang berilmu adalah orang yang mulia. Bahkan dahulu sebagian salaf terbiasa apabila menghadap kepada gurunya, ia bersedekah dan berdo’a “Ya Allah tutuplah aib guruku dariku dan janganlah hilangkan keberkahan ilmunya dariku.” (Ibnu Jama’ah, Tadzkirah al-Sami’ wa al-Mutakallim

Jama’ah sholat jum’at rahimakumullah.. 

Jika kepada guru kita yang mengajarkan barang sedikit ilmu saja harus kita muliakan, lalu bagaimana dengan para alim ulama yang ilmu nya sangat luas hingga banyak generasi pewaris yang menjaga ilmu mereka. Tentu kita harus lebih memuliakan mereka, karena para ulama adalah guru sekaligus pewaris para Nabi. Sebagaimana Rasul Saw. Bersabda: 

…Para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud No. 3641) 

Para ulama pun harus kita jaga dan muliakan, karena mereka adalah guru bagi agama kita tercinta. Ingat, guru terbaik adalah mereka yang mengajarkan tentang agama, karena ilmunya akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat. Apakah guru umum lainnya tidak mulia? Semua guru mulia, namun keberkahan ilmu akan lebih banyak didapatkan oleh mereka para pengajar ilmu islam, ilmu membaca al quran, ilmu ibadah, ilmu muamalah, dan ilmu lainnya. Sebab hidup kita tidak bisa lepas dari aturan islam, kita amalkan dari ilmu para ulama kita, mengalir kepada mereka walaupun mereka sudah meninggal pahala terus mengalir kepada mereka. masyaAllah

Maka jagalah dan muliakanlah para ulama kita. Bukan malah membenci, menghina, memfitnah, bahkan mengkriminalkan ulama. Sekarang zaman yang aneh, Ulama ngomong disalahkan, ulama diam disalahkan, akhirnya giliran ulama membela yang salah dibenarkan, giliran ulama diam atas kesalahan dibenarkan, lantas kapan ulama dianggap benar ketika membela kebenaran? Selalu saja ulama menjadi korban. Sejatinya ulama akan dianggap salah oleh mereka yang membenci islam, membenci dakwah, tidak suka terhadap amar ma’ruf nahy munkar. 

Semoga kita termasuk umat-Nya yang istiqomah menjaga dan memuliakan guru dan ulama kita. 

Wallahu a’lam bi showab.


Tuesday, 20 October 2020

Mencegah Kemunkaran, Atas Dorongan Iman Bukan Hawa Nafsu !


Hadits dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangan, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisan, jika tidak mampu maka ubahlah dengan qalbu dan hal itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, Ahmad, Ibn Majah, Ibn Hibban)

Islam melarang seseorang melakukan kemunkaran, Islam melarang seseorang menolong atau mendukung kemunkaran. Ada satu perkara yang luput dari kebiasaan kita, bahwa Islam pun melarang seseorang diam atas kemunkaran.

Ada sebuah kisah, di mana datang utusan khalifah Umar bin Abdul Aziz, mereka bersama orang-orang yang kedapatan minum khamr. Mendengar hal itu Khalifah memerintahkan agar mencambuk mereka semua demi menegakkan hudud. Ada seorang bertanya kepada khalifah, “Tapi di antara mereka ada yang sedang shaum (sehingga dia tidak ikut meminum khamr)?” Namun khalifah tetap memerintahkan agar mencambuk orang itu, lalu membacakan ayat berikut:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.” (QS an-Nisa’ [4]: 140)

Imam At Thabari berpendapat bahwa ayat ini mencakup larangan duduk-duduk (menghadiri) pertemuan apapun yang berisi berbagai jenis kemunkaran. 

Jadi, bagaimana seharusnya kita menyikapi kemunkaran? Tidak lain dengan saling menasehati, begitulah Islam membuat tuntunan amar ma’ruf nahy munkar. 

Tidak salah Ketika kita menasehati penguasa, bahkan harus. Sebab agama adalah nasehat, sebagaimana hadits:

عن أبي رقية تميم بن أوس الداري رضي الله عنه, أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم». رواه مسلم

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)

Seorang ulama bernama Abu ‘Ali ad-Daqqaq rahimahullah (wafat 412 H) berkata:

الساكت عن الحق شيطان أخرس، والناطق بالباطل شيطان ناطق

“Orang yang diam dari kebenaran adalah setan yang bisu, dan orang yang menyampaikan kebathilan adalah setan yang berbicara.”

Perkataan beliau ada benarnya, terlihat sederhana namun cukup berat. Kita dituntut untuk pandai memilah antara haq dan bathil, karena bisa saja mereka yang banyak berbicara bisa terjerumus ke dalam dua pilihan, menjadi setan bisu atau setan yang berbicara. Kita enggan menjadi keduanya, maka beranilah berbicara dengan ilmu dan dengan dorongan keimanan agar tidak tergelincir pada niat yang salah.

Jangan tertipu dengan kebahagiaan dunia, karena yang memberi jalan untuk memikirkannya hanyalah hawa nafsu. Kita senang dan sedih harus karena Allah, susah dan lapang harus karena Allah, rindu pemimpin adil dan benci pemimpin dzolim pun harus karena Allah, bukan karena hawa nafsu. Mengingatkan langsung lebih baik, jika ada hasutan untuk melanggar hukum syara’ saat mengingatkan, maka lebih baik mendoakan mereka. Berdoa agar diberikan hidayah, dan diberikan balasan yang setimpal atas perbuatannya. Jika kita sudah tidak percaya pada pengadilan manusia, maka serahkan saja pada pengadilan Allah swt, dzat yang Maha Adil. Bahkan mendoakan keburukan bagi pemimpin dzalim adalah sunnah yang dapat dilakukan, sebagaimana sabda Nabi saw.

“Ya Allah, siapa saja yang memimpin/mengurusi urusan umatku, yang kemudia dia menyayangi mereka, maka sayangilah ia. Dan siapa saja yang menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia.” (HR. Imam Muslim)

Semoga Allah swt. memberikan keistiqomahan agar kita selalu berada dalam jalan-Nya dan diberikan kekuatan agar kita kuat dalam menghadapi setiap ujian-Nya. Wallahu a’lam bis showab.


Bandung, 3 Rabi'ul Awwal 1442



Monday, 7 September 2020

Malu Atas Amal-Amal Kita


        Seorang muslim pasti sadar bahwa hidupnya harus diisi oleh amal-amal yang bernilai ibadah, dan setiap ibadah yang ditegakkan harus dilandasi dengan niat yang lurus dan cara yang sesuai tuntunan. Itu dasar ibadah yang biasanya kita pelajari. Tahukah bahwa ada hal lain yang sering dilupakan oleh seorang hamba ketika beribadah, yakni menyeimbangkan rasa khauf (takut) dan raja' (harap). keseimbangan antara keduanya harus dijaga, karena jika salah satunya lebih dicondongkan akan merusak ibadah itu sendiri. Seseorang yang terlalu didominasi oleh rasa khauf akan mudah berputus asa dari rahmat Allah swt., sebaliknya jika rasa raja' lebih tinggi akan merasa aman dari adzab Allah swt. Tanda kekhusyu'an ibadah adalah keseimbangan dua aspek ini. Sebagaimana Allah berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)

        Di antara dua difat tersebut, sifat khouf terkadang lebih rendah dibandingkan dengan sikap kita yang terus berharap agar amal kita pasti diterima. Padahal kita tidak bisa menjamin kemungkinan diterima amal tapi banyak diantara kita terlalu percaya diri atas amal yang dikerjakannya. Rasa takut itu penting, sebab itulah yang membuat manusia selalu melakukan introspeksi diri dan berubah ke arah yang lebih baik. 

Dari Aisyah ra., ia berkata, Wahai Rasulullah saw.! Allah berfirman:

        "Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka." (TQS. Al-Mukmi [23]: 60); adalah ditujukan kepada orang berzina dan meminum khamr.

        Dalam riwayat Ibnu Sabiq dikatakan, "Apakah ditujukan kepada orang yang berzina, mencuri, dan meminum khamr, tapi meski begitu dia takut kepada Allah? Rasulullah saw. bersabda, "Bukan.." Dalam riwayat waki dikatakan, "Bukan, wahai putri Abu Bakar ash-Shiddiq, tapi ia adalah orang yang menunaikan shaum, shalat, dan sedekah; dan ia merasa khawatir ibadahnya tersebut tidak diterima." (HR. Baihaqi dalam asy-Sya'bi, al-Hakim dalam al-Mustadrak, ia meshahihkannya dan disetujui oleh adz-dzahaby).

        Rasul menggambarkan bahwa khatawir atas amal kita adalah sikap yang bagus. Tiada yang bisa menjamin seseorang aman dengan amal baiknya, disamping kemungkinan akan besarnya dari amal buruk kita. Rasa takut seharusnya tidak hanya dijumpai oleh para pelaku maksiat yang hatinya sudah dirasuki syetan, namun juga takut harusnya dijumpai oleh para ahli ibadah yang khawatir akan amalnya yang tidak diterima.

Dari Tsauban ra., dari Nabi saw., beliau bersabda:

        Aku akan memberitahukan beberapa kaum dari umatku. Di hari kiamat mereka datang dengan membawa kebaikan seperti gunung Tihamah yang putih. Tapi Allah menjadikannya bagaikan debu yang bertebaran. Tsauban berkata, "Wahai Rasulullah, sebutkanlah sifat mereka dan jelaskanlah keadaan mereka agar kami tidak termasuk bagian dari mereka sementara kami tidak mengetahuinya." Rasulullah saw. bersabda, "Ingatlah!, mereka adalah bagian dari saudara kalian dan dari ras kalian. Mereka suka bangun malam sebagaimana kalian, tapi mereka adalah kaum yang jika tidak dilihat oleh siapapun ketika menghadapi perkara yang diharamkan Allah, maka mereka melanggarnya." (HR. Ibnu Majah. Al-Kinani penulis buku Mishbah al-Zujajah berkata, Isnd hadits ini shahih, para perawinya terpercaya.)

        Peringatan ini tidak hanya berlaku bagi para ahli tahajjud, tapi juga bagi mereka yang selalu berkhianat atas amal sholeh mereka dengan melakukan kemaksiatan setelahnya. Amal mereka bagaikan debu yang bertebaran, ringan dihembuskan angin seberapa banyak jumlahnya jelas tiada artinya. Adakah amal kita kelak akan disaksikan seperti ini? Naudzubillahi min dzalik. 

Abdullah bin Mas'ud menceritakan kepada kami dua hadits, salah satunya berasal dari Nabi saw. dan satu lagi dari dirinya sendiri ia berkata:

        Sesungguhnya orang yang beriman akan melihat dosa-dosanya seolah-olah dia berdiri di bwah gunung. Ia takut (dosa itu) jatuh menimpanya. Sedangkan orang yang jahat akan melihat dosa-dosanya seperti lalat yang menghampiri hidungnya, kemudian ia berkata mengenai dosanya, "Seperti inikah?" Abu Syihab berkata dengan tangannya -yang diletakkan-- di atas hidungnya. (HR. al-Bukhari)

        Hadits ini merupakan pembeda perumpamaan seorang muslim dalam melihat dosa jika dibandingkan dengan ahli maksiat yang banyak melakukan dosa. Seorang muslim tidak akan main-main dengan dosa, sekecil apapun yang diperbuat akan selalu merasa bahwa dirinya adalah pendosa yang kotor. Ia khawatir akan diakhirat sebagaimana khawatir manusia ditimpakan gunung yang berada di atasnya. Sedangkan para pelaku maksiat tidak akan terdapat rasa takut sedikitpun sebagaimana tidak khawatir manusia saat seekor lalat hinggap di hidungnya. Tidak ada rasa cemas sedikitpun atas dosa dan penyesalan atas keburukan yang pernah diperbuat. 

        Sahabatku, masih adakah rasa takut yang tersimpan dalam hati kita. Khawatir akan amal yang tidak diterima, cemas atas dosa yang menumpuk bagaikan gunung, atau kualitas amal yang ringan seringan debu bertebaran di langit. Mari tanamkan rasa malu atas amal yang telah dilakukan, karena kita tidak tahu berapa kualitas yang dapat diraih. Mungkin kita sudah banyak berharap di dalam ibadah dan doa-doa kita, namun seimbangkan hal itu dengan rasa takut atas amal-amal kita.


Bandung, 19 Muharrram 1441 H

Friday, 1 May 2020

Ramadhan: Bulan Penerapan Al Quran



Yang istimewa dari Bulan Ramadhan adalah Al Quran, disamping terdapat keistimewaan lainnya di bulan penuh kemuliaan. Namun sadari bahwa ada keutamaan yang tidak didapatkan di bulan-bulan lainnya selain Ramadhan, yakni terdapat malam Lailatur Qadr sebagai malam turunnya Al Quran. Yang membuat istimewa adalah apa yang diturunkan mulia sehingga membuat bulan nya pun menjadi mulia. Sebagaimana Firman Allah SWT:

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah…” (QS. Al Baqarah: 185)

Keutamaan yang dihadirkan pada bulan ini terkadang bisa kita dapatkan dari bulan lainnya, meskipun berbeda derajatnya. Seandainya puasa ramadhan untuk menahan hawa nafsu, maka di bulan lainnya terdapat puasa yang bahkan bisa lebih banyak jumlahnya daripada bulan Ramadhan, misalkan puasa daud.

Atau karena di bulan Ramadhan akan dihapuskan dosa-dosa, dilipatgandakan pahala. Sekalipun dua aspek ini lebih utama berada di Bulan Ramadhan, bukan berarti Allah tidak menjanjikan peluang serupa di bulan lainnya. Lalu bagaimana dengan keutamaan diturunkannya Al Quran? Jelas hanya di Bulan Ramadhan Allah SWT laksanakan keistimewaan itu.

Al-Quran merupakan petunjuk, jalan yang mampu menyelamatkan siapa saja yang mengikutinya dan menyesatkan siapa saja yang menyimpang darinya. Sebab Al-Quran diturunkan sebagai pembeda antara yang haq dan bathil, membedakan kebenaran dan kesesatan.

Namun sungguh sangat menyedihkan, melihat realitas umat saat ini tidak menjadikan Al Quran sebagai petunjuk utama dalam mengatur masyarakat. Al Quran hanya sebatas dibaca, hanya sebatas dihafal, hanya sebatas dipelajari, belum sampai pada pengamalan yang hakiki tegak di tengah-tengah masyarakat.

Mengapa Al Quran tidak tegak dalam peraturan masyarakat, padahal aspek lain dari Al Quran masih terlihat? Jawabannya, karena institusi yang mewadahinya sudah ada, sedangkan istitusi yang menegakkannya belum ada. Sudah banyak institusi yang membiasakan santrinya menghafal Al Quran, sudah banyak lembaga yang mengajarkan muridnya mempelajari Al Quran.

Ketika berbicara penerapan Al Quran maka hal itu membutuhkan institusi pula yang sama dibutuhkan untuk bisa direalisasikan sebagaimana Al Quran dibaca, dihafal, dan dikaji hingga saat ini masih tumbuh di masyarakat. Hanya saja kalau berkaitan dengan institusi penerapan Al Quran akan berhubungan dengan peran negara sebagai institusi pengatur masyarakat.

Tingkatan Mengimani Al Quran

Ramadhan mulia karena turunnya Al Quran. Bangsa Arab dulunya rendah lalu mulia karena Al Quran. Demikian pernah dikatakan oleh Umar r.a, “Kita dahulu adalah umat terhina, Allah muliakan kita dengan Islam.” Begitupun manusia akan mulia dan tinggi derajatnya jika dekat dengan Al Quran. kemuliaan tertinggi saat menjadikan Al Quran lebih dihormati pada tingkat keimanan yang lebih baik dari sekedar dibaca.

Benarlah bahwa membaca Al Quran adalah kebaikan yang besar, dilipatgandakan setiap hurufnya, dan menjadi pahala yang diwariskan jika ada yang menyimak kebaikannya. Yang menghafalnya dihadiahkan surga tertinggi setingkat hafalannya. Sudahkah cukup dalam mengimani Al Quran? Rupanya belum.

Tidak cukup membaca dan menghafalnya, namun juga harus mentadabburinya. Tadabbur dalam artian merenungkan, memikirkan, menghayati, sehingga tujuannya dapat menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Kekhawatiran Rasulullah SAW jika suatu saat kondisi umat-Nya sebagaimana digambarkan dalam Surat Muhammad ayat 24, bahwa mereka telah terkunci hatinya, karena tidak mentadabburi Al Quran.

Selain harus mentadabburi, Al Quran harus diamalkan. Sebagaimana Firman-Nya, “..Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An Nahl: 89)

Yang terbaik tidak cukup sampai mengamalkan, karena kebaikan itu bisa bertambah jika Al Quran kita ajarkan dan dakwahkan. Karena berdasarkan Hadits Rasul SAW, “Orang yang paling baik di antara kalian adalah seorang yang belajar Al Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sudah cukup? Belum. Mendakwahkan belum sampai pada sikap tertinggi menghormati Al Quran, karena sempurnanya memuliakan Al Quran jika ditegakkan sebagai pembuat dan pengatur hukum bagi manusia. Sebagaimana Firman-Nya:

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa: 65)

Al-Quran menjadi petunjuk hidup manusia karena menjelaskan segala sesuatu. Setiap masalah pasti ada hukumnya, dan setiap waktu pasti ada berbagai macam masalahnya. Namun demikian, perbuatan seseorang tidak bisa lepas dari keterikatan hukum syariah. Maka jadikan hidup kita sempurna dengan menghiasi segala aturan oleh aturan Islam yang sempurna. Sebagaimana Firman-Nya:

“…Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu…” (QS. Al Maidah: 3)

Mulia dan Hina Karena Al Quran

Jika bulan mulia ini membuat kita menjadi intimewa, tidak lain karena Al Quran. begitupun sebaliknya, saat umat ini meninggalkan Al Quran maka secara tidak langsung mengarah kepada umat yang hina. Tidak bagi mereka yang terus menjaga Al Quran, membela kesuciannya, dan menegakkan setiap hukumnya.

Pelecehan Al Quran bisa terjadi baik secara verbal maupun non verbal. Ada yang menghina dengan menginjak dan membakarnya, atau membacanya dengan candaan dan tawa. Ini adalah bentuk pelecehan yang terjadi secara verbal. Terkadang kasus seperti ini pun terjadi berulang karena hukum yang tidak memberikan efek jera bagi calon pelaku lainnya.

Pelecehan Al Quran yang dilakukan secara non verbal tidak lain ketika manusia tahu makna Al Quran untuk dijadikan sebagai pedoman dan aturan namun berpaling dari Al Quran. ada para hakim yang disumpah menggunakan Al Quran namun tidak mau menggunakan hukum Quran sebagai sumber hukum bagi perkara yang diadilinya. Di luar jadikan simbol, namun isinya jauh dari pelaksanaan Al Quran, ini bentuk ketidakhormatan yang nyata.

Saatnya Ramadhan kali ini menjadikan refleksi bagi kita, arti Al Quran dalam kehidupan adalah kemuliaan saat diterapkan. Menghidupkan Ramadhan dengan menghidupak Al Quran, hidup agar terlihat bagaimana Islam mengatur hubungan manusia, alam semesta, dan kehidupan, baik sebelum dan sesudah penciptaan segalanya.

Wallahu a’lam bisshowab

Muhamad Afif Sholahudin
8 Ramadhan 1441 H

Sumber: http://bkldk.or.id/2020/04/30/ramadhan-bulan-penerapan-al-quran/


Thursday, 26 March 2020

Tips Memperingati Isra Mi’raj Ketika #DiRumahAja

Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW di SD Plus Bakti Nusantara 666


Tahun ini akan menjadi momentum perayaan Isra Mi’raj paling berbeda daripada tahun-tahun sebelumnya. Biasanya Isra Mi’raj dirayakan dengan meriah, sebagai agenda rutinitas tahunan dengan penyelenggaraan tabligh akbar di erbagai daerah. Sebagian sekolah bahkan merayakannya dengan perlombaan dan aktivitas keislaman lainnya.

Serba Dilema Hadapi Corona, ‘Drama’ atau Realita?


Sampai saat ini pemerintah belum berani menyatakan lockdown, apa sebabnya? Banyak analisis yang mengungkapkan fakta dan data yang akan terjadi jika memaksakan lockdown. Satu sisi informasi dari pemerintah pusat yang terbatas tidak sebanding dengan derasnya informasi publik daerah-daerah rawan virus menyebar. Kekhawatiran tidak dapat terbendung karena belajar dari beberapa negara tetangga yang berhasil dan gagal dalam menangani wabah ini.

Saturday, 21 March 2020

Pesan Bagi Para Orangtua Selama Libur Sekolah (Karena Wabah Corona)



Saat ini sekolah-sekolah diperintahkan untuk tidak ada aktivitas, para murid diminta untuk melakukan proses belajar di rumah masing-masing. Aturan ini dilaksanakan atas dasar pencegahan virus Covid-19/Corona yang mulai bertambah parah, dari angka penderita hingga korban yang meninggal terus bertambah setiap harinya. Ada hal penting yang harus diperhatikan dalam surat edaran masing-masing daerah atau institusi sekolah, bahwa proses belajar dilakukan dengan pengawasan dan bimbingan orang tua/wali siswa.

Saturday, 4 January 2020

Sunday, 29 September 2019

Dari Fitnah Pesantren, Pluralisme, hingga Misi Deradikalisasi





Oleh : Muhamad Afif Sholahudin, S.H

Film ‘The Santri’ sempat menjadi perbincangan hangat di sosial media, bukan karena prestasi film yang banyak diklaim oleh sang sutradara, namun karena sinopsis alur cerita dan akting para pemeran yang di luar dari cerminan judul film itu sendiri. Wajar jika tagar #BoikotFilmTheSantri muncul dalam trending karena trailer yang dipublikasikan jelas menyinggung banyak kehidupan pesantren di Indonesia, di mana Indonesia menjadi negara yang memiliki banyak pesantren dan santri yang menimba ilmu di dalamnya.

Tak perlu dibahas ulang mengenai sinopsis film ini, karena sudah banyak orang-orang me-review dan memberikan tanggapan. Sekian banyak komentar yang terdengar, hampir semuanya memberikan tanggapan negatif, mulai dari jenis film yang dipilih, alur cerita yang penuh kontroversi, dsb. Kecaman pun berdatangan dari kalangan santri dan ustadz pondok pesantren, tidak lain karena fitnah akting santri yang tidak pernah dicontohkan kebiasaan santri pesantren manapun. Bahkan kritikan pun dilontarkan beberapa sutradara terkenal yang lebih pantas berkomentar terkait produksi perfilman.

Betapa tidak, film yang disutradarai oleh seorang wanita non-muslim bernama Livi Zheng ini memasukkan adegan yang tidak pantas dipraktikkan oleh santri atau kemungkinan terjadi di lingkungan pesantren. Seperti khalwat (berdua-duaan), ikhtilat (bercampur baur yang tidak dianjurkan), dsb. Jelas tidak mencontohkan bagaimana akhlak santri sesungguhnya yang saling menjaga satu sama lain walau hanya urusan saling memandang lawan jenis. Hal seperti ini justru yang dikhawatirkan, budaya barat yang serba bebas hendak digambarkan dalam kehidupan pesantren yang seharusnya terjaga. 

Selain karena adegan yang dipertontonkan tidak sesuai hukum syara’, alur cerita film ini pun mengundang banyak keheranan setiap orang. Jika menurut KBBI, santri adalah orang yang mendalami agama Islam atau yang beribadat dengan sungguh-sungguh. Namun cuplikan film yang disajikan menunjukkan alur cerita bahwa santri terbaik akan diberangkatkan bekerja di Amerika Serikat. Hal ini sejalan dengan pernyataan sutradara bahwa film ini akan dipasarkan pula di Amerika sana. Wajar jika publik heran, mengapa memilih Amerika sebagai tujuan impian?

Yang dilakukan oleh santri-santri terbaik dikirimkan ke AS pun masih belum jelas, apakah di sana mereka akan mendalami agama Islam sebagaimana pengertian santri yang sesungguhnya, atau sebaliknya? Yang jelas menjadikan Amerika Serikat sebagai kiblat panutan santri di film ini adalah alur yang ingin disampaikan oleh sang sutradara. Padahal ada Mesir sebagai pusat pengetahuan Islam saat ini, atau Palestina sebagai tanah surga, atau Roma yang sudah dijanjikan kemenangannya. Mengapa harus Amerika yang jelas-jelas kiblat hedonisme dan liberalisme penghancur moral umat Islam?

Tidak cukup mempropagandakan Amerika sebagai kiblat cita-cita santri, rupanya ada adegan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang santri yakni memberikan tumpeng pada perayaan ibadah non muslim. Masalahnya adegan dilakukan di tempat ibadah mereka. Bukankah masuk ke dalam tempat ibadah lain dilarang dalam Islam? Apakah hal ini dijalankan atas dasar sikap toleransi kepada penganut agama lain? Sejak kapan toleransi yang melanggar hukum syara’ dibolehkan dalam Islam? Cuplikan itu pun menunjukkan tidak dalam kondisi darurat, bahkan sedang dalam proses ibadah mereka, artinya jelas itu ruang utama yang sering digunakan. 

Haram dalam Islam mencampuradukkan agama, atau berusaha mengkompromikan antara yang haq dan bathil. Sebab Islam sudah menjelaskan mana halal dan haram, kebaikan dan keburukan, jangan berusaha untuk disatukan. Sebagaimana Firman Allah SWT:

وَلَا تَلۡبِسُواْ ٱلۡحَقَّ بِٱلۡبَٰطِلِ وَتَكۡتُمُواْ ٱلۡحَقَّ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٤٢

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al Baqoroh: 42)

Hal ini yang dikhawatirkan bagi umat Islam, jika pluralisme yang sempat diharamkan akan digiring kembali kepada opini yang dianggap sederhana, moderat, toleran, hingga disimpulkan sebuah kebolehan. Padahal Majelis Ulama Indonesia (MUI) pernah bersikap tegas mengharamkan Sepilis (Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme). Sebagian adegan film ini yang kebablasan berusaha menunjukkan narasi moderatisme yang indah padahal mengarah kepada pluralisme.

Islam sejatinya mengakui keberagaman dan pluralitas, perbedaan adalah sebuah keniscayaan, termasuk perbedaan keyakinan. Namun dalam masalah akidah dan ibadah Islam mempunyai ketentuan tersendiri, tidak bisa dicampuradukkan demi alasan saling menghargai dan menghormati. Lakum diinukum waliyadiin, bagimu agamamu bagiku agamaku. Jika dalam konteks sosial yang tidak berkaitan akidah dan ibadah maka dibolehkan, sepanjang tidak kebablasan dan saling merugikan.

Saya menilai ada unsur-unsur liberalisme yang dimasukkan dalam adegan sebagai cerminan kehidupan santri yang patut dicontoh, dan sengaja dimasukkan unsur-unsur pluralisme yang sangat membahayakan akidah. Dimunculkan (dalam trailer film) cuplikan pergaulan santri yang jauh dari realita dan sikap toleransi yang salah kaprah. Hal ini tentu akan berdampak buruk bagi pesantren dan setiap orang.

Selain itu, penulis melihat ada motif deradikalisasi yang hendak dimunculkan bahkan sebelum peluncuran film ini. Disampaikan oleh Said Aqil dalam video trailer film tersebut, “…Film drama-action yang isinya mengandung nilai-nilai Islam yang santun, toleran, ramah, plural, dan bisa membawa budaya akhlakul karimah peradaban. Jauh dari Islam radikal, Islam ekstrem, apalagi Islam teror.”

Pesan bahwa tujuan film ini untuk mengenalkan nilai-nilai Islam yang dimaksud tidak lain tujuannya untuk memukul para penganut Islam radikal, ekstrem, dan teror yang sedang berkembang saat ini. Kita tahu bersama, isu radikal dan sebagainya hanyalah propaganda yang dimainkan oleh penguasa dan semua tuduhannya disematkan kepada umat Islam. Lebih khusus kepada mereka yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar kepada penguasa. 

Mari kita bahas sedikit tentang radikalisme. Pemerintah dengan mudah mengaitkan tindakan teror dan ekstrem disebabkan pemikiran radikal, sedangkan pemikiran radikal bersumber dari sebagian ajaran Islam. Hasilnya sebagian ajaran Islam, seperti jihad, khilafah, dll berusaha untuk dihapuskan dan dikriminalisasi. Muncul ketakutan masyarakat terhadap sebagian ajaran Islam karena mereka berhasil melakukan monsterisasi kepada ajaran tersebut. Padahal, apa salahnya menyebarkan ajaran Islam yang sesungguhnya? Mungkin karena khawatir menimbulkan konflik, ini alasan yang tidak logis.

Film ini berusaha menggiring opini bahwa nilai-nilai toleran dan plural yang dimaksud adalah sikap yang ‘benar’ sebagaimana berlawanan dengan sikap orang-orang yang berfikir radikal. Ini aneh, ibarat memaksa orang menganggap dirinya benar, tapi salah memilih pembanding dia dengan orang yang berbeda dengannya. Jadi, mereka memaksa bahwa ajaran toleran yang kebablasan adalah ‘benar’ karena praktik tersebut dibenci oleh orang-orang berpaham radikal. Sedangkan dari awal masyarakat sudah dipersepsikan bahwa pemikiran radikal adalah sesat. Aneh bukan?

Wajar jika banyak timbul penolakan terhadap film ini, mulai dari pejabat, pimpinan pondok pesantren, ulama besar, hingga sutradara film. Mereka memanfaatkan sikap anti-radicalism dengan menyematkan unsur pluralisme yang jelas bertentangan dengan Islam. Hal ini terlihat dari apa yang dikutip dari laman PBNU, bahwa Film ‘The Santri’ akan mengangkat nilai dan tradisi pembelajaran pondok pesantren yang berbasis kemandirian, kesederhanaan, toleransi, kecintaan terhadap tanah air, serta sikap anti terhadap radikalisme dan terorisme.

Terakhir, kembalikanlah santri kepada hakikat santri seutuhnya. Mereka tidak hanya muslim yang giat dalam beribadah dan menuntut ilmu, tapi mereka juga muslim yang punya tekad kuat dalam membela agama Islam. Lihat bagaimana resolusi jihad lahir oleh komando KH. Hasyim Asyari dengan mengerahkan para santri untuk melawan kafir penjajah. Jelas dorongan mereka adalah jihad, begitulah cerminan santri yang sebenarnya. Seandainya ada upaya untuk menghapus materi ‘jihad’, seharusnya santri menjadi garda terdepan menolaknya. Sebab itu adalah langkah perjuangan santri yang dikenang meninggalkan jejak kemerdekaan bagi indonesia. Biarkan sejarah itu tercatat selalu agar menjadi referensi terbaik bagi muslim saat ini ketika sedang berjuang membela Islam.

Mewaspadai agar tidak terkena bahaya adalah keharusan, sebab Islam mengajarkan menghindari bahaya lebih diutamakan. Upaya propaganda yang disematkan dalam film ‘The Santri’ adalah cara keji memutarbalikkan ajaran Islam seutuhnya. Begitupun kita harus waspada terhadap segala hal yang sudah direncanakan oleh musuh-musuh Islam agar kita mengikuti kemauan mereka. Sekulerisme, liberalisme, dan paham lain yang berasal dari luar Islam harus dicegah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِي جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ ١٢٠

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al Baqoroh: 120)

Semoga Allah SWT memberikan kekuatan dan kesabaran kepada umat Islam agar tidak terjebak kepada langkah-langkah syetan dan upaya kaum kafir untuk menjauhkan Islam dari umatnya. Wallahu a’lam bi Showab.




Sumber : https://mediaumat.news/dari-fitnah-pesantren-pluralisme-hingga-misi-deradikalisasi/

dan https://mahasiswabangkit.com/2019/09/26/dari-fitnah-pesantren-pluralisme-hingga-misi-deradikalisasi/

Saturday, 13 October 2018

Muhasabah Kala Tertimpa Musibah


Musibah terus menghampiri berbagai daerah di penjuru negeri. Sebelumnya diperingatkan dengan gempa seperti di Lombok, belum cukup diperingatkan kembali dengan bertambahnya bencana gempa tsunami di Palu. Rasa duka seakan belum usai terobati karena musibah yang datang silih berganti, namun rasa cemas seakan sudah menghantui di beberapa daerah karena peringatan dini gerakan tanah dan gunung meletus sudah mencapai titik rawan. 

Duka nestapa takkan berarti jika berbekas hanya pada materi, membuat orang banyak menyumbang bantuan tapi tetap hati tak merasa sedang diperingati. Padahal kesedihan mereka adalah kesedihan kita, peringatan bagi mereka juga adalah peringatan bagi kita. Peduli terhadap saudara sesama adalah upaya untuk menyelamatkan kita juga. Seandainya ada bagian bawah perahu bocor maka tugas menutupi lubang bukan hanya dipikirkan oleh penumpang bawah karena tenggelam akan menimpa seisi kapal. Maka kekhawatiran mereka adalah panggilan kepedulian kita, termasuk peduli terhadap nasib negeri yang terus ditimpa musibah. 

Namun dapatkah musibah yang terjadi mampu menambah ketakutan kita kepada Allah SWT karena segala fenomena alam yang menimpa tidak lepas dari kemahakuasaan-Nya. Dia berhak menimpakan karena sebab perbuatan manusia. Dalam firman-Nya dijelaskan, "Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, maka itu karena (kesalahan) dirimu sendiri." (TQS. An Nisaa [4]: 79) 

Seandainya bencana di negeri ini ditimpakan karena dosa kita, maka harus bagi kita muhasabah sebagai langkah introspeksi menghindari segala pintu dosa. Beranikah negeri ini sadar kemaksiatan kepada Allah adalah keburukan bagi masa depan bangsa? Seharusnya sadar musibah terbesar bagi kita bukanlah musibah alam namun musibah agama, dimana orang lari dari agama dan memilih manusia sebagai penentu arah kehidupan. Seperangkat hukum Islam yang diturunkan namun diingkari dengan menerapkan hukum manusia. Bukankah wajar jika Allah menghukum suatu negeri karena kedurhakaan manusia di dalamnya? 

Sebagaimana firman Allah SWT, "Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman kami), kemudian kami binasakan sama sekali (negeri itu)." (TQS. Al Isra [17]: 16) 

Mudah bagi Allah menghancurkan segala infrastruktur yang manusia banggakan, jangankan seluas negeri ini, bahkan jika Dia berkehendak dalam sekejap seluruh isi bumi ini pun bisa dihancurkan. Lantas bagaimana kita ingin mendapat pertolongan dan ampunan jika terus mempertahankan kemaksiatan meluas, perzinahan dilegalkan, riba disuburkan, kriminalitas dimanfaatkan, dan hukum manusia penjajah masih digunakan. Bagaimana bisa kemakmuran negeri ini justru tidak membawa berkah, namun yang datang justru musibah. 

Gempa bumi merupakan peringatan dari Allah bukan kehendak alam. Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata: "Allah Subhanahu wa Ta'ala mengizinkan untuknya maksudnya bumi kadang-kadang untuk bernafas, lalu muncullah gempa besar padanya, dari situ timbullah rasa takut, taubat, berhenti dari kemaksiatan, merendahkan diri kepada-Nya, dan penyesalan pada diri hamba-hamba-Nya, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama Salaf ketika terjadi gempa bumi, "Sesungguhnya Rabb kalian menginginkan agar kalian bertaubat." (Miftah Daaris Sa’adah, 2/630) 

Padahal Allah SWT sudah memperingatkan, "Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (TQS. Al A'raaf [7]: 96) 

Umar bin khattab ra pernah mengatakan, “hisablah dirimu sebelum kalian dihisab, timbanglah amalmu sebelum ditimbang, karena sesungguhnya yang akan meringankan hisabmu nanti adalah saat engkau menghisab hari ini. Dan berhiaslah untuk pertemuan hari akbar, hari saat dipamerkan segala amal, dan tidak ada keringanan sedikitpun atas kalian." 

Maka saat ini yang harus dilakukan adalah muhasabah lalu pembenahan, baik pembenahan fisik dan materi maupun pembenahan batin dan sikap. Korban bencana adalah saudara kita juga maka bantulah mereka dengan kesanggupan yang kita punya. Seandainya para korban adalah diri kita atau sanak saudara kita tentulah bantuan terbaik yang akan kita berikan. Di sinilah kesabaran dari ujian itu terlihat. Di balik bencana ada peringatan moral, termasuk maksiat yang masih terpelihara. Itulah mengapa Umar bin Abdul Aziz didapatkan ketika terjadi gempa langsung menyurati para gubernurnya agar bertaubat dan banyak bersedekah di jalan Allah. 

Pesan kemanusiaan dibalik musibah alam adalah persatuan dalam kepedulian nasib sesama. Tak peduli ormas dan pilihan politik, siapapun berhak membantu dan siapapun wajib ditolong. Sedangkan pesan bagi negeri adalah persatuan dalam ukhuwah dan ketaatan kepada Allah SWT. Kita adalah umat yang lemah dan tak berdaya, tak pantas sombong dengan menolak apa yang telah diperintahkan-Nya. Penting dalam setiap ujian tidak hanya alasan kedatangannya, juga sikap kita menghadapi ujian apakah disikapi dengan ketaatan atau kemaksiatan.

Bandung, 8 Oktober 2018

Thursday, 5 July 2018

Puisi: Pantaskah Kau Terima Taubatku



PANTASKAH KAU TERIMA TAUBATKU

Pantaskah Kau terima taubatku

Di saat pejuang-Mu sibuk membela agama-Mu

Di saat darah mengucur dari para syuhada kebanggaan-Mu

Namun ku duduk santai menikmati dunia-Mu



          Pantaskah Kau terima taubatku

          Ku lihat maksiat dengan mata pemberian-Mu

          Ku menulis dosa dengan kedua tangan-Mu

          Kukhianati semua nikmat pemberian-Mu



Pantaskah kau terima taubatku

Dalam kerendahan ilmuku

Dalam ketidakkhusukan ibadahku

Kering lidah ini mengucap asma-Mu



          Pantaskah kau terima taubatku

          Dari hamba yang mengkhianati ayat-ayat-Mu

          Dari makhluk yang sombong terhadap kuasa-Mu

          Mungkinkah ku mendapat secercah cahaya harapan dari-Mu



Berat bagiku istiqomah di jalan-Mu

Tapi mudah bagi tuk berpaling dari peringatan-Mu

Akankah kau terima taubatku

Atas dosa yang melumuri seluruh badanku



          Sempit hatiku saat memohon luasnya ampunan-Mu

          Kecil jiwaku saat membayangkan besarnya kebijaksanaan-Mu

          Lambat rasa syukurku saat cepat mendapatkan pertolongan dari-Mu

          Tapi besar dosaku saat kau hitung betapa kecil amalku kepada-Mu



Pantaskah Kau terima taubatku

Dari ahli maksiat yang baru sadar akan ampunan-Mu

Watub ‘alaina taubatan nasuha

Watub ‘alaina taubatan nasuha

Tuesday, 22 May 2018

Bersahabat Dengan Al Qur'an Kala Ramadhan


"Wahai manusia, bulan Allah yang penuh rahmat dan ampunan telah datang kepada kalian, sebuah bulan yang merupakan bulan terbaik diantara semua bulan di hadapannya; siangnya adalah siang terbaik, malamnya adalah malam yang terbaik, dan waktu-waktunya adalah waktu yang terbaik. ia adalah bulan ketika kalian diundang oleh Allah untuk berpesta dan kalian telah dipilih sebagai penerima karunia istimewa ini. tarikan-tarikan nafas kalian diberi pahala ibadah. di bulan ini, segala amalan ibadah dan doa-doa kalian diterima..." (HR. Ibnu Huzaimah)

Begitulah sedikit potongan khutbah Rasul saw. dalam menyambul Bulan Ramadhan. Saking istimewa bulan ini sehingga banyak sekali sebutan yang diungkapkan oleh para ulama, seperti bulan agung (syahr 'Adzim), bulan mulia (syahr 'Ali), atau bulan penuh berkah (syahr mubarak). Kedatangannya bagaikan kelahiran seorang anak daripada orangtuanya, jangankan ketika lahir saat mendengar kabar kehamilan istrinya saja sudah bahagia. Begitupun Bulan Ramadhan yang sangat dinanti, bahkan para ulama dahulu menganalogikan bahwa Rajab waktu untuk menanam, Sya'ban waktu untuk menyiram, dan Ramadhan waktu untuk memanen. Ketiganya tidak akan menghasilkan sesuatu yang sempurna tanpa disiapkan terlebih dahulu, disanalah kebahagiaan itu muncul dikala berhasil atas segala perencanaan yang telah dipersiapkan.

Salah satu keutamaan Bulan Ramadhan adalah waktu diturunkannya Al Qur'an sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2]: 185; QS. Al-Qadr [97]: 1; QS. Ad-Dukhan [44]: 3). Hal ini diperkuat dengan riwayat Ibnu Abbas bahwa Al Qur'an diturunkan dari Lauhul Mahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadr Bulan Ramadhan, lalu diturunkan kepada Rasul saw. secara berangsur-angsur berdasarkan kejadian dan kondisi yang ada. Pada bulan ini Al Quran lebih banyak dibuka, dibacakan, diperdengarkan, dihafalkan, dikaji, dan yang lebih penting diamalkan. 

Keagungan Al Qur'an tidak hanya dilatarbelakangi asbabun nuzul yang istimewa, namun lebih dari itu Al Qur'an adalah kalamullah yang tidak ada tandingannya. "Tidakkah kalian memperhatikan Alquran? Seandainya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentu mereka bakal menjumpai banyak pertentangan di dalamnya" (TQS an-Nisa' [4]: 82) dan ayat lainnya (TQS al-Baqarah [2]: 23). Itulah mengapa Rasul saw. menjelaskan dalam sabdanya:

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ
"...Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw. ..." (HR. Muslim No. 867)

Karena itu membacanya digambarkan sebagai perniagaan yang tidak akan merugi (QS. Fathir [35]: 29-30), dipelajari dan diajarkannya termasuk sebaik-baik manusia (lihat riwayat Bukhari), mampu memberikan mahkota bagi orang tuanya kelak di akherat (lihat riwayat Abu Dawud), di akhir hidupnya akan menjadi syafa'at penolong baginya (lihat Riwayat Muslim). Bayangkan jika peluang emas itu dikerjakan pada Bulan Ramadhan yang pahalanya dilipatgandakan, sungguh merugi orang yang tidak menyadari akan keagungan Al Qur'an. Mushafnya hanya disimpan dalam tumpukan bukunya, dibiarkan berdebu di sela-sela lemarinya, bahkan sesekal dibuka hanya saat terlintas dalam fikirnya karena diminta ustadznya, parahnya bacaan merdu yang didengarnya justru hanya dianggap angin lalu yang tidak mempengaruhinya. 

Perlakuanmu tersebut terhadap Al Qur'an tak seperti perlakuanmu terhadap sahabat! Jadikan Al Qur'an sebagai pegangan, dimana kau takkan kuasa berdiri tanpa ada penopang. Jadikan Al Qur'an sebagai pengatur, maka dimanapun dan kapanpun kau akan selalu menganggapnya sebagai sahabat, tempat kau meminta pilihan dan memenuhi kebutuhan. Bukankah sudah dijelaskan dalam ayat yang sama tentang Ramadhan bahwa Al Qur'an adalah Al Huda (petunjuk) dan Al Furqan (pembeda; antara haq dan bathil) (QS. Al Baqarah [2]: 185). Keberadaannya laksana cahaya ketika gelap gulita, laksana pintu ketika dibutuhkan jalan keluar. Karenanya digambarkan oleh Sabda Rasulullah saw.
“Aku titipkan kepadamu sekalian dua perkara. Jika kamu pegang teguh kedua perkara tersebut, maka tidak akan pernah sesat selama-lamanya; yaitu kitab Allah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah saw." (HR. Bukhari dan Muslim)

Berikan yang terbaik untuk Al Qur'an selayaknya butuh sahabat, kemunculannya sangat dinantikan, keberadaannya sangat dibutuhkan, dan kehilangannya sangat merugikan. Penyakit daripada kita adalah saat kita tidak sadar telah mengabaikan Al Qur'an, mungkin terasa biasa padahal suatu hal yang tercela. 
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
"Berkatalah Rasul: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan'." (QS. Al Furqan [25]: 30)

Rasulullah saw. mengadukan perilaku kaumnya yang menjadikan Alquran sebagai mahjûr[an]. Mahjûr[an] merupakan bentuk maf'ûl, berasal dari al-hujr, yakni kata-kata keji dan kotor. Maksudnya, mereka mengucapkan kata-kata batil dan keji terhadap Alquran, seperti tuduhan Alquran adalah sihir, syair, atau dongengan orang-orang terdahulu (QS al-Anfal [8]: 31). Bisa juga berasal dari al-hajr yakni at-tark (meninggalkan, mengabaikan, atau tidak memedulikan). Jadi, mahjûr[an] berarti matrûk[an] (yang ditinggalkan, diabaikan, atau tidak dipedulikan) (Lihat: at-Thabari, 9/385-386).

Banyak sikap dan perilaku yang oleh para mufasir dikategori hajr al-Qur'ân (meninggalkan atau mengabaikan Alquran). Di antaranya adalah menurut al-Qasimi (7/425) menolak untuk mengimani dan membenarkannya; tidak men-tadaburi dan memahaminya; tidak mengamalkan dan mematuhi perintah dan larangannya; berpaling darinya, kemudian berpaling pada lainnya, baik berupa syair, ucapan, nyanyian, permainan, ucapan, atau tharîqah yang diambil dari selainnya; sikap tidak mau menyimak dan mendengarkan Alquran; bahkan membuat kegaduhan dan pembicaraan lain sehingga tidak mendengar Alquran saat dibacakan, sebagaimana digambarkan Allah SWT (Lihat QS Fushshilat [41]: 26).

Maka kenali betul siapa sahabat terbaikmu, sesuatu yang dapat menemanimu kala menempuh dinamisnya kehidupanmu. Mari luruskan posisi dalam menaruh Al Qur'an diantara jalur kehidupan kita, inilah pembimbing terbaik hidup kita (QS. Al Isra [17]: 9), mengamalkannya akan membentuk pribadi muslim yang sempurna (QS. Al Qashash [28]: 77), dengannya akan membangun masyarakat yang islami (QS. Al Furqan [25]: 28), dan menyatukan langkah umat dalam berjuang (QS. Al Furqan [25]: 52; QS. Ash Shaff [61]: 4).

Maka maksimalkanlah waktu di Bulan Ramadhan sebagai momen bercengkrama dengan hangat agar kau merasakan kenikmatan Al Qur'an. Apalagi di dalam Syarh Shiyam ini momentum puncak orang-orang berpuasa, dimana malaikat pun akan memintakan ampunan untuk orang yang berpuasa selama berpuasa hingga berbuka. Dan, Allah pun memberikan ampunan untuk mereka di akhir malam Bulan Ramadhan. Terdapat satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan (83 tahun). Tak ada semangat qiyamul lail yang tinggi selain di Bulan Ramadhan, tak ada gerakan ikhlas terbaik selain sedekah terbaik di Bulan Ramadhan. Maka wajar jika dalam Riwayat Ibn 'Abbas dituturkan bahwa Nabi adalah orang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadhan, saat Jibril menemui baginda saw. untuk mengecek hapalan al-Qur’an baginda saw.

Buatlah setiap sesi hari-hari kita sebagai momen terbaik dalam mendekatkan kita kepada Al Qur'an. Jadikan ia sebagai bagian hidup yang tidak bisa terpisahkan selayaknya jantung tak bisa hidup tanpanya, karena ia adalah penyembuh tiap penyakit hati-hati kita (QS. Yunus [10]: 57). Jadikan ia penentuk hukum setiap aktivtas kita (QS. Al Maidah [5]: 48). Peganglah erat sampai kita mati, jangan sampai Islam saat ini mati! Justru ia adalah pelindung dan penolong sejati kala kita masih diberikan sisa umur di dunia. Sebagaimana Firman-Nya.

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (QS. Al Baqarah [2]: 120)


Muhamad Afif Sholahudin
Bandung, 6 Ramadhan 1439 H / 22 Mei 2018
at 2.08 AM

Wednesday, 31 January 2018

Dibalik Spekulasi Investasi Emas Lembaga Syariah, Praktik Berkebun Emas


Siapa yang tidak tertarik dengan investasi emas? Benda yang harganya semakin tinggi, sifatnya likuid sehingga aman untuk simpanan, dan juga mudah dijadikan alat investasi. Cara yang paling sederhana dengan membeli emas batangan, simpan beberapa lama hingga beberapa tahun dan cairkan saat harga tinggi. Atau bisa juga melakukan trading emas sama-sama termasuk investasi jangka panjang. Tapi siapa sangka investasi emas tersebut bisa dilakukan di lembaga keuangan syariah yang menyediakan fasilitas gadai.

Gadai (rahn) di Perbankan Syariah maupun di Pegadaian Syariah adalah salah satu bentuk pembiayaan berbentuk utang piutang (qardh), dimana pihak kreditur (rahin) harus menyerahkan barang jaminan kepada debitur (murtahin). Produk gadai yang ditawarkan biasanya dikombinasikan dengan biaya pemeliharaan yakni akad sewa menyewa (ijarah) dimana pihak debitur (murtahin) mendapatkan keuntungan dari biaya pemeliharaan tersebut.

Praktik pegadaian pada lembaga syariah masih menjadi polemik ahli hukum, sebab ada beberapa unsur yang dipandang bertentangan dengan prinsip syariah. Seperti biaya pemeliharaan yang dianggap riba karena menarik manfaat dari pinjaman (qardh) yang diharamkan. Masalah lain seputar akad yang digabungkan (al-'uqud al-murakkabah) antara tabarru dan tijari yang tidak disepakati oleh para mujtahid. Namun satu realita yang harus kita terima bahwa praktik pegadaian syariah sudah berkembang di Indonesia. Disini saya tidak bahas sisi hukum pegadaian, sebab brebeda cara pandang melahirkan hukum yang berbeda. Apalagi sudah ada Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No. 26/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn Emas.

Praktik berkebun emas sejak beberapa tahun lalu sudah banyak diminati oleh pelaku investasi emas. Sejak awal mereka tertarik dengan produk pegadaian emas bukan karena pembiayaan yang dibutuhkan namun bertransaksi dengan maksud melakukan investasi. Mengapa bisa demikian? Karena emas yang kita gadaikan akan tersimpan dan dapat diambil kembali di kemudian hari setelah melunasi pinjaman yang diberikan, maka otomatis emas yang tesimpan beberapa tahun kemudian akan berbeda harganya jika dibandingkan emas saat digadaikan. Cara yang mereka gunakan dengan membeli emas yang lebih kecil dari yang mampu dibeli, kemudian digadaikan. Dana segar hasil transaksi gadai tersebut lalu dibelikan emas lain, kemudian digadaikan. Demikian seterusnya hingga batas kemampuan dana yang mereka miliki. Semakin banyak emas yang digadaikan maka akan semakin tinggi kemungkinan mendapatkan keuntungan dari selisih harga emas yang akan datang.

Ditengah harga emas yang terus melonjak setiap tahunnya, perkiraan keuntungan yang mereka peroleh akan besar. Biasanya tidak seluruh modal yang dimiliki digunakan untuk berkebun emas, namun disisakan untuk cicilan pinjaman dan biaya pengurusan barang gadai yang dibayarkan kepada murtahin untuk merawat emas yang dititipkan. Bila dihitung total cicilan pinjaman dan biaya kepengurusan akan terbayar sebanding dengan total harga emas yang digadaikan kemudian.

Dari praktik ini didapatkan beberapa pihak yang diuntungkan. Diantaranya pihak nasabah (rahin) yang menerima untung dari investasi emasnya, pihak bank atau pegadaian (murtahin) yang menerima biaya perawatan dan meningkatkan omset penjualan produk gadai perusahaan, dan terakhir pihak penjual emas yang terkadang menjalin kerjasama dengan pihak bank karena meminjam 'mulut' tukang emas untuk menginvestasikan emasnya ke dalam produk gadai. 

Meskipun pada akhirnya banyak bank yang menawarkan produk emasnya secara langsung kepada calon nasabahnya, bahkan mereka yang mensponsori seminar investasi seperti ini. Pihak bank akan lebih senang jika nasabah gada emasnya melakukan 'tanam' emas berkali-kali, hingga keluar Fatwa No. 77/DSN-MUI/V/2010 tentang Jual Beli Emas Secara Tidak Tunai. Dalam fatwanya disebutkan, "Emas yang dibeli dengan pembayaran tidak tunai boleh dijadikan jaminan (rahn)". Jadi, batas kemampuan keuangan investor yang membatasi investasinya akan semakin dipermudah dengan mencari kredit emas yang bisa 'ditanam' lagi di produk gadai syariah.

Praktik berkebun emas seperti ini bisa dikategorikan kepada praktik spekulasi dalam mencari keuntungan di akad produk syariah. Sifat emas yang fluktuatif membuat bisnis investasi emas justru merusak akad gadai syariah. Ini yang dikhawatirkan oleh Bank Indonesia untuk melarang praktik tersebut (https://bisnis.vivanews.com/berita/bisnis/281818-bi-tegas-larang-berkebun-emas). Praktik seperti ini adalah bentuk hilah (rekayasa) atau mencari celah agar bisa meraup keuntungan yang tidak halal, padahal hal itu tidak lain berupa siasat mendapatkan riba.

Hal ini bisa dianalogikan seperti kawin kontrak, mereka mengadakan akad serta saksi (buatan) dalam melancarkan perkawinannya. Hal itu tidak lain siasat membungkus keharaman dengan tata cara yang terlihat islami, padahal niat yang mereka bentuk bukan untuk membentuk keluarga namun ingin merasakan perzinahan. Atau praktik bai 'Inah, yakni membungkus akad kredit riba dengan sistem jual beli. Praktih hilah banyak jarang ditemui oleh kita di lapangan, sebab dari luar dibungkus rapi dengan label syariah agar terlihat boleh.

Satu hal yang akan menjadi polemik yakni kerugian dari investasi jenis ini yang bisa mengantarkan kepada perkara sengketa. Jika kasus terjadi dan menimbulkan sengketa maka akan terjadi ketidakjelasan kasus sebab status hukum dari praktik 'berkebun emas' seperti ini belum bisa dipastikan kebolehannya. Meskipun kemungkinan rugi dalam investasi emas adalah kecil, namun mengantisipasi kejadian itu penting agar tidak terjadi kekosongan hukum.

Wallahu a'lam bishowab.

Bandung, 29 Desember 2017
Muhamad Afif Sholahudin

Monday, 29 January 2018

Peran Akhlak Dalam Membangun Umat



Allah SWT telah menurunkan Islam sebagai seperangkat aturan yang menyeluruh untuk mengatur setiap sendi kehidupan. Islam yang diturunkan sudah sempurna, maka tidak ada lagi yang harus dirubah dari Islam. Perangkat yang lengkap itu berupa Al-Quran yang di dalamnya menjelaskan seputar aqidah, ibadah dan muamalah. Tiga hal ini menjadi pokok ajaran Islam yang harus difahami oleh manusia, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:

"(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan sholat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka." (QS. Al Baqarah: 3)

Tiga hal pokok yang dijelaskan dalam ayat ini sudah mewakili dasar ajaran Islam. Pertama, "beriman kepada yang ghaib" yakni menggambarkan eksistensi aqidah dan keimanan. Darimana anda percaya adanya surga atau malaikat padahal anda belum pernah melihatnya? Inilah esensi dari akidah, ada bagian dimana kepercayaan itu ditempatkan paling atas karena meyakini hal kebenaran yang berada diluar jangkauan akal manusia. Kedua, "mendirikan sholat" adalah wujud eksistensi ibadah. Sholat hanya salah satu ibadah dari sekian banyak ibadah yang allah perintahkan, inti dari badah merupakan bentuk ritual yang harus dijalankan dengan meksud persembahan hanya kepada Allah semata. Itulah mengapa kita rela berdiri sujud bergantian setiap lima kali sehari atau thawaf berkeliling ka'bah tujuh putaran selain kita niatkan karena ibadah. Ketiga, "menafkahkan sebahagian rezeki" yakni menggambarkan eksistensi muamalah dalam peduli terhadap sesama manusia dan aturan penguasaan harta. Dari terjemahan ayat ini saja sudah menggambarkan tiga dasar ajaran Islam, dimana saat keseluruhannya diamalkan dalam kehidupan seseorang maka orang tersebut telah menemukan jalan menjadi orang yang bertakwa sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat sebelumnya. lalu dimana akhlak dalam Islam?

Dari sisi hubungannya, manusia menjalin hubungan dengan 3 hal, yakni hubungan manusia dengan tuhannya, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesama manusia lainnya. Hubungan manusia dengan Khaliq-Nya tercakup dalam akidah dan ibadah. Hubungan manusia dengan dirinya tercakup akhlak, makanan/minuman dan pakaian. Sedangkan hubungan manusia dengan sesamanya tercakup dalam mu'amalat dan uqubat. Meskipun begitu, akhlak adalah bagian dari rincian hukum-hukum islam, berupa perintah dan larangan Allah SWT. Akhlak merupakan hasil dari pelaksanaan perintah-Nya, maka hal yang terpenting adalah dengan mengajak seorang individu kepada akidah dan melaksanakan islam secara sempurna. Akhlak merupakan tugas yang allah bebankan kepada Rasulullah SAW sebagai utusannya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits, “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Ahmad). Hadits ini diperkuat dengan firman-Nya:

"Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung." (QS. Al-Qalam: 4) 

Maka bentuk kesempurnaan akhlak adalah Islam yang dibawa oleh Rasul terdapat dalam as-sunnah, sirah, dsb. Walaupun akhlak adalah bagian dari hasil, tapi Nabi bukan berarti memfokuskan dakwahnya hanya untuk menyeru kepada akhlak saja. Rasul menggambarkan akhlak yang dikandung dalam ajaran yang dia bawa (yakni islam) adalah adalah satu-satunya akhlak yang sempurna, sebab dahulu orang-orang arab dikenal sebaik-baik akhlak karena tersisa di sisi mereka ajaran Nabi Ibrahim yang butuh disempurnakan. Akhlak dalam hadits ini tidak bisa dilepaskan dari konotasi Dinul Islam yang dibawa oleh Rasul, seandainya Rasul hanya mendakwahkan akhlak, tentu tidak akan terjadi pertentangan di tengah masyarakat saat itu karena beliau sudah dikenal sebagai orang yang jujur, amanah, berbudi pekerti luhur, dsb. Justru Rasul mendakwahkan tauhid dan syariat Islam yang menjadikan beliau dimusuhi dan dilupakan track record moral baik sebelumnya.

Syara' telah menjelaskan sifat-sifat yang dianggap akhlak baik (mahmudah) dan akhlak buruk (madzmumah). Syara' mendorong sifat jujur, amanah, berbakti kepada orang tua, rendah hari, sabar, menjaga kehormatan, mencintai sesama manusia, adil, dsb. Syara' pun menjelaksan sifat-sifat yang dilarang dan harus dijauhi, seperti berbohong, khianat, hasud (dengki), boros, memalingkan muka, dsb. Akhlak adalah bagian dari syariat Islam, akhlak akan nampak pada diri setiap muslim saat mereka mengamalkan sempurnanya ajaran Islam. Seperti sifat iffah (menjaga diri) adalah hasil dari pelaksanaan sholat. Sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45). Atau sifat jujur pada saat jual beli, meski nilai tersebut bukan berarti muncul setiap melakukan aktivitas jual beli. Sifat tersebut muncul sebagai hasil dari perbuatan, sebab tujuan berjual beli adalah materi yang didapat. Intinya, sifat itu muncul tatkala seorang muslim beribadah kepada Allah atau menjalankan mu'amalat. 

Untuk dapat merealisasikan akhlak secara utuh maka bukan berarti mendakwahkan akhlak semata, namun dengan jalan mewujudkan perasaan-perasaan yang islami dan pemikiran-pemikiran Islam. Ibarat dalam sebuah perusahaan, bagaimana caranya seorang direktur perusahaan membuat pekerjanya bekerja lebih giat, apakah dengan menjelaskan apa itu giat? atau dengan membuat aturan disiplin dan program kerja lainnya? tentu upaya yang dilakukan dengan cara berusaha menumbuhkan semangat pekerja, sebab giat adalah hasil dan yang dibutuhkan adalah jalan menuju giat tersebut. Begitupun masyarakat yang islami akan tumbuh saat perasaan dan pemikiran tentang kehidupan tumbuh dan tersebar menjadi dasar berfikir masyarakat. Akhlak sendiri hasil dari pemikiran, perasaan dan pelaksanaan peraturan yang ada. Ingat, unsur pembentuk suatu masyarakat adalah pemikiran, perasaan dan perbuatan yang disepakati. 

Suatu masyarakat yang mengakui bahwa mereka sudah islami, namun di satu sisi masih banyak perbuatan keji dan tercela. Akhlak buruk seperti itu tidak lain karena belum tumbuhnya perasaan dan perbuatan islami dalam masyarakat tersebut. Maka, dakwah kepada seruan perintah dan larangan Allah adalah prioritas utama, adapun akhlak akan muncul dirasakan saat kesadaran masyarakat itu sudah tumbuh. Bahkan bisa dipersalahsangkakan jika akhlak seseorang terlihat islami, namun salah satu dari aqidah, ibadah dan muamalah nya ada yang tidak terpenuhi. Sia-sia jika orang yang paling dermawan namun ada status kekafiran yang menyertainya, hartanya tidak akan dicatat sebagai kebaikan dan penolong baginya di akhirat. Begitupun muslim dengan akhlaknya yang baik harus dibarengi dengan ketundukan kepada hukum syara'. Logika yang salah jika memandang hati yang bersih dari seorang perempuan adalah hal penting, meskipun tidak menutup aurat. Padahal, kewajiban menggunakan jilbab bagi muslimah adalah kewajiban mutlak, tidak memandang apakah akhlaknya baik atau buruk. Begitupun dalam membangun umat akan memunculkan akhlak dari pelaksanaan aturan kepada syari'at-Nya, Terlebih lagi dapat sempurna jika mampu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya Islam dalam menjawab kehidupan. 

Wallahu a'lam bi showab

Bandung, 29 Januari 2018
Muhamad Afif Sholahudin