Showing posts with label Tadabbur Ayat. Show all posts
Showing posts with label Tadabbur Ayat. Show all posts

Saturday, 29 June 2019

Berbahagialah Mereka Yang Sudah 'Menyiapkan' Kuburannya


Ada perkataan indah yang disampaikan oleh Yahya bin Muadz Ar-Razi dan dikutip oleh Imam An Nawawi dalam kitabnya Nasha’ihul ‘Ibad, perkataannya berbunyi seperti ini: 

“Berbahagialah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya, yang membangun kuburannya sebelum memasukinya, dan yang ridha terhadap tuhan-Nya sebelum berjumpa dengan-Nya.” 

Dijelaskan oleh Imam An-Nawawi bahwa yang dimaksud: “Berbahagialah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya” adalah mereka yang menghabiskan harta untuk amal kebajikan sebelum harta itu Allah SWT cabut darinya. Dan yang dimaksud, “Yang membangun kuburannya sebelum memasukinya” adalah mereka yang memperbanyak amal shalih saat hidup di dunia sehingga ia bisa merasakan kedamaian di alam kubur saat kematiannya. Dan yang dimaksud, “Yang ridha terhadap tuhan-Nya sebelum berjumpa dengan-Nya” adalah mereka yang menjalankan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya sebelum menghadap Allah untuk mempertanggungjawabkan amalnya. 

Coba renungi lebih dalam sisa-sisa umur kita, apakah benar kita termasuk orang yang beruntung menerima kebahagiaan dunia? Saya sendiri pun kaget ketika melihat umur sendiri, "Kok begitu cepat ya waktu tak terasa umur sudah semakin tua." Hidup hanya dihabiskan untuk mencari harta, harta, harta. Banyaknya harta tidak menjamin kebahagiaan dunia, karena bahagia tidak bisa diukur oleh harta. Atau mungkin di antara kita banyak menghabiskan sesuatu yang tidak bermanfaat, bahkan untuk kemaksiatan. 

Ada yang sanggup membeli segelas kopi dengan harga puluhan ribu tapi begitu susah mengeluarkan selembar 5 ribuan untuk bersedekah. Ada yang begitu mudah dan sering membeli kamar hotel mewah dengan biaya jutaan semalamnya, tapi begitu susah ketika adzan berkumandang mengayuh kaki agar menuntunnya ke masjid padahal masuk masjid tidak bayar . Ada yang begitu mudah membangun rumah mewah, gedung bertingkat, tapi betapa berat bagi dia untuk menyumbang pembangunan masjid padahal lokasinya berada di dekat rumahnya. 

Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua perkara yang tidak disukai oleh anak Adam. Pertama, anak adam tidak menyukai kematian, padahal kematian itu lebih baik bagi seorang mukmin daripada fitnah. Kedua, anak adam tidak menyukai sedikitnya harta, padahal sedikitnya harta meringankan penghisaban.” (HR. Ahmad) 

Terlena dengan sedikitnya nikmat dunia, namun terlena dengan luasnya nikmat akhirat. Menyesal kita berjuang saat berjuang mati-matian untuk sesuatu yang tidak akan dibawa mati. Saat hari esok (kematian) itu tiba, barulah sadar bahwa yang kita lakukan hanyalah sebuah kesia-siaan yang berujung kepada penyesalan. Astagfirullahal‘adzim.. 

Allah SWT pernah memperingatkan kita dalam Firman-Nya: 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَاۚ وَٱللَّهُ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ 

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Munafiqun: 9-11) 

Salah satu alasan utama manusia saat meninggal memohon agar bisa bersedekah adalah disebabkan sisa umurnya hanya dihabiskan untuk mencari dunia, sedangkan hanya harta yang ia punya untuk menyelamatkannya. Ilmu sedikit, ibadah pun tidak lama. Namun ketika harta banyak, tapi lupa untuk disyukuri dengan banyak bersedekah. 

Banyak orang berlomba-lomba membangun bangunan di dunia padahal hanya untuk hidup sementara saja, namun tidak banyak yang tertarik berlomba ‘membangun kuburan’ mereka dengan memperbanyak amal shalih untuk bekal di dalamnya. Padahal kuburan itulah rumah abadi kita, tempat tinggal di kehidupan kedua. Betapa banyak orang sibuk dengan aktivitasnya padahal kain kafannya sudah dirajut untuk kita. 

Banyak yang tidak mengerjakan perintah Allah dan justru mengerjakan larangan-Nya seakan-akan ia ia hanya bertemu dengan rabb-Nya di hari akhir nanti, padahal sejatinya pertemuan pertama yang ia jumpai akan ditanya apa saja yang dia lakukan di dunia. Terlena dengan dunia namun lupa akhirat. 

Seharusnya kita berharap sebagaimana harapan Abu Bakar kepada tuhan-Nya, “Jadikan dunia ini di genggamanku, bukan di hatiku.” Betul dan sesuai realitas. Bahwa dunia jika dalam genggaman mudah untuk diatur dan dilepas. Berbeda jika sudah melekat di hati, sulit untuk diatur dan sulit untuk dilepas. 

Banyaklah beramal sebagaimana kamu merasa pesimis dengan amalmu. Begitulah kira-kira nasehat sahabat terdahulu, “Hiduplah kalian di dunia sebagaimana kalian akan hidup selamanya, dan beribadahlah kalian di dunia sebagaimana kalian akan mati esok.” Mencari nikmat dunia tidak aka nada habisnya, maka jangan terlalu rakus karena mungkin masih ada hari esok. Namun merasa rakuslah ketika beramal karena mungkin ini adalah amalan terakhir kita. 

Agar kita tidak terjebak dengan perilaku buruk di atas, alangkah baiknya kita selalu merasa pesimis dan berkecil hati menilai diri sendiri dan amal bekal masing-masing. Syaikh Abdul Qadir Jailani pernah bertutur nasehat: 

1. Kalau anda berjumpa dengan seseorang, anda lihat keutamaan dan keunggulan dirinya daripada anda, serayaberkata, “Bisa jadi Allah menjadikan dia lebih baik dan lebih tinggi derajatnya daripada aku.” 
2. Kalau anda berjumpa dengan yang lebih muda, berkatalah, “Bisa jadi ia lebih baik daripada aku, karena ia lebih sedikit maksiat ketimbang aku.” 
3. Kalau anda berjumpa dengan yang lebih tua, berkatalah, “Bisa jadi ia lebih baik daripada aku, karena ia lebih lama beribadah ketimbang aku.” 
4. Kalau anda berjumpa dengan orang berilmu, katakanlah, “Bisa jadi ia lebih baik daripada aku, mendapat karunia yang tidak aku peroleh, mengetahui banyak hal yang tidak aku ketahui dan mengamalkan ilmunya.” 
5. Kalau anda berjumpa dengan orang bodoh/awam, berkatalah, “Bisa jadi ia lebih baik daripada aku, karena maksiat ia disebabkan ketidaktahuan dan ketidaksadarannya, sedangkan jika aku bermaksiat tentu dengan sepenuh pengetahuan dan kesadaranku.” 

Sikap rendah hati dan tahu diri, karena bisa jadi ada amal yang belum tentu sudah kita amalkan, tapi cukup kita anggap orang lain sudah mengamalkan. Dengan begitu, kita terpacu untuk berbuat amal kebaikan, meninggalkan yang buruk, karena kita menganggap diri kita kurang pahala tapi banyak dosa. Seandainya kita disibukkan dengan aktivitas-aktivitas penuh kebajikan, maka tak sempat waktu kita untuk mengerjakan keburukan. 

Tujuan kita bukan terlihat mulia di dunia, karena manusia bukanlah standar penilaian. Biarkan Allah yang menilai siapa diri kita, pantaskah dimasukkan di surganya. Benar kata imam Ali, “Jadilah anda besar (mulia) di mata Allah, dan kecil di mata manusia.” 


Paris Van Java, 29 Juni 2019
Bandung, 27 Syawwal 1440 H
Muhamad Afif Sholahudin


Saturday, 13 October 2018

Muhasabah Kala Tertimpa Musibah


Musibah terus menghampiri berbagai daerah di penjuru negeri. Sebelumnya diperingatkan dengan gempa seperti di Lombok, belum cukup diperingatkan kembali dengan bertambahnya bencana gempa tsunami di Palu. Rasa duka seakan belum usai terobati karena musibah yang datang silih berganti, namun rasa cemas seakan sudah menghantui di beberapa daerah karena peringatan dini gerakan tanah dan gunung meletus sudah mencapai titik rawan. 

Duka nestapa takkan berarti jika berbekas hanya pada materi, membuat orang banyak menyumbang bantuan tapi tetap hati tak merasa sedang diperingati. Padahal kesedihan mereka adalah kesedihan kita, peringatan bagi mereka juga adalah peringatan bagi kita. Peduli terhadap saudara sesama adalah upaya untuk menyelamatkan kita juga. Seandainya ada bagian bawah perahu bocor maka tugas menutupi lubang bukan hanya dipikirkan oleh penumpang bawah karena tenggelam akan menimpa seisi kapal. Maka kekhawatiran mereka adalah panggilan kepedulian kita, termasuk peduli terhadap nasib negeri yang terus ditimpa musibah. 

Namun dapatkah musibah yang terjadi mampu menambah ketakutan kita kepada Allah SWT karena segala fenomena alam yang menimpa tidak lepas dari kemahakuasaan-Nya. Dia berhak menimpakan karena sebab perbuatan manusia. Dalam firman-Nya dijelaskan, "Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, maka itu karena (kesalahan) dirimu sendiri." (TQS. An Nisaa [4]: 79) 

Seandainya bencana di negeri ini ditimpakan karena dosa kita, maka harus bagi kita muhasabah sebagai langkah introspeksi menghindari segala pintu dosa. Beranikah negeri ini sadar kemaksiatan kepada Allah adalah keburukan bagi masa depan bangsa? Seharusnya sadar musibah terbesar bagi kita bukanlah musibah alam namun musibah agama, dimana orang lari dari agama dan memilih manusia sebagai penentu arah kehidupan. Seperangkat hukum Islam yang diturunkan namun diingkari dengan menerapkan hukum manusia. Bukankah wajar jika Allah menghukum suatu negeri karena kedurhakaan manusia di dalamnya? 

Sebagaimana firman Allah SWT, "Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman kami), kemudian kami binasakan sama sekali (negeri itu)." (TQS. Al Isra [17]: 16) 

Mudah bagi Allah menghancurkan segala infrastruktur yang manusia banggakan, jangankan seluas negeri ini, bahkan jika Dia berkehendak dalam sekejap seluruh isi bumi ini pun bisa dihancurkan. Lantas bagaimana kita ingin mendapat pertolongan dan ampunan jika terus mempertahankan kemaksiatan meluas, perzinahan dilegalkan, riba disuburkan, kriminalitas dimanfaatkan, dan hukum manusia penjajah masih digunakan. Bagaimana bisa kemakmuran negeri ini justru tidak membawa berkah, namun yang datang justru musibah. 

Gempa bumi merupakan peringatan dari Allah bukan kehendak alam. Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata: "Allah Subhanahu wa Ta'ala mengizinkan untuknya maksudnya bumi kadang-kadang untuk bernafas, lalu muncullah gempa besar padanya, dari situ timbullah rasa takut, taubat, berhenti dari kemaksiatan, merendahkan diri kepada-Nya, dan penyesalan pada diri hamba-hamba-Nya, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama Salaf ketika terjadi gempa bumi, "Sesungguhnya Rabb kalian menginginkan agar kalian bertaubat." (Miftah Daaris Sa’adah, 2/630) 

Padahal Allah SWT sudah memperingatkan, "Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (TQS. Al A'raaf [7]: 96) 

Umar bin khattab ra pernah mengatakan, “hisablah dirimu sebelum kalian dihisab, timbanglah amalmu sebelum ditimbang, karena sesungguhnya yang akan meringankan hisabmu nanti adalah saat engkau menghisab hari ini. Dan berhiaslah untuk pertemuan hari akbar, hari saat dipamerkan segala amal, dan tidak ada keringanan sedikitpun atas kalian." 

Maka saat ini yang harus dilakukan adalah muhasabah lalu pembenahan, baik pembenahan fisik dan materi maupun pembenahan batin dan sikap. Korban bencana adalah saudara kita juga maka bantulah mereka dengan kesanggupan yang kita punya. Seandainya para korban adalah diri kita atau sanak saudara kita tentulah bantuan terbaik yang akan kita berikan. Di sinilah kesabaran dari ujian itu terlihat. Di balik bencana ada peringatan moral, termasuk maksiat yang masih terpelihara. Itulah mengapa Umar bin Abdul Aziz didapatkan ketika terjadi gempa langsung menyurati para gubernurnya agar bertaubat dan banyak bersedekah di jalan Allah. 

Pesan kemanusiaan dibalik musibah alam adalah persatuan dalam kepedulian nasib sesama. Tak peduli ormas dan pilihan politik, siapapun berhak membantu dan siapapun wajib ditolong. Sedangkan pesan bagi negeri adalah persatuan dalam ukhuwah dan ketaatan kepada Allah SWT. Kita adalah umat yang lemah dan tak berdaya, tak pantas sombong dengan menolak apa yang telah diperintahkan-Nya. Penting dalam setiap ujian tidak hanya alasan kedatangannya, juga sikap kita menghadapi ujian apakah disikapi dengan ketaatan atau kemaksiatan.

Bandung, 8 Oktober 2018

Wednesday, 24 January 2018

Download Indeks Al-Qur'an Termudah

Bagi sebagian penulis atau penceramah yang membutuhkan referensi Al-Quran tentunya membutuhkan sebuah indeks yang memudahkan mencarinya. Biasanya metode pencariannya berdasarkan pembahasan yang ingin dicari, pembahasan dari yang umum sampai yang khusus, lalu dari pembahasan itu dicari mana saja ayat yang berkaitan dengan pembahasan tersebut. Jika ingin membaca keseluruhan isi Al-Quran beserta artinya tentu akan memakan waktu lama, sedangkan fitur pencarian pada aplikasi Al-Quran yang ada justru hanya menyediakan fitur pencarian kata terjemahan jadi tidak akan sempurna mencari ayat-ayat yang berkesinambungan.

Adanya indeks Al-Quran bukan hal baru bagi masyarakat, bahkan sebagian besar sudah banyak yang membuat buku khusus membahas penjelasan dari tiap poin yang dibagi dalam indeks Al-Quran. Oleh karena itu, akhirnya saya menemukan satu indeks Al-Quran yang cukup mudah digunakan. Bentuknya berupa file Office Excel jadi bisa dibuka di laptop atau smartphone kalian, tidak perlu mendapatkan akses internet untuk membukanya, apalagi seperti berbentuk aplikasi yang hanya dapat dibuka di perangkat tertentu. Apalagi beberapa ada yang berbayar sehingga memberatkan bagi mereka yang membutuhkan yang hanya sekedar sekali atau dua kali pakai saja.

Indeks ini disajikan berdasarkan surat, berdasarkan pembahasan, atau berdasarkan juz. Di dalamnya dijelaskan beberapa pembahasan umum dan pembahasan khusus lainnya, semisal tentang:
  • Iman
  • Ilmu
  • Bangsa-bangsa terdahulu
  • Sejarah
  • Al-Quran 
  • Akhlak dan adab
  • Ibadah
  • Makanan dan minuman
  • Pakaian dan perhiasan
  • Hukum privat
  • Muamalat
  • Peradilan dan hakim
  • Hukum pidana jinayah
  • Jihad 
Saya dapatkan indeks Al-Quran ini dari sumber lain, maka saya sangat berterima kasih kepada yang telah membuatnya. Di dalamnya tidak dicantumkan author sehingga saya kesulitan mencari pembuatnya. Karena ini adalah manfaat yang tidak boleh disimpan sendiri, ada baiknya saya share supaya bisa menjadi amal jariyah khususnya bagi yang membuatnya. Aamiin..

screenshot

Thursday, 23 November 2017

Menafkahkan Harta Yang Dicintai



Tadabbur Surat Al Baqarah Ayat 267

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا كَسَبۡتُمۡ وَمِمَّآ أَخۡرَجۡنَا لَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِۖ وَلَا تَيَمَّمُواْ ٱلۡخَبِيثَ مِنۡهُ تُنفِقُونَ وَلَسۡتُم بِ‍َٔاخِذِيهِ إِلَّآ أَن تُغۡمِضُواْ فِيهِۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ ٢٦٧ 

267. Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji


Asbabunnuzul

QS Al-Baqarah, 2: 267

Diriwayatkan dari Jabir bahwasanya Rasulullah saw. memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menunaikan zakat fitrah dengan kurma. Lalu, datanglah seseorang yang menunaikan zakatnya dengan yang buruk-buruk. Maka dari itu, turunlah ayat ini. Diriwayatkan pula dari lbnu Abbas bahwa para sahabat Rasulullah saw. biasa membeli kurma yang murah kemudian menyedekahkannya. Lalu, turunlah ayat ini. (Lubabun Nuqul: 38)


Khazanah Pengetahuan

Qs. Al-Baqarah 2: 267

Menafkahkan Harta yang Dicintai

Allah telah menyatakan dalam salah satu firman-Nya bahwa menafkahkan harta yang dicintai merupakan amalan yang terbaik. Hanya dengan cara inilah, dapat dilihat apakah seseorang itu benar-benar bisa menjadi bertakwa.

"Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui." (QS Ali Imran, 3: 92).

Walaupun dapat mengorbankan segala sesuatu yang dimilikinya, seseorang mungkin masih memiliki hasrat yang melekat terhadap harta yang dimiliknya sehingga masih ada keengganan untuk menafkahkan harta tersebut. Atau, ketika ia membagikan hartanya kepada saudara muslimnya, bisa jadi ia lebih mengutamakan dirinya sendiri daripada saudaranya. la menyimpan harta yang paling berharga untuk dirinya sendiri dan memberikan yang tersisa bagi saudaranya.

Meskipun demikian, hati kecilnya mengingatkannya bahwa dengan menafkahkan apa-apa yang dicintainya adalah jauh lebih berharga dan lebih baik. Akan tetapi, hasrat seperti ini yang ada dalam dirinya, akan menghambat perilaku yang sesuai dengan kebaikan akhlaknya dan menghambatnya untuk beramal dengan ikhlas dan tulus. (Harun Yahya, Keikhlasan Dalam Telaah Al Qur'an, 2003)


Tasir At Tabari

Maksud ayat ini adalah Allah Swt. menganjurkan kepada hamba-Nya agar bersedekah dan berzakat wajib atas mereka. Harta yang dimiliki mereka terdapat hak orang yang layak diberi sedekah. Allah Ta'ala memerintahkan agar mengeluarkan harta yang baik dan berkualitas. Hal ini, karena penerima sedekah merupakan bagian dari pemilik harta yang wajib disedekahkan.

Sebab itu, penerima dan pemberi sedekah bersekutu dalam harta tersebut. Masing-masing mendapatkan jatahnya sesuai dengan bagiannya, dan janganlah salah satu di antara keduanya melarang yang lain untuk mendapat hak dari harta tersebut. Para muzakki dilarang memberikan harta yang buruk kepada penerima zakat, atau bahkan melarang mereka mendapatkan haknya, sebab mereka juga merupakan pemilik sebagian harta tersebut. Begitupun, jika pemilik harta hanya memiliki harta yang buruk, maka penerima zakat mendapatkan harta yang berkualitas serupa. Juga tidak lantas memberikan harta yang baik kualitasnya tapi dari harta yang bukan haknya.

Namun jika seseorang memberi sedekah yang tidak diwajibkan, hendaklah memberikan harta yang berkualitas dan baik. Karena Allah Swt. lebih berhak untuk ditaqarrubi dengan harta yang paling baik. Sedangkan sedekah merupakan usaha seorang Mukmin untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tidak berarti diharamkan seseorang yang bersedekah dengan harta yang tidak berkualitas, sebab bisa saja harta yang kurang kualitasnya, lebih bermanfaat karena banyaknya, lebih besar dibutuhkannya, dan lebih diperlukan oleh orang miskin. Daripada memberikan harta yang berkualitas, tapi sedikit atau kecil dibutuhkannya atau sangat sedikit kemanfaatannya bagi penerima. (Tafsir At-Tabari Jilid lV, 2001: 694-711)


Tafsir Ibnu Kasir

Ayat ini berisi kabar gembira bagi orang-orang yang mau bersedekah dengan sesuatu yang baik Sedekah bisa berupa barang, sayuran, buah dan sebagainya. Allah Swt. selalu menyerukan kepada mereka agar sepenuh hati dalam beramal Keikhlasan beramal dapat ditunjukkan dengan menginfakkan sesuatu yang baik. Jika menginfakkan sayuran atau buah-buahan, misalnya, hendaknya ia memilih sayur atau buah yang berkualitas tinggi. Allah Swt. Maha baik dan menyukai sesuatu yang baik pula.

lbnu Jarir meriwayatkan dari Bara bin Azib bahwa ayat ini ditujukan kepada sahabat Anshar. Saat panen kurma, mereka memilih yang baik dan kemudian disimpan Jenis kurma yang jelek kemudian dikeluarkan dari keranjang dan diikat dengan tali. Kurma yang jelek tersebut lalu dibawa ke masjid dan digantungkan agar dimakan oleh kaum fakir dari sahabat Muhajirin. Allah Swt. kemudian menurunkan ayat ini.

Dalam ayat ini, Allah Swt. menegur orang yang suka menginfakkan barang "sisa". Teguran ini bisa diungkapkan dengan bahasa lain, ”Bagaimana Allah bisa ridha dengan sesuatu yang mereka sendiri tidak ridha." Dalam ayat lain Allah Swt. berfirman sebagai berikut. "Kamu tidak akan memperioleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui" (QS Ali 'lmran 3: 92)

Diakhir ayat dijelaskan, Allah Swt adalah Zat Mahakaya yang tidak membutuhkan apa pun dari hamba-Nya, (AI-Misbah AI-Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir, 1999: 152)


Hadis Shahih

Qs. Al Baqarah, 2: 265

Abu Hurairah r.a mengatakan bahwa Nabi saw. bersabda, "Tidak satu hari pun seorang hamba memasuki pagi harinya melainkan dua malaikat turun. Lalu, salah satu dari keduanya berdoa, 'Ya Allah berikanlah ganti kepada orang yang menginfakkan (hartanya)' Malaikat yang lain lagi berdoa, 'Ya Allah, berikanlah kehancuran kepada orang yang menahan (infak)'" (HR Bukhari, 718)


Friday, 10 November 2017

Pelajaran Penting dalam Kematian



Tadabbur Al Ankabut Ayat 56-57

يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ أَرۡضِي وَٰسِعَةٞ فَإِيَّٰيَ فَٱعۡبُدُونِ ٥٦ كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۖ ثُمَّ إِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ٥٧ 

56. Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja

57. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan


Asbabun Nuzul

QS Al-‘Ankabut, 29: 56

Ketika kaum muslimin hendak meIaksanakan perintah hijrah ke Madinah, mereka merasa khawatir bila meninggalkan Mekah, mereka akan mendapatkan keadaan yang lebih suIit, seperti kelaparan dan kekurangan harta benda. Maka dari itu, turunlah ayat ini sebagai jaminan dari Allah dan supaya kepada Allah mereka mengabdi. (At Tafsir AI Wajiz 'ala Hamisil Qur'anil 'Azdim, 404)


Khazanah Pengetahuan

Qs. Al 'Ankabut, 29: 57


Pelajaran Penting dalam Kematian


”Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan." (QS Al-‘Ankabut, 29: 57)

Kematian bukanlah "bencana" yang harus dilupakan, melainkan pelajaran penting yang mengajarkan manusia kepada arti hidup yang sebenarnya. Dengan demikian, kematian seharusnya menjadi bahan pemikiran yang mendalam. Seorang muslim akan benar-benar merenungi kenyataan penting ini dengan kesungguhan dan kearifan. Mengapa semua manusia hidup pada masa tertentu dan kemudian mati?

Semua makhluk hidup tidak akan kekal. Ini menunjukkan bahwa manusia tidak memiliki kekuatan dan tidak mampu menandingi Kekuasaan Allah. Allah-Iah satu-satunya Pemilik kehidupan; semua makhluk hidup dengan kehendak Allah dan akan mati dengan kehendak-Nya pula, seperti dinyatakan dalam Al Qur'an QS. Ar-Rahman, 55: 26-27.

Setiap orang akan mati. Namun, tidak seorang pun dapat memperkirakan di mana dan kapan kematian akan menghampirinya. Tidak seorang pun dapat menjamin ia akan hidup pada saat berikutnya. Karena itu, seorang muslim harus bertindak seolah-olah mereka sebentar lagi akan didatangi kematian. Berpikir tentang kematian akan membantu seseorang meningkatkan keikhlasan dan rasa takut kepada Allah, dan mereka akan selalu menyadari akan apa yang sedang menunggunya, sesuatu yang pasti datangnya, tidak bisa ditunda tidak bisa pula di segerakan. (Harun Yahya. Nilai-Nilai Moral Al-Qur’an, 2004)


Tafsir At Tabari
Allah Swt menegaskan kepada orang-orang mukmin yang menjadi pengikut Nabi Muhammad saw; "Berhijrahiah kalian dari negeri syirik, dari Mekah ke negeri damai Madinah; Karena sesungguhnya Bumi-Ku sangatlah luas terbentang, bersabarlah kalian dalam rangka menyembah-Ku. Ikhlaskanlah kalian daIam taat kepada-Ku karena sesungguhnya kalian akan mati dan kembali kepada-Ku. Sesungguhnya setiap jiwa yang hidup akan merasakan kematian dan hanya kepada Kami lah setelah kematian itu semuanya akan dikembalikan." (Tafsir At-Tabari Jilid XVIII 2001; 435)


Tafsir Ibnu Kasir


lni adalah perintah dari Allah Swt. kepada hamba-hamba-Nya untuk hijrah dari negeri di mana mereka tak bisa melaksanakan agama ke bumi Allah yang luas. Bumi di mana mereka bisa menegakkan agama; mengesakan Allah dan menyembah-Nya sesuai dengan perintah-Nya. Oleh karena itu, Allah Swt. berfirman, Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman Sungguh, Bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku (saja) Karena itu, ketika posisi 'orang-orang yang lemah di Mekah semakin melemah, mereka melakukan hijrah ke negeri Habasyah agar mereka bisa melaksanakan agamanya dengan aman. Mereka mendapatkan orang-orang yang menyambutnya dengan baik di sana, yakni Ashamah An-Najasyi, Raja Habasyah. la menyambut dan memberikan pertolongan kepada mereka. la menjadikan mereka sebagai orang-orang yang istimewa di negerinya. Setelah itu, Rasulullah saw. dan sahabat-sahabat lainnya hijrah ke Madinah Munawwarah, Yatsrib yang suci,

Firman Allah, (Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan) Artinya di mana pun kamu sekalian berada, maut pasti akan menjemput. Maka taatlah kepada Allah Swt., seperti yang diperintahkan oleh-Nya. Hal itu lebih baik bagi kamu sekalian, sebab kematian adalah pasti dan sesuatu yang takvbisa dihindari. Kepada Allah-Iah tempat kembali dan tempat berlabuh. Barang siapa yang taat kepada-Nya. Dia akan membalasnya dengan balasan yang paling baik dan memberinya pahala yang paling sempurna. Sebab itulah Allah Swt. berfirman, (Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, sungguh, mereka akan Kami tempatkan pada tempat-tempat yang tinggi (di dalam surga), yang mengalir di bawahnya sungai-sungai) Artinya Kami akan tempatkan mereka di tempat yang tinggi di surga, di bawahnya sungai mengalir dengan berbagai macam jenis; air, khamar, madu, dan susu. Mereka bisa membentuknya dan mengalirkannya sesuai dengan kehendak mereka.

Firman Allah, (Mereka kekal di dalamnya) adalah mereka tinggal di sana selamanya dan tidak ingin berbuat hal lain. Maksud firman Allah, (ltulah sebaik-baik balasan bagi orang yang berbuat kebajikan) adalah keindahan kamar-kamar ini merupakan balasan bagi perbuatan orang-orang yang beriman, ((yaitu) orang-orang yang bersabar) atas agama mereka. Mereka hijrah kepada Allah meninggalkan keluarga dan kerabat untuk mencari ridha Allah.

Abu Malik Al-Asy'ari menceritakan, Rasulullah saw. pernah bercerita kepadanya bahwa di surga terdapat kamar-kamar yang bisa dilihat sisi dalamnya dari Iuar dan sisi luarnya dari dalam. Allah menyediakan kamar-kamar itu untuk orang-orang yang dermawan, berkata baik, melaksanakan shalat dan puasa, dan melakukan shalat malam saat orangorang lain tidur. (AI-Misbah AI-Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir, 1999: 831)


Hadis Shahih


Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata. Rasulullah saw. bersabda “Sesungguhnya pada jintan hitam itu terdapat obat untuk segala macam penyakit kecuali kematian" (HR Muslim, 4104)

Thursday, 2 November 2017

Setan Berusaha Menghalangi Manusia untuk Menyadari dan Berbuat Kebaikan


Tadabbur Surat Al Baqarah Ayat 44

۞أَتَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبِرِّ وَتَنسَوۡنَ أَنفُسَكُمۡ وَأَنتُمۡ تَتۡلُونَ ٱلۡكِتَٰبَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ٤٤ 

44. Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir


Asbabun Nuzul
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini turun berkenaan dengan segolongan Yahudi di Madinah. Di antara mereka ada yang berkata kepada saudara kandung, kerabat, dan saudara-saudara sesusunya dari kaum muslimin agar mereka tetap dalam agama Muhammad yang telah dianutnya dan menaatinya. Mereka menyuruh orang Iain, tetapi diri mereka tidak melakukannya. (Lubabun NuquI: 9)


Khazanah Pengetahuan

Setan Berusaha Menghalangi Manusia untuk Menyadari dan Berbuat Kebaikan


Di dalam Al-Qur‘an, Allah mengatakan bahwa setan sangatlah kufur dan suka melawan. Kita juga belajar dari AI-Qur‘an bahwa setan akan mendekati manusia dari setiap arah dan ia akan berusaha dengan segala cara untuk membawa manusia kepada kebejatan moral. Metode yang paling sering dilakukan setan dalam rencana jahatnya adalah menghalangl manusia dari melihat kebaikan dalam segala peristiwa yang menimpanya.

Dengan cara demikian, ia juga berusaha untuk menyesatkan manusia kepada pemberontakan dan kekufuran. Orang yang tidak mampu memahami keindahan akhlak Al Qur‘an akan jauh dari ajaran Islam dan mereka yang menghabiskan hidup mereka untuk mengejar kesiasiaan dan melupakan akhirat akan mudah jatuh ke dalam perangkap setan.

Seseorang harus melatih kesabarannya supaya ia dapat berusaha melihat kebaikan dalam semua peristiwa, untuk menunjukkan ketundukan dan kepercayaannya kepada Allah. Ketidakmampuan untuk melatih kesadaran seseorang hanya akan membawa kepada sikap yang salah (Iihat QS Al-Baqarah, 2: 268, Al-A’r'af, 7: 200-201).

”Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui." (QS AI-Baqarah, 2: 268). (Harun Yahya, Melihat Kebaikan di Segala Hal, 2004).


Tafsir At Tabari

Pada dasarnya para ahli tafsir sepakat bahwa (Mengerjakan kebajikan) berarti segala bentuk ketaatan kepada Allah Namun, ketaatan macam apa yang dimaksud kata (Mengerjakan kebajikan) dalam ayat ini? Para ahli tafsir berbeda pendapat; Menurut lbnu 'Abbas, (Mengerjakan kebajikan) dalam ayat ini adalah iman kepada Nabi Muhammad saw., masuk agamanya dan mengikuti ajarannya. Sedangkan menurut lbnu Juraij adalah shalat dan puasa. Adapun menurut As Saddi adalah taat kepada Allah. Sedangkan menurut Qatadah adalah taat dan takwa kepada Allah serta berbuat kebaikan.

Walaupun para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai makna kata (Mengedakan kebajikany) dalam ayat ini, menurut At Tabari, semuanya sepakat bahwa ayat ini merupakan teguran kepada kaum (Bani lsrail dan kaum mana pun termasuk Umat Isiam) yang menyuruh manusia kepada perkataan dan perbuatan yang diridhai AIIah, tapi mereka melupakan diri sendiri. Karena Itu menurut Ibnu Juraij sudah sepatutnya yang menyeru kepada kebaikan untuk terIebih dahulu mengamaikan.

Kalimat (Tidakkah kamumengerti?) pada akhir ayat ini adalah ceIaan, terhadap Bani lsrail, karena menyuruh orang Iain berbuat kebaikan, padahaI mereka sendiri tidak melakukan. Mereka meIarang orang Iain berbuat keburukan, tapi mereka sendiri suka meIakukan. Mereka menyeru manusia agar beriman kepada Nabi Muhammad dan tisaIahnya, namun mereka sendiri mengingkari. Tidakkah mereka menyadari betapa buruknya perbuatan itu. (Tafsir At-Tabari Jilid 1, 2001: 613-617)


Tafsir Ibnu Kasir


Dalam ayat ini Allah Swt. menegur Ahlul Kitab yang selalu memerintahkan kebaikan, tetapi tidak pernah melakukannya. Mereka telah memahami kebenaran yang dianjurkan Allah Swt., lalu mereka menyerukannya kepada orang lain tetapi mereka justru melakukan pembangkangan terhadap Allah Swt. Mereka lbarat orang buta tetapi memerintahkan orang lain untuk melihat.

Abdurrazzaq meriwayatkan dari Qatadah bahwa dalam ayat ini, Bani lsrail memerintahkan orang lain untuk selalu bertakwa kepada Allah Swt. dan melakukan kebaikan, Akan tetapi mereka sendiri tidak konsisten dengan ucapan mereka ltu. As-Saddi dan lbnu Juraij menegaskan Ahlul Kitab dan kaum munafik memerintahkan umat manusia agar menunaikan shalat, puasa, zakat, dan selalu menyerukanagar beramal shaleh, namun mereka sendiri tidak melakukan semua itu.

Muhammad bin lshaq meriwayatkan dari lbnu ’Abbas bahwa mereka justru lalai dan melupakan keadaan diri mereka yang telah melakukan pembangkangan terhadap syariat Allah SWT. Mereka mengingkari kenabian dan melanggar syariat yang ada dalam kitab Taurat. lntinya, mereka tidak konsisten dengan seruan mereka kepada orang lain. Dengan ayat ini, Allah Swt. mengecam tindakan yang mereka lakukan yang selain menyerukan amar makruf, tetapi mereka sendiri tidak membenahi sikap mereka. Melakukan amar maruf nahi mungkar adalah perbuatan mulia, tetapi menjadi tercela jika orang yang melakukannya tersebut justru meiakukan pembangkangan terhadap syariat yang mereka serukan (Al-Misbah Al-Munir fi Tahzib Tafsir lbnu Kasir, 1999: 46-47)


Hadis Shahih


Dari An Nawwas bin Sam'an, Ia berkata "Aku pernah bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan? Beliau menjawab "Kebajikan itu adalah akhlak yang mulia sedang, dosa itu adalah apa yang berada di dalam dadamu sedang kamu merasa benci orang-orang mengetahuinya." (HR Muslim, 4632)

Tuesday, 31 October 2017

Ganjaran Atas Kedzaliman Karena Membela Agama Allah SWT



Tadabbur Surat An Nahl Ayat 41

وَٱلَّذِينَ هَاجَرُواْ فِي ٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ مَا ظُلِمُواْ لَنُبَوِّئَنَّهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗۖ وَلَأَجۡرُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ٤١ 

41. Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui


Khazanah Pengetahuan

Membela Agama Allah


Orang beriman harus menghargai setiap saat dalam hidupnya untuk dekat kepada Allah dan melaksanakan kehendak-Nya. Jika alat ini berubah menjadi tujuan yang dilakukan oleh orang-orang ingkar ia segera berada dalam bahaya besar.

Orang-orang beriman hidup hanya untuk satu sebab, yaitu menyembah Allah dan karenanya mereka meninggalkan keduniawian.

Orang-orang beriman menjual jiwa dan hartanya kepada Allah dan tidak ada lagi hak baginya. Seluruh hidupnya dibaktikan di jalan yang Allah perintahkan. Jika Allah mengaruniai mereka, mereka akan bersyukur, dan jika mereka diperintahkan berjihad di jalan-Nya, mereka tidak merasa ragu sedikit pun, bahkan jika mereka mengetahui bahwa mereka sedang menuju kematian.

Orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya tidak akan lalai pada kepuasan pribadi dan tidak ada sesuatu pun di Bumi ini yang dapat mencegahnya dari berjihad dijalan Allah.

Mereka mampu meninggalkan keindahan nikmat Allah dan menyerahkanjiwa mereka tanpa ragu-ragu. Sebaliknya, orang-orang ingkar tidak akan menjual harta dan jiwa mereka kepada Allah. Kekurangan iman seperti ini akan dicatat dan dibalas dalam kehidupan mendatang.

”Katakanlah, 'Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (QS At-Taubah, 9: 24)

Keimanan yang sangat kuat pada diri para sahabat Nabi Muhammad saw. membuat mereka tidak pernah menolak pertempuran. Sebaliknya, beberapa di antara mereka ada yang berurai air mata ketika mereka tidak berkesempatan berjihad bersama Rasulullah saw. Pada ayat berikut, Allah menjelaskan perbedaan antara orang-orang yang ikhlas dan yang setengah hati. (Harun Yahya, Nilai-nilai Moral AI-Qur'an, 2004)


Tafsir At-Tabari


Maksud penggalan ayat (Dan orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizaIimr', pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia) adalah orang-orang yang meninggalkan kaum, rumah dan tanah air mereka disebabkan permusuhan yang mereka alami, dan mereka itu adalah para sahabat Rasulullah saw. yang dianiaya oleh para pembesar Mekah, mereka diusir sampai akhirnya Allah mempertemukan mereka dengan kaum Anshar dan menempatkan mereka di Madinah, inilah juga tafsiran dari Asy-Sya'bi bahwa yang dimaksud dengan (Tempat yang baik kepada mereka di dunia) adalah kota Madinah. Pemaknaan ini lebih utama dan lebih benar daripada penafsiran-penafsiran yang lain. Termasuk ada pendapat bahwa ayat ini turun berkaitan dengan Abu Jandal bin suhail, Wallahu A'lam

Adapun penggalan ayat (Dan pahala di akhirat pasti lebih besar) adalah sungguh benar-benar apa yang Allah janjikan berupa balasan dengan dimasukkannya ke surga-Nya adalah sesuatu yang lebih besar, (Sekiranya mereka mengetahui) (Tafsir At-Tabari, Jilid XIV, 2001: 223-226)


Tafsir Ibnu Kasir


Dalam ayat ini, Allah Swt. memberitahukan pahala yang akan diterima bagi orang-orang. yang berhijrah ke jalan-Nya demi meraih keridhaan-Nya. Orang-orang yang berhijrah ialah mereka yang rela meninggalkan rumah dan negerinya, berpisah dengan saudara dan sahabat karibnya atau apa pun, demi mengharap pahala dan ridha Allah; Barangkali yang menjadi sebab turun ayat ini adalah peristiwa hijrah ke Habasyah. Hijrah ini dilakukan karena semakin sengitnya siksaan yang ditimpakan oleh orangorang musyrik Mekah kepada kaum Muslimin.

Kemudian, turunlah perintah Allah Swt. untuk berhijrah ke Habasyah agar lebih nyaman beribadah menyembah Allah. Sejarah mencatat nama-nama sahabat yang turut hijrah ke Habasyah, beberapa di antaranyaadalah Utsman bin Affan beserta istrinya Ruqayyah binti Muhammad, Ja'far bin Abu Thalib sepupu Nabi saw., Abu Salamah bin Abdul Aswad dan sahabat lainnya yang kurang lebih mencapai delapan puluh orang laki-laki dan perempuan, sahabat dan sahabiyah yang amat jujur beribadah kepada Allah Swt.

Sungguh benar benar mereka telah memenuhi perintah Nya maka Allah pun menjanjikan mereka ganjaran di dunia dan kenikmatan abadi di akhirat. Oleh sebab itu Allah SWt. berfirman,: (Pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia yakni tempat yang baik dan layak semasa hidup di dunia) Setelah pahala yang mereka terima di dunia, Allah Swt. menjanjikan pahala akhirat yang tentu lebih agung dari apa yang mereka terima di dunia (Al-Misbah AI-Munir fi Tahzib Tafsir lbnu Kasir, 1999: 579).


Hadis Shahih


Dari Alqamah bin Waqash Al Laitsi, dia berkata "Saya mendengar Umar bin Khathab ra. berkata di atas mimbar 'Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda 'Sesungguhnya amal-amal itu hanyalah dengan niatnya dan bagi setiap orang hanyalah sesuatu yang diniatkannya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya Dan, barang siapa yang hijrahnya kepada dunia, maka dia akan mendapatkannya. Atau kepada wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada sesuatu yang karenanya dia hijrah" (HR Bukhari, 1)

Monday, 30 October 2017

Mengapa Allah Tidak Segera Menyiksa Orang-Orang Kafir?



Tadabbur Surat Asy Syu'ara Ayat 204

أَفَبِعَذَابِنَا يَسۡتَعۡجِلُونَ ٢٠٤ 

204. Maka apakah mereka meminta supaya disegerakan azab Kami

Asbabun Nuzul
QS Asy-Syu'ara', 26: 205-207

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Abu Jahdan bahwasannya ayat ini turun berkenaan dengan pertanyaan para sahabat kepada Rasulullah yang pada saat itu sedang gelisah. Beliau pun bersabda, ”Bagaimana tidak, aku melihat musuhku kelak berasal dari umatku sendiri?" Maka dari itu, turunlah kedua ayat ini dan jiwa beliau pun menjadi tenang. (Lubabun Nuqul: 149)


Khazanah Pengetahuan

Mengapa Allah Tidak Segera Menyiksa Orang-Orang Kafir?

”Bukankah mereka yang meminta agar azab Kami dipercepat?“ QS Asy-Syu'ara, 26: 204

Salah satu rahasia yang diungkapkan dalam Al-Qur'an adalah bahwa manusia tidak segera dibalas atas perbuatan buruk yang mereka lakukan, tetapi siksa tersebut ditangguhkan hingga waktu tertentu. Hal ini termaktub dalam QS Fatir, 35: 45 dan QS Al-Kahf,18: 58.

Banyak orang yang tidak segera dibalas atas perbuatan buruk mereka membuat mereka beranggapan tidak akan pernah diminta tanggung jawab atas perbuatan jahatnya hingga tidak mau bertobat, merasa menyesal, dan memperbaiki kesalahan serta semakin menambah keangkuhan mereka. Mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan akan menyebabkan datangnya azab yang semakin berat di akhirat kelak (QS Ali 'Imran, 3: 178).

Inilah penangguhan yang diberikan Allah untuk menguji manusia. Namun, ada waktu yang telah ditetapkan Allah untuk membalas apa yang mereka perbuat. Ketika waktu yang ditetapkan tiba, waktu itu tidak dapat ditunda atau dipercepat, meski hanya sesaat. Setiap orang pasti akan memperoleh balasan, seperti tertera dalam QS Taha, 20: 129.

”Dan kalau tidak ada suatu ketetapan terdahulu dari Tuhanmu serta tidak ada batas yang telah ditentukan (ajal), pasti (siksaan itu) menimpa mereka. Dan Aku akan memberikan tenggang waktu kepada mereka. Sungguh rencana-Ku sangat teguh." (QS Al-Anfal 8: 68). (Harun Yahya. Beberapa Rahasia dalam Al Qur’an, 2004) 


Tafsir At Tabari


Pada ayat-ayat sebelumnya Allah menjelaskan perdebatan yang terjadi antara para nabi dan kaumnya, serta menjelaskan bahwa Dia membinasakan para pendusta. Kesudahannya, kemenangan ada di pihak para rasul-Nya yang bertakwa karena telah menjadi sunah-Nya dalam setiap pertarungan antara hak dan batil, yang hak itulah yang menang sekalipun harus memakan waktu yang lama. Di sini terdapat penawar hati bagi Rasulullah saw. dan janji bahwa sekalipun beliau dianiaya oleh kaumnya serta menerima berbagai kekerasan dari mereka, namun pada akhirnya kemenangan pasti beliau raih.

Pada rangkaian ayat-ayat ini (192-212) Allah menutup kisah para nabi terdahulu, dengan menjelaskan bahwa Al-Qur'an yang menyajikan kisah-kisah itu adalah wahyu dari Allah yang diturunkan kepada hamba dan rasui-Nya.

Orang-orang Quraisy yang durhaka, mereka tidak mengimani Al-Qur'an dan menentangnya hingga azab Allah datang kepada mereka secara tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya.

Pada ayat ini diisyaratkan bahwa setelah Nabi saw. mengancam mereka dengan azab, mereka berkata, "Hingga kapan kamu mengancam kami dengan azab itu? Kapan azab itu terjadi?" Maka itu pada ayat ini seolah Allah berfirman, "Mengapa mereka meminta azab Kami segera diturunkan. Padahal mereka telah mengetahui dengan jelas, bagaimana Kami menyiksa umat, generasi dan kaum-kaum terdahulu?.“ (Tafsir At-Tabari, jilid XVIII, 2001: 650)


Tafsir Ibnu Kasir

Maksud ayat Bukankah mereka yang meminta agar azab Kami dipercepat? adalah mereka sebelumnya mengingkari ajaran Allah Swt. yang dibawa oleh utusan Nya implikasi dari keingkaran tersebut, mereka menantang? "utusan Allah Swt. untuk menunjukkan kebenaran risalah yang dibawanya. Seolah-olah mereka ingin ditunjukkan tentang azab Allah Swt. Sebagaimana disebutkan pada ayat yang iain sebagai berikut,

(Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, 'Ya Allah, jika (AI Qur‘an) ini benar (wahyu) dari Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih (QS Al-Anfal, 8: 32)

Dan (Dan mereka meminta kepadamu agar segera diturunkan azab kalau bukan karena waktunya yang telah ditetapkan niscaya datang azab kepada mereka, dan (azab itu) pasti: akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya. Mereka meminta kepadamu agar segera diturunkan azab. Dan sesungguhnya neraka Jahanam itu pasti meliputi orang-orang kafir) (QS Al-Ankabut, 29:53-54) (Al Misbah AI-Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kasir, 1999: 788)


Hadits Sahih

Dari Humaid bin Abdur Rahman dia berkata, "Saya mendengar Mu'awiyah sewaktu dia berkhutbah mengatakan, 'Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Barang siapa yang dikehendaki Allah dalam kebaikan, maka Allah menjadikannya pandai agama. Saya ini hanya pembagi (penyampai wahyu secara merata), dan Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia memberi (pemahaman). (HR Bukhari, 55)

Sunday, 29 October 2017

Orang yang Beriman dengan Sempurna Tidak Pernah Putus Asa | Tadabbur Al Hijr Ayat 56



Surat Al Hijr Ayat 56

قَالَ وَمَن يَقۡنَطُ مِن رَّحۡمَةِ رَبِّهِۦٓ إِلَّا ٱلضَّآلُّونَ ٥٦ 

56. Ibrahim berkata: "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat"


Khazanah Pengetahuan

Orang yang Beriman dengan Sempurna Tidak Pernah Putus Asa


Orang yang beriman hendaknya bersabar dalam doanya. Sebagaimana dikatakan ayat, ”Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu Sungguh berat kecuali bagi orang orang yang khusyuk." (QS Al Baqarah, 2: 45). Kepasrahan mereka kepada Allah dan kepercayaan yang mereka taruh kepada-Nya menyebabkan kesabaran dan tekad sedemikian. Mukmin merasa yakin bahwa Allah pasti akan mengabulkan doanya. Ia tidak pernah berputus asa dan terus memohon kepada-Nya.

"Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir." (QS Yusuf, 12: 87)

Orang yang beriman sempurna menakuti Allah dan berdoa kepada-Nya dengan penghormatan dan kesabaran besar. Ia berdoa kepada Tuhannya di setiap saat, pada waktu dan tempat yang tidak diperkirakan, mukmin menyisihkan waktu untuk berdoa kepada Tuhan-Nya dengan sungguh-sungguh.

Bahkan, dalam saat-saat tersibuknya, ia mencari perlindungan dari-Nya, bermohon kepada-Nya dan meminta petunjuk-Nya. la melakukan semua ini karena mengetahui inilah cara termudah untuk lebih mendekat kepada Allah untuk meraih ridha dan surga-Nya. Tidak ada penghalang yang akan mencegah orang seperti dia dari lebih mendekat kepada Penciptanya. Allah hanya menginginkan hamba hamba-Nya berpaling kepada-Nya dengan hati yang tulus.

Mereka yang beriman sempurna adalah mereka yang benar-benar meresapi bahwa dunia ini adalah tempat yang dirancang khusus untuk menempatkan manusia ke dalam cobaan. Mereka juga benar-benar mengetahui bahwa gagasan "kesusahan" diciptakan untuk membedakan antara "orang-orang yang sungguh-sungguh beriman" dan "orang-orang yang di hatinya ada penyakit”.

Masa-masa susah dan masalah adalah saat-saat penting bagi makhluk yang memungkinkan mereka mem-buktikan ketulusan mereka dalam beriman. Karena itu, berlawanan dengan makna biasanya, "kesusahan" sungguh-sungguh "nikmat" bagi orang yang beriman sempurna. (Harun Yahya, Iman yang Sempurna, 2005)


Tafsir At Tabari

Allah menjelaskan dalam ayat ini bahwa tamu yang datang ke Ibrahim itu berkata, ”Kami membawa kabar gembira untukmu dengan sesuatu yang pasti. Dalam Pengetahuan kami, Allah akan menganugerahimu seorang anak lelaki maka janganlah kamu termasuk orang-orang putus asa dari keutamaan Allah. Bergembiralah dari kabar yang kami bawa ini."

Di ayat selanjutnya Allah menegaskan, (Tidak ada yang berputus asa dari rahmat tuhan-Nya, kecuali orang yang sesat). (Tafsir At-Tabari, Jilid XIV, 2001: 84-85)


Tafsir Ibnu Kasir

Disebutkan bahwa lbrahim merasa takut kepada mereka karena mereka tidak mau menyentuh makanan yang dihidangkan oleh lbrahim kepada mereka, yaitu daging anak sapi yang dipanggang. Ketika mereka melihat lbrahim merasa takut, "Mereka berkata, 'Janganlah engkau merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran seorang) anak laki-laki (yang akan menjadi) orang yang pandai (Ishaq).'” Hal itu sebagaimana telah dijelaskan didalam surah Hud.

Mendengar berita tersebut, Nabi lbrahim terkejut mengingat usia dia dan istrinya telah tua, dan ia ingin memastikan berita gembira itu. Mereka memberikan jawaban untuk menguatkan kabar gembira yang mereka sampaikan kepada ibrahim dalam ayat sebelum ayat ini sebagai berikut.

(Mereka menjawab, ”Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah engkau termasuk orang yang berputus asa. " Dia (Ibrahim) berkata, 'Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang yang sesat"). (AI Misbah AI-Munir fi Tahzib Tafsir Ibnu Kas‘ir, 1999: 567).


Hadits Sahih
Dari Anas bin Malik ra., dia berkata, Rasulullah saw. bersabda, "SungguhAllah akan lebih senang menerima tobat hamba-Nya ketika ia bertobat kepada-Nya daripada (kesenangan) seorang di antara kamu sekalian yang menunggang untanya di tengah padang luas yang sangat tandus, lalu unta itu terlepas membawa lari bekal makanan dan minumannya dan putuslah harapannya untuk memperoleh kembali. Kemudian dia menghampiri sebatang pohon, Ialu berbaring di bawah keteduhannya karena telah putus asa mendapatkan unta tunggangannya tersebut Ketika dia dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia mendapati untanya telah berdiri di hadapan. Lalu, segera ia menarik tali kekang unta itu sambil berucap dalam keadaan sangat gembira: Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhan-Mu. Dia salah mengucapkan karena terlampau merasa gembira." (HR Muslim, 4932)

Saturday, 28 October 2017

Kaum yang Mengingkari Janji Kepada Allah | Tadabbur Ayat: Surat Al Baqarah Ayat 83



Oleh: Muhamad Afif Sholahudin

Qur'an Surat Al Baqarah Ayat 83

وَإِذۡ أَخَذۡنَا مِيثَٰقَ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ لَا تَعۡبُدُونَ إِلَّا ٱللَّهَ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَانٗا وَذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَقُولُواْ لِلنَّاسِ حُسۡنٗا وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ ثُمَّ تَوَلَّيۡتُمۡ إِلَّا قَلِيلٗا مِّنكُمۡ وَأَنتُم مُّعۡرِضُونَ ٨٣ 

83. Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling


Munasabah Ayat

Bani Israil Mengingkari Janjinya Kepada Allah.


Ayat-ayat yang lalu menjelaskan perbuatan kotor Bani lsrail yang memutarbalikkan isi Taurat dan mengakibatkan kerusakan agama mereka. Dalam ayat ini dijelaskan lagi kejahatan-kejahatan mereka yang lain, yaitu meninggaikan kewajiban agama dan melakukan tindakan yang melanggar hukum". (QS AlBaqarah, 2:83)


Asbabunnuzul


Ibnu 'Abbas mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan Ahli Kitab, tepatnya para pendeta Yahudi yang mendapati dalam kitab Taurat mereka bahwa sifat-sifat nabi itu matanya bercelak, berambut keriting, dan berwajah tampan. Sifat sifat ini sesuai dengan fisik Rasulullah saw. Namun, mereka mengubahnya dengan mengatakan bahwa dalam Taurat mereka hanya tertulis orang yang berperawakan tinggi dan berambut lebih kesukuan. (Lubabun Nuqul: 10)


Khazanah Pengetahuan

Kaum-Kaum yang Mengingkari Janji terhadap Allah


Berita-berita tentang kaum terdahulu yang merupakan bagian penting dalam Al-Qur'an, jelas-jelas merupakan hal yang patut kita renungkan. Sebagian besar dari kaum ini mengingkari, bahkan memusuhi para nabi yang diutus kepada mereka. Kelancangan mereka mengundang kemurkaan Allah dan mereka pun disapu bersih dari muka Bumi.

Al-Qur'an menjelaskan bahwa peristiwa-peristiwa menghancurkan ini hendaknya menjadi peringatan bagi generasi berikutnya. Sebagai contoh, Allah langsung menyampaikan firman-Nya setelah penggambaran hukuman atas sekelompok Yahudi yang menentang Allah.

”Maka Kami jadikan (yang demikian) itu peringatan bagi orang-orang pada masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. ” (QS Al-Baqarah, 2: 66)

Dalam banyak sumber, kita dapat menelaah masyarakat-masyarakat masa lampau yang telah dihancurkan karena penentangan mereka terhadap Allah. Sorotan atas semua peristiwa tersebut, masingmasing merupakan contoh bagi manusia pada masa itu dan kini sehingga semuanya dapat menjadi sebuah "peringatan".

Selain itu, penghancuran kaumkaum tersebut adalah untuk menunjukkan bahwa apa yang diungkapkan Al-Qur'an benar-benar terjadi di dunia dan membuktikan keotentikan cerita-cerita dalam Al-Qur'an. Di dalam Al-Qur'an, Allah menjamin bahwa ayat-ayat-Nya dapat diamati pada konteks dunia luar. (Harun Yahya, Jejak Bangsa-Bangsa Terdahulu, 2007)


Tafsir At Tabari


Kata (Mengambil janji) dalam ayat ini ada-lah perjanjian yang Allah ambil dari Bani lsrail pada zaman Nabi Musa a.s. yaitu (1) hendaknya mereka ikhlas terhadap Allah dan tidak akan menyembah selain Dia, demikian kata Abu 'Aliyah; (2) Berbuat baik kepada kedua orang tua seperti berkata lembut, berbuat menyenangkan, bersikap santun, dan mendoakan kebaikan bagi mereka; (3) Menyambung silaturahmi dengan karib kerabat, bersikap lembut dan sayang kepada anak yatim, memberi orang-orang miskin hak-hak mereka sewajarnya; (4) Mengucapkan perkataan yang baik kepada manusia. Maksud (Bertutur katalah yang baik) adalah mengajak manusia mengucapkan "Tiada Tuhan selain Allah". Juga termasuk perkataan baik jika berbicara kepada manusia dengan sopan santun dan akhlak mulia. Demikian kata Ibnu 'Abbas. Adapun menurut Sufyan Al Tsauri maksud perkataan baik di sini adalah amr-ma'ruf nahi munkar; (5) Menunaikan shalat dengan menyempurnakan rukuk dan sujudnya, memelihara kekhusyukannya, dan memahami bacaannya, serta menegakkan nilai-nilainya dalam kehidupan, serta menunaikan zakat tentu saja sesuai dengan syariat mereka saat itu. Demikian kata lbnu 'Abbas. Bani lsrail pada masa Nabi Musa mengabaikan perjanjian itu, dan demikian pula kelakuan keturunan mereka pada zaman Nabi Muhammd saw. (Tafsir At-Tabari Jilid l, 2001: 187-198)


Tafsir Ibnu Kasir


Ayat ini menjelaskan, kaum Yahudi adalah kaum yang gemar melakukan pembangkangan terhadap syariat ilahi. Disebutkan dalam ayat sebelumnya bahwa mereka sebenarnya telah mengetahui kebenaran yang termaktub dalam kitab Taurat, tetapi mereka melakukan penyelewengan terhadap syariat kitab itu. Ditegaskan pula bahwa mereka diperintahkan untuk mengikuti syariat nabi sesuai dengan kitab yang dibawanya.

Ayat ini juga menyerukan kepada umat manusia agar senantiasa berbuat baik kepada orang tua, sanak kerabat, fakir, dan miskin. Semua itu kewajiban sosial yang harus ditunaikan. Dalam sebuah riwayat, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, ”Wahai Rasulullah saw., perbuatan apa yang paling utama di sisi Allah Swt.?” Rasulullah saw. kemudian menjawab, "Shalat tepat pada waktunya, berbuat baik kepada kedua orang tua, dan jihad di jalan Allah.”
Kata (Anak-anak yatim) bermakna anak kecil yang belum bekerja dan tidak memiliki ayah. Kata (Orang-orang miskin) bermakna orang yang tidak memiliki bekal cukup untuk menghidupi diri dan keluarganya.

Kata (Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia) berarti perintah untuk berbicara yang baik dan sopan. Makna ini termasuk perintah melakukan amar makruf nahi mungkar. Hasan al-Bashri mengatakan, hendaknya amar makruf nahi mungkar dilakukan dengan baik sambil berinteraksi sopan. Allah Swt. menyertakan perintah berbuat baik dengan perintah shalat dan zakat. Ini berarti harus ada perpaduan antara perkataan dan perbuatan. (AI-Misbah AI-Munir fi Tahzib Tafsir lbnu Kasir, 1999: 60)


Hadis Shahih


Hadis riwayat Abu Waqid. Al-Laitsi r.a., "Bahwa ketika Rasulullah saw. sedang duduk dl masjid bersama para sahabat, tiba-tiba muncullah tiga orang. Yang dua orang datang menghampiri Rasulullah saw. sedangkan yang satu lagi berlalu pergi. Kemudian, keduanya berdiri di hadapan Rasulullah saw. lalu yang satu melihat tempat kosong di antara lingkaran orang maka duduklah ia di sana. Adapun yang seorang lagi duduk di belakang mereka. Sementara itu, orang yang ketiga telah pergi. Setelah Rasulullah saw. selesai, beliau bersabda, "Tidak inginkan kalian aku beri tahukan tentang ketiga orang tadi? Seorang di antara mereka teIah berlindung kepada Allah, maka Allah memberikan perlindungan kepadanya. Sedangkan yang lain malu, maka Allah pun malu kepadanya. Adapun Orang yang ketiga ia telah berpaling, maka Allah pun berpaling darinya.'“ (HR Muslim, 4042)