Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Friday, 20 November 2020

Memuliakan Guru dan Para Ulama




*) Disampaikan ketika khutbah Jum'at, 20/11/2020

Jama’ah sholat jum’at rahimakumullah.. 

Islam mengajarkan kepada umatnya agar memuliakan guru. Dalam islam, menuntut ilmu hukumnya wajib, namun tidak semua ilmu yang dituntut akan memberikan manfaat kepada pemiliknya, hanya mereka yang beradab terhadap ilmu saja yang akan mendapatkan manfaat dari ilmu. Memuliakan ilmu berarti sama wajibnya dengan memuliakan guru. Seandainya ada peribahasa buku adalah jendela ilmu, maka guru adalah orang tua kita dalam menuntut ilmu. 

Guru adalah kunci pembangun peradaban. Dulu, dua kota besar di Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, dibom atom, sebanyak 75 ribu korban jiwa melayang, suasana kota porak poranda, gelap dan hancur. Seketika Kaisar Hirohito memecahkeheningan dengan bertanya, “Berapa jumlah guru yang masih tersisa?” Para jenderal kaget, mengapa yang ditanyakan pertama kali adalah guru. Dengan cerdas pimpinan Jepang itu menjawab, “Kita telah jatuh karena kita tidak belajar, kalau kita semua tidak bisa belajar, bagaimana kita akan mengejar mereka? Maka kumpulkan semua guru yang tersisa, karena sekarang kepada mereka kita akan bertumpu, bukan kepada kekuatan pasukan."

Sebenarnya tanpa kisah itu pun kita sudah tahu, betapa penting sosok seorang guru bagi kehidupan kita. Sosok guru adalah sosok yang tidak dapat tergantikan, negara yang serius memperhatikan kondisi gurunya berarti ia serius menata masa depan yang cerah, sebaliknya negara yang abai melahirkan guru berkualitas berarti ia telah sengaja mewariskan masa depan yang kelam. 

Walaupun saat ini mencari ilmu lebih mudah karena kemajuan teknologi yang semakin modern. Anak generasi di bawah kita semakin mudah mengakses informasi dan menemukan sumber ilmu. Namun sepintar apapun teknologi masih belum ada yang dapat menggantikan peran guru. Itulah mengapa banyak orang tua yang kesulitan mendidik anaknya belajar dari rumah, tidak seperti guru yang biasa mengajar anaknya di sekolah. Maka, hargailah guru-guru kita, guru untuk anak-anak kita, karena peran mereka kita bisa melahirkan generasi cerdas untuk masa depan. 

Itulah mengapa Allah berfirman dalam Surat At Taubah ayat 122, yang berbunyi: 

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ ࣖ 

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.” 

Ayat ini turun untuk menjelaskan tentang jihad yang sebenarnya adalah kewajiban, tegas Allah memberi peringatan kepada mereka yang tidak mau ikut berjihad. 

إِلَّا تَنفِرُوا۟ يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا أَلِيمًا 

“Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih…” (QS. At Taubah: 39) 

Setelah ayat ini turun, rupanya ada sebagian umat islam yang tidak suka dengan sebagian kecil panpung yang tidak mengirimkan pasukan jihad karena hendak menuntut ilmu. Lalu turunlah at taubah ayat 122 yang sebelumnya tadi dibacakan, rupanya Allah swt membenarkan sikap sebagian kecil orang yang tidak ikut berperang karena sedang menimba ilmu. 

Ayat 122 ini juga termasuk ke dalam ayat jihad, untuk menjelaskan bahwa menuntut ilmu pun termasuk jihad. Kelak mereka yang disisakan tidak ikut berperang karena menuntut ilmu akan menjadi guru mengajarkan islam kepada generasi baru sepeninggal mereka. Islam sangat memperhatikan ilmu dan guru untuk masa depan, meskipun dalam islam sendiri ada banyak sebutan untuk mencerminkan guru, seperti ustadz, musyrif, mursyid, murabbi, dan lainnya. Apapun sebutannya, mereka adalah orang yang berilmu, dan telah berjasa mengajarkan kita ilmu barang sedikit saja. 

Mencintai ilmu berarti mencintai orang yang memberi ilmu. Ali bin Abi Thalib ra. yang pernah mengatakan, "Siapa yang pernah mengajarkan aku satu huruf saja, maka aku siap menjadi budaknya." Perkataan ini bukan untuk merendahkan kehormatan beliau, namun untuk menunjukkan bahwa orang-orang yang berilmu adalah orang yang mulia. Bahkan dahulu sebagian salaf terbiasa apabila menghadap kepada gurunya, ia bersedekah dan berdo’a “Ya Allah tutuplah aib guruku dariku dan janganlah hilangkan keberkahan ilmunya dariku.” (Ibnu Jama’ah, Tadzkirah al-Sami’ wa al-Mutakallim) 

Jama’ah sholat jum’at rahimakumullah.. 

Jika kepada guru kita yang mengajarkan barang sedikit ilmu saja harus kita muliakan, lalu bagaimana dengan para alim ulama yang ilmu nya sangat luas hingga banyak generasi pewaris yang menjaga ilmu mereka. Tentu kita harus lebih memuliakan mereka, karena para ulama adalah guru sekaligus pewaris para Nabi. Sebagaimana Rasul Saw. Bersabda: 

“…Para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud No. 3641) 

Para ulama pun harus kita jaga dan muliakan, karena mereka adalah guru bagi agama kita tercinta. Ingat, guru terbaik adalah mereka yang mengajarkan tentang agama, karena ilmunya akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat. Apakah guru umum lainnya tidak mulia? Semua guru mulia, namun keberkahan ilmu akan lebih banyak didapatkan oleh mereka para pengajar ilmu islam, ilmu membaca al quran, ilmu ibadah, ilmu muamalah, dan ilmu lainnya. Sebab hidup kita tidak bisa lepas dari aturan islam, kita amalkan dari ilmu para ulama kita, mengalir kepada mereka walaupun mereka sudah meninggal pahala terus mengalir kepada mereka. masyaAllah. 

Maka jagalah dan muliakanlah para ulama kita. Bukan malah membenci, menghina, memfitnah, bahkan mengkriminalkan ulama. Sekarang zaman yang aneh, Ulama ngomong disalahkan, ulama diam disalahkan, akhirnya giliran ulama membela yang salah dibenarkan, giliran ulama diam atas kesalahan dibenarkan, lantas kapan ulama dianggap benar ketika membela kebenaran? Selalu saja ulama menjadi korban. Sejatinya ulama akan dianggap salah oleh mereka yang membenci islam, membenci dakwah, tidak suka terhadap amar ma’ruf nahy munkar. 

Semoga kita termasuk umat-Nya yang istiqomah menjaga dan memuliakan guru dan ulama kita. 

Wallahu a’lam bi showab.


Saturday, 3 August 2019

Faktor-faktor Penyebab Sulit Menghafal Al Quran



Setiap muslim pasti punya keinginan untuk bisa menghafal Al Qur’an. Dorongannya ada berbagai macam, targetnya pun berbeda-beda tergantung kemampuan. Namun, sangat disayangkan jika ada yang beralasan seorang muslim tidak mau menghafal qur’an hanya karena menghafal adalah aktivitas yang sulit dikerjakan. Mengapa bisa beranggapan demikian, mungkin saja karena ia sudah pernah mencoba menghafal namun terus menerus menemui kegagalan. Ketika sudah putus asa dan menyerah, akhirnya dia memilih untuk tidak melanjutkan hafalannya. 

‘Sulit’ memang bukan satu-satunya alasan, ada pula yang beralasan sibuk dengan pekerjaan atau terlalu banyak fikiran, mungkin juga karena faktor usia yang sudah menua. Yang jelas tidak mungkin karena tidak punya uang, karena menghafal qur’an adalah hal paling mudah, gratis, di setiap masjid pun pasti tersedia Al Qur’an. Tinggal kemauan saja yang menjadi modal utama, selanjutnya mengandalkan keistiqomahan dalam muroja’ah dan setoran. Semua itu sudah saya bahas dalam artikel: Mitos-mitos dalam Menghafal Qur’an. 

Sebenarnya untuk menghafal Al Qur’an tidaklah sulit, asal bisa mengatasi beberapa penyebab berikut: 

Pertama, tidak sabar. 

Semua usaha demi mencapai hasil pasti harus melewati prosesnya. Tidak ada yang instant di dunia ini, bahkan mie instan saja butuh direbus terlebih dulu. Begitupun ketika ingin hafal sebuah surat atau beberapa ayat, pasti ada proses menghafalnya. Anak kecil yang hafal 30 Juz pun tidak serta merta membaca langsung hafal, lihat proses dari bayi sudah dilatih sejak dalam kandungan. Yang tua pun sering mendapati baru membaca langsung hafal, hati-hati karena jika tidak sabar kelak kalian akan menemukan kesulitan saat muroja’ah. 

Orang ketika sudah kehilangan kesabaran akan mengeluh dan patah semangat. Konsentrasi buyar, fokus pun terpecah. Di tengah menghafal akan macet, mungkin saja gagal tidak hafal-hafal. Baru dihadapkan dengan ayat pendek saja masih merasa berat, lalu bagaimana jika bertemu dengan ayat yang panjang. Kalau tidak sabar, setiap melafalkan ayat pun akan terasa berbeda, bawaannya selalu ingin cepat hafal. Kesabaran dalam menghafal membutuhkan kesabaran yang tinggi, terutama konsisten dalam menjalankan jadwal hafalan atau muroja’ah. 

Ketika menghafal tidak disertai rasa sabar maka setiap menghafal akan terasa berat dan semakin berat. Waktu adalah investasi dalam menghafal Al Quran, jika diabaikan maka akan kehilangan hasilnya. Maka hargai waktu dengan cara bersabar, nikmati prosesnya dan maksimalkan hasil hafalannya. Jangan berikan setoran yang apa adanya, terbata-bata dan terlihat masih sering dibantu. Lancarkan agar hafalan tetap kuat tidak mudah lupa, sebab kalaupun sudah hafal masih ada tugas lainnya yakni menjaga hafalan. Dan itu pun sama membutuhkan waktu lebih banyak daripada menghafalnya. 

Kedua, tidak menguasai cara membaca yang benar. 

Ilmu pertama dan paling utama dalam menghafal adalah ilmu membaca, sebab bagaimana bisa menghafal sesuatu jika kita tidak bisa membacanya terlebih dahulu. Meskipun bisa saja kita menghafal melalui pendengaran, seperti anak-anak yang sering mengulang bacaan gurunya hingga hafal. Namun metode seperti itu akan terlihat memberatkan bagi anak, sebaliknya jika sudah bisa membaca Al Quran dengan benar akan terasa lebih ringan menghafal. 

Membaca Al Quran haruslah dengan tartil. Sebagaimana Ali bin Abi Thalib r.a pernah menjelaskan yang dimaksud tartil adalah, “Makhorijul huruf wa Ma’rifatil wuquf.” Makhorijul huruf menekankan kepada kelancaran membaca dan melafalkan huruf dengan benar sesuai ilmu tajwid. Sedangkan Ma’rifatil wuquf menekankan pada cara memberhentikan bacaan. Jika bacaan tidak dilandasi dua aspek tersebut, maka ketika hendak membaca ayat yang ingin dihafal akan kaku, tidak lancar bahkan bisa salah baca. 

Dampaknya proses menghafal dapat memakan waktu yang lebih lama dan terasa semakin berat, sebab kesulitan yang dihadapi ada dua: sulit membaca dan sulit menghafal. Dampak buruk lainnya adalah ketika bacaan yang dihafal salah dengan bacaan aslinya, maka sering ditemukan anak yang sulit mengubah kebiasaan bacaan salahnya dulu karena sudah terlanjur dihafal. Mulai dari panjang pendeknya, tertukar cara membaca huruf-huruf mirip, atau salah dalam menyusun bacaan ayat. Maka kuasai cara membaca yang benar dan lancar agar hilang kesulitan saat menghafal Al Quran. 

Ketiga, tidak banyak berdoa. 

Tidak ada yang sia-sia dari permohonan kita kepada Sang Pencipta, yakinlah bahwa Allah pasti akan mengabulkannya. Doa menjadi senjata seorang muslim, maka gunakan itu sebagai alat terbaik meraih cita-cita menjadi hafizh quran. Mohonlah agar dimudahkan hafalan, dihindarkan dari segala kesulitan dan gangguan ketika menghafal, diberikan kekuatan daya ingat yang lebih lama, termasuk lingkungan atau keluarga yang mendukung. 

Bacakan doa-doa kita di setiap waktu yang tepat. Kapanpun dan di manapun doa memang boleh dibacakan, namun waktu-waktu biasa kita memanjatkan doa akan membuat doa kita lebih serius untuk dilakukan. Semisal berdoa di waktu setelah sholat tahajjud dan dhuha, atau doa setiap selesai sholat lima waktu. Denga begitu kekhusukan ibadah sholat mampu memunculkan khusuk dalam membaca doa. Yang terpenting berdoa ketika sebelum dan sesudah pembelajaran tahfizh. Hal ini pernah di bahas di artikel sebelumnya. 

Sering-seringlah membaca doa di waktu yang lebih mustajab. Saat hujan turun, saat selesai adzan, ketika berpuasa, saat sedang hujan, dsb. Tidak hanya waktu yang lebih mustajab, namun juga bisa dilakukan di tempat-tempat yang lebih mustajab ketika dibacakan doa. Semisal di Mekkah atau Madinah, di Ka’bah, masjid, dsb. 

Allah SWT pun akan menerima doa hambanya yang serius atas permintaannya dan sejalan dengan ikhtiar hambanya. Oleh karena itu, kepantasan doa pun bisa diukur seberapa pantas orang tersebut memintanya. Ketika kita mengharapkan agar memiliki keturunan hafizh quran maka termpatkan mereka di sekolah yang mempunyai program menghafal quran, bukan sekolah umum yang masalah penutup aurat saja masih belum semua terjaga. Sekalipun di sekolah sudah menghafal, kita pun di rumah harus bisa menciptakan suasana keluarga yang mendukung keberadaan seorang hafizh quran di dalamnya. Jangan sampai sudah dihafal di sekolah namun hilang saat sampai di rumah. 

Keempat, tidak menjauhi atau menghindarkan diri dari maksiat. 

Semakin banyak seseorang melakukan perbuatan maksiat akan membuat orang tersebut semakin menjauh dari Allah SWT. maksiat itu banyak jalurnya, bisa melalui mata, telinga, mulut, tangan, termasuk hati. Tubuh yang terbiasa melakukan aktivitas maksiat akan lebih sulit mendekatkan diri dengan Al Quran. Jangankan Al Quran, mungkin yang halal baginya pun tidak akan membuat dirinya tertarik terhadapnya. 

Seperti mata yang terbiasa melihat yang haram, maka yang halal pun jadi tidak terasa nikmatnya. Begitupun dengan mulut, terbiasa mengucapkan keburukan akan sulit mengucapkan Al Quran barang se-ayat-pun. Yang dikhawatirkan jika maksiat itu terbiasa dilakukan oleh hati, maka sebanyak apapun hafalan atau seluang apapun waktunya, tetap hatinya akan menuntun ia melakukan aktivitas yang lebih buruk dibandingkan menghafal Al Quran. Hindari maksiat, karena Al Quran itu suci dan sesuatu yang suci akan menempel pada tubuh yang suci pula. Itulah mengapa untuk menyentuh nushafnya saja harus mempunyai wudhu terlebih dahulu, sebab tak pantas diri kita yang penuh dosa bersentuhan dengan sesuatu yang suci tanpa harus mensucikan diri terlebih dahulu. 

Ibnu Taimiyah rahimakumullah berkata, “Sesungguhnya lupa terhadap hafalan Al Quran termasuk akibat dosa-dosa.” (Majmu’ al-Fatawa, XIII: 423) Menghafal quran tidak cukup sekali baca, itu semua orang pun paham. Namun ada yang berkali-kali baca namun tidak pernah hafal-hafal, maka bisa saja disebabkan diri kita yang mudah lupa akibat dosa-dosa kita. Otak akan merasa terhambat dan sulit merespon, sebab penyakit-penyakit tadi yang merusak kesucian jasadiyah dan ruhiyah kita. Semoga kita masih diberikan kesempatan untuk selalu memanjatkan taubat nasuha kepada-Nya. 

Nah, setidaknya empat faktor tersebut harus diwaspadai agar memudahkan kita menghafal atau menguatkan hafalan yang sudah kita punya. Sebenarnya masih ada beberapa faktor penyebab sulitnya kita, baik dewasa maupun anak-anak, menghafal quran. Mungkin akan dibahas di artikel lainnya. Terakhir, menjaga hafalan tentu lebih berat daripada menghafalnya. Maka sungguh keterlaluan jika masih pada tahap menghafal sudah menganggap hal yang sulit, lalu bagaimana dengan menjaga hafalan yang lebih berat? Semoga Allah mudahkan segala urusan kita dan dijaga setiap langkah kita. Aamiin ya robbal ‘alamiin.. 

Bandung, 3 Juli 2019
Muhamad Afif Sholahudin





Sunday, 28 July 2019

Doa Memulai Pembelajaran Tahfizh dan Dimudahkan Hafalan



Doa adalah bentuk permohonan dan permintaan kepada Allah SWT. Tanpa izin-Nya tentu takkan berarti apa-apa segala aktivitas, terutama menghafal firman-Nya. Bukankah kesempatan kita bisa menghafal adalah nikmat yang telah diturunkan oleh sang Khaliq? Begitupun dimudahkannya dan selalu istiqomah adalah anugerah yang harus kita bayar dengan syukur dan mohon pertolongan-Nya. Jangan sampai usaha kita menghafal Al Qur’an malah menunjukkan kita kepada jalan lain yang tidak kita harapkan.

Adapun tentang doa agar dimudahkannya menghafal Al Qur’an, dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda kepada Amirul Mu’minin, Ali r.a sebagaimana berikut: 

“Aku akan mengajarkanmu sebuah doa yang membuatmu tidak akan melupakan ayat-ayat Al Qur’an.” 

Adapun doanya adalah sebagi berikut:

اَللّهُمَّ ارْحَمْنِي بِتَرْكِ الْمَعَاصِيْ أَبَدًا مَا أَبْقَيْتَنِيْ. وَارْحَمْنِيْ أَنْ تَكَلَّفَ مَا لَا يَعْنِيْنِيْ. وَارْزُقْنِيْ حُسْنَ النَّظَرِ فِيْمَا يُرْضِيْكَ عَنِّيْ. اَللّهُمَّ بَدِيْعَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ. ذَالْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ الَّتِيْ لَا تُرَامُ, أَسْأَلُكَ يَا أَللّهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلَالِكَ وَنُوْرِ وَجْهِكَ أَنْ تُنَوِّرَ بِكِتَابِكَ بَصَرِيْ. وأَنْ تُطْلِقَ بِهِ لِسَانِيْ. وَأَنْ تُفَرِّجَ بِهِ عَنْ قَلْبِيْ. وَأَنْ تَشْرَحَ بِهِ صَدْرِيْ, وَأَنْ تَغْسِلَ بِهِ بَدَنِيْ, فَإِنَّهُ لَا يُعِيْنُنِيْ عَلَى الْحَقِّ غَيْرُكَ. وَلَا يُؤْتِيْهِ إِلَّا أَنْتَ, وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ


Allohummar hamni bitarkil ma’aashii abadan maa abqoitanii, warhamnii an takallafa maa laa ya’niinii, warzuqnii husnan nadhori fiimaa yurdhiika ‘annii, allohumma badii’as samawaati wal ardh, dzaljalaali wal ikroomi wal ‘izzati allatii laa turoomu, asAluka yaa alloohu yaa rohmanu bijalaalika wa nuuri wajhika an tunawwiro bikitaabika bashorii, wa antuthliqo bihi lisaanii, wa antufarrija bihi ‘ang qolbii, wa antasyroha bihi shodrii, wa antagsila bihi badanii, fa innahu laa yu’iinunii ‘alal haqqi ghoiruka, wa laa yuktiihi illa anta, wa laa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiim. 

Artinya: 

“Ya Allah, rahmatilah aku agar dapat meninggalkan maksiat kepada-Mu selamanya, selagi Engkau masih memberi kesempatan kepadaku. Kasihanilah diriku dari hal yang tak sanggup aku pikul. Karuniailah aku iktikad baik dan ketertarikan kepada hal yang engkau sukai. Teguhkan hatiku untuk menghafal kitab-Mu, sebagaimana engkau ajarkan kepadaku. Karuniailah aku supaya bisa membacanya sesuai dengan yang Engkau sukai. Ya Allah, dengan kitab-Mu terangilah penglihatanku, lapangkanlah dadaku, bahagiakanlah diriku, bebaskan (belenggu) lidahku, terapkanlah kepada badanku, kokohkanlah diriku atasnya, dan bantulah diriku untuk hal tersebut. Sesungguhnya, tiada penolong untuk hal itu, kecuali Engkau; tiada Tuhan selain Engkau.”[1]

Ketika anda sedang mendidik anak atau membina murid tahfizh qur’an, maka anda bisa membiasakan anak-anak membaca doa sebelum masuk pembelajaran tahfizh. Hal ini diupayakan agar setiap anak mampu memunculkan penghormatan terhadap Al Qur’an dan pengistimewaan proses pembelajaran. Dengan berdoa akan mengawali keseriusan belajar, suasana menjadi lebih syahdu, dan konsentrasi menghafal akan lebih fokus. Dengan doa pun akan memperkuat niat terhadap motivasi menghafal, serius dalam setoran dan tidak mudah malas ketika muroja’ah. 

Lalu bagaimana menyusun doa sebelum belajar tahfizh? Ada berbagai macam bentuk doa, tidak harus baku atau menyesuaikan yang ada, bahkan untuk doa pun boleh menggunakan bahasa kita. Hanya saja, ke-khusuk-an akan terasa jika kita membaca doa dengan mengawali surat dan doa-doa istimewa. Semisal doa sebelum belajar. Karena kita sejak kecil dibiasakan berdoa menggunakan bahasa arab, maka boleh untuk mengikuti doa yang ada di bawah ini. 

Baca Surat Al Fatihah 1x

رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا وَرْزُقْنِيْ فَهْمًا

Robbi zidnii ‘ilman warzuqnii fahman

Ya Rabb, tambahkanlah aku ilmu, dan karuniakanlah aku pemahaman.

رَبِّاشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْلِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِسَانِ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ


Robbisyrohlii shodrii wa yassirlii amrii wahlul ‘uqdatam millisaani yafqohuu qoulii 

Ya Rabb, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, lepaskanlah ikatan pada lidahku agar mereka memahami perkataanku.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا فَهْمَ النَّبِيِّيْنَ وَحِفْظَ الْمُرْسَلِيْنَ وَاِلْهَامَ الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ


Allohummar zuqnaa fahman nabiyyiin, wa hifzol mursaliin, wailhaamal malaaikatil muqorrobiin 

Ya Allah, karuniakan kepadaku kefahaman para Nabi, hafalan para Rasul, dan ilham malaikat yang dekat (dengan-Mu).

اللَّهُمَّ افْتَحْ لَنَا حِكْمَتَكَ وَانْشُرْعَلَيْنَا رَحْمَتَكَ مِنْ خَزَائِنِ رَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ


Allohummaftahlanaa hikmataka, wangsyur’alaiknaa rohmataka, minkhozaaini rohmatika, yaa arhamar roohimin 

Ya Allah, bukakanlah kepada kami hikmah-Mu, limpahkanlah kepada kami rahmat-Mu, dari khazanah rahmat-Mu, wahai Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

اللَّهُمَّ جْعَلْنَا الْقُرْءَآنَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا وَنُوْرَ صُدُوْرِنَا وَجَلَآءَ غُمُوْمِنَا وَذَهَابَ أَحْزَانِنَا وَهُمُوْمِنَا وَسَابِقَنَا إِلَى جَنَّاتِكَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ


Allohummaj’alnal qurAana robii’a quluubinaa, wa nuuro shuduurinaa, wa jalaaA ghumuuminaa, wa dzahaaba ahzaaninaa wahumuuminaa, wasaabiqonaa ila jannatika jannaatin na’iim, birohmatika yaa arhamar roohimin 

Ya Allah, jadikanlah kami Al Qur’an sebagai penyejuk hati kami, dan cahaya bagi dada kami, penglipur kesedihan kami, pelenyap kesusahan dan kegundahan kami, serta penuntun kami menuju surga-Mu, surga yang penuh kenikmatan, dengan rahmat-Mu Dzat yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 

Kelas tahfizh pun seharusnya dibuat lebih khusu’. Ini semua tentang apa yang dibaca dan dihafal, yakni Al Qur’an. Maka berikan waktu terbaik, semisal pagi di sekolah, sebab kalau sore akan membuat anak lebih sulit menghafal karena beban fikiran yang sudah diterima sejak pagi. Lalu berpakaian dan bersikap yang sopan, seperti bagi anak perempuan menggunakan pakaian muslimah yang sopan atau laki-laki berpakaian suci. Akan terlihat aneh ketika menghafal Al Qur’an menggunakan celana ketat bagi muslimah. Lalu bersikap seperti menaruh Al Qur’an dengan aman tidak sembarangan. 

Ada beberapa adab lain yang harus diamalkan dalam menjaga kesucian Al Qur’an. Minimal menghargai adab terhadap Al Qur’an mampu membuat kita serius menghafalkannya, bukan karena tuntutan lain sehingga merasa dipaksa. Hasilnya pun akan dirasakan nikmat dan membuat bangga setiap orang, khususnya bagi keluarga. Siapapun pasti mau menghidupkan keluarga dengan Al Qur’an, maka hadirkan walau hanya satu orang yang terus mengingatkan kita dengan ayat-ayat paling sempurna ini. 

Wallahu a’lam bisshowab. 

Bandung, 28 Juli 2019
Muhamad Afif Sholahudin, S.H

____________________
[1] quran.al-shia.org 

Saturday, 27 July 2019

Memulai Persiapan Mendidik Hafizh Qur'an



Persiapan adalah faktor penting dalam melakukan suatu aktivitas, terutama dalam menghafal Al Qur’an. persiapan harus disiapkan sematang mungkin agar proses menghafal dapat berjalan baik dan benar. Selain itu, persiapan adalah syarat utama untuk memperoleh hasil yang maksimal dan memuaskan. Namun ada hal lebih mendasar dari menyusun persiapan menghafal Al Qur’an, yakni meluruskan niat. 

Jika menghafal tanpa dilandasi niat yang ikhlas maka akan menjadi sia-sia belaka, dan niat yang ikhlas hanya ditujukan untuk meraih ridha Allah SWT. Seandainya niat sudah diluruskan maka kemauan dan hasrat yang tertanam dalam hatinya akan membuat setiap proses hafalannya terasa ringan walaupun melelahkan. Jika menghafal tidak dilandasi keikhlasan maka yang diharapkan hanya penghormatan dari orang lain, hasilnya akan lahir penyakit sombong, atau penyakit hati lainnya. Ikhlas adalah kunci kesuksesan yang sempurna dari setiap amal. 

Fudhail bin ‘Iyadh pernah bertutur nasehat, “Amal yang paling baik adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Jika amal itu ikhlas, tetapi tidak benar, maka tidaklah diterima. Bila amal itu benar, namun tidak ikhlas, juga tidak akan diterima, kecuali dilakukan dengan ikhlas. Ikhlas artinya dilakukan hanya karena Allah. Adapun benar artinya ialah sesuai dengan sunnah (tuntunan dan petunjuk Rasulullah SAW).” 

Mulai dari hal yang paling mendasar, yakni dorongan anak agar semangat menghafal Al Qur’an. Lalu bentuk lingkungan yang dapat menjaga anak agar tetap menghafal qur’an. Jika sudah, buatlah sebuah pola pendidikan hafalan yang sesuai dengan anak, mulai dari cara menghafal, setoran, hingga muroja’ah. Bagaimanapun caranya, tujuannya tetap sama yakni hafal Al Qur’an. Ada yang memilih memasukkan anaknya ke pesantren tahfizh, atau mengikutsertakan pada program karantina tahfizh, ada pula yang membina di rumah privat dengan mengundang guru tahfizh. Sebagian besar yang berhasil mencetak hafizh di usia di bawah 7 tahun adalah mereka yang sejak kecil (bahkan sejak dalam kandungan) sudah dibina intensif oleh orangtuanya langsung. 

Para salaf pun dahulu selalu memperhatikan pendidikan menghafal (tahfizh) Al Qur’an bagi anak-anaknya. Syaikh Yasin bin Yusuf al-Marakisyi menceritakan kepada kita tentang Imam an-Nawawi Rahimahullahu, beliau berkata, “Aku melihat beliau (Imam an-Nawawi) ketika masih berumur 10 tahun di Nawa. Para anak kecil tidak mau bermain dengannya dan ia pun berlari dari mereka seraya menangis, kemudian ia membaca Al Qur’an. Maka tertanamlah dalam hatiku rasa cinta kepadanya. Ketika itu bapaknya menugasinya menjaga toko, tetapi ia tidak mau berjualan ingin menyibukkan diri dengan Al Qur’an. Maka aku datangi gurunya dan berpesan kepadanya bahwa anak ini diharapkan akan menjadi orang yang paling alim dan zuhud pada zamannya serta bermanfaat bagi umat manusia. Dia pun berkata kepadaku, ‘Tukang ramalkah anda?’ Aku menjawab, ‘Tidak, tetapi Allah-lah yang membuatku berbicara tentang hal ini.’ Bapak guru itu kemudian menceritakan kepada orangtuanya, sehingga memperhatikan beliau dengan sungguh-sungguh sampai dapat khatam menghafal Al Qur’an ketika menjelang akil baligh.” 

Ya, orangtua adalah salah satu faktor mempengaruhi dorongan anak menghafal. Eh, belum tentu. Faktanya banyak orangtua yang masih sama mengejar hafalan, bahkan masih belajar membaca qur’an, tapi berhasil membuat anaknya hafizh 30 juz. Biasanya mereka menitipkan anaknya di pesantren tahfizh. Kalau ragu tertinggal dengan pelajaran yang seharusnya ditempuh di usianya, bisa memilih dengan sekolah Islam Terpadu (IT) atau Plus atau sejenisnya yang menyediakan program lulus hafal beberapa juz. 

Jangan lupakan keluarga sebagai faktor penting arah pendidikan anaknya. Rumah adalah madrasah utama, sedangkan orangtua adalah guru pertama. Dari rumah lahir seseorang yang akan tumbuh berkembang sesuai dengan pendidikan orangtuanya. Ketika orang tua berharap anaknya menjadi penghafal Al Qur’an, maka orangtuanya akan memberikan pendidikan sesuai dengan apa yang dicita-citakan. 

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Barang siapa yang tidak memperhatikan pendidikan tentang apa saja yang bermanfaat bagi anaknya dan membiarkan anaknya terlantar, sungguh dia telah melakukan kejahatan yang terbesar kepadanya. Sebagian besar hal-hal negatif pada anak-anak sebenarnya hanyalah disebabkan oleh faktor orang tua yang tidak memberikan perhatian, menelantarkan pendidikan, dan menjauhkan mereka dari kewajiban-kewajiban dan anjuran-anjuran agama. Orang tua telah menyia-nyiakan mereka di waktu kecil sehingga ketika besar mereka tidak dapat mendayagunakan diri mereka, dan orang tua pun tidak dapat merasakan manfaat dari mereka.” 

Usaha awal akan menentukan bagaimana hasil akhirnya. Berat dan ringan jangan diperhitungkan dulu di awal. Sebagaimana kita berbisnis tidak terlalu mempertimbangkan kerugian di awal. Terkadang salah orang tua menganggap pembelajaran tahfizh yang intensif seperti karantina adalah penekanan pembiasaan yang membuat orangtua prihatin melihat anaknya keberatan. Ketahuilah, dalam mengayuh sepeda pun demikian. Maka jangan persepsikan beratnya anak menghafal menjadi alasan untuk berhenti, justru semakin berat akan semakin banyak pahala yang didapatkan. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: 

“Orang yang membaca Al Qur’an dengan baik adalah mereka yang bersama as-Safaratul Kiram (para malaikat yang mulia). Adapun orang yang masih belajar dan membaca Al Qur’an dengan susah payah adalah baginya dua pahala.” (HR. Bukhari) 

Menjadi hafizh tidak perlu ditargetkan 30 juz, plus dengan tahsin yang merdu, meskipun itu adalah tujuan ideal. Silahkan disesuaikan dengan metode yang ditempuh dan hasil yang diharapkan. Justru semakin banyak hafalan akan semakin sulit menjaganya, namun bukan berarti semakin dikit hafalan akan semakin mudah menjaganya. Banyak dan sedikit jumlah hafalan tidak menentukan tinggi rendahnya seseorang, bisa saja yang sedikit lebih banyak pahala karena sering diulang-ulang sedangkan yang banyak hafalannya lebih rendah karena sering dilupakan. Sudah capek-capek dihafal kok dengan mudahnya dilupakan. 

Tapi kalau ada yang menyediakan kesempatan menghafal 30 juz mengapa tidak? Semakin banyak hafalan akan semakin besar peluang mendapatkan kemuliaan Al Qur’an. Fastabiqul khoirot, berlomba-lombalah dalam kebaikan. Minimal kita berharap demikian kepada Allah SWT. Setinggi apapun harapan kita insyaAllah akan dikabulkany-Nya, asalkan kita selaraskan dengan ikhtiar maksimal. 

Dari Mu’adz bin Anas bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membaca Al Qur’an dan mengamalkan kandungan isinya, niscaya pada Hari Kiamat Allah akan mengenakan kepada kedua orangtuanya sebuah mahkota yang cahayanya lebih indah daripada cahaya matahari di rumah-rumah dunia; maka apa pendapatmu tentang orang yang mengamalkan hal ini?” (HR. Abu Dawud) 

Terakhir, tetaplah berharap hanya kepada Allah walaupun sekeras apapun kita sudah berusaha. Berapapun uang yang sudah dikeluarkan, waktu yang sudah diberikan, juga perhatian yang sepenuhnya disampaikan. Selama tujuan kita mendidik hanya untuk mulia di mata manusia, maka jangan salahkan anakmu jika hasilnya justru tidak membekas. Bahkan mungkin saja tidak berhasil apapun. Padahal bisa saja anak yang tidak dilahirkan dari keturunan muslim namun bisa taat syariat dan hafal qur’an. Mengapa demikian? Karena petunjuk itu datangnya dari Allah SWT, bukan dari orang tua atau guru-guru tahfidz kepercayaan mereka. Ingatlah firman-Nya: 

إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ 

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al Qashash: 56) 

Maka mulailah dari sekarang kita memohon agar Dia berkenan menjadikan keturunan kita anak shalih dan shalihah serta menjadi para penghafal dan pengamal Al Qur’an. Maha Suci Allah Yang memiliki segala kemuliaan dari apa yang mereka ucapkan, Rabb semesta alam.

__________________
Bandung, 27 Juli 2019
Muhamad Afif Sholahudin, S.H

Didiklah Anakmu Menjadi Hafizh Qur'an Sejak Dini



Al Qur’an merupakan pedoman hidup manusia agar selamat dunia dan akhirat, juga mukjizat terakhir bagi kita umat Nabi Muhammad SAW. Perkataan yang paling sempurna dan tidak ada yang dapat menandinginya. Turunnya pada waktu mulia, diturunkan kepada manusia paling mulia di muka bumi. Sampai akhir zaman, kemuliaan itu terus terpancarkan sampai kepada orang yang mampu berinteraksi dengannya. Kemurnian Al Qur’an terus terjaga hingga akhir zaman, tidak ada yang sanggup membuat semisalnya atau sekedar mengubah sedikit ayatnya. 

Luar biasa mereka yang rela menghafal demi menjaga kemurnian Al Qur’an. Di antara para penghafal tersebut, ada banyak dari kaum anak-anak yang usianya mungkin masih belia. Bahkan tak jarang para hafizh qur’an yang menjuarai tingkat dunia di umurnya yang belum genap 8 tahun. Inspirasi keajaiban Al Qur’an pun sering kita dengarkan, semuanya membuat decak kagum berharap mempunyai salah seorang dari mereka berada di antara anggota keluarga kita. Meskipun kita kadang berfikir, rasanya tidak mudah menghadirkan sosok mulia hafizh qur’an bagi keturunan kita. Apa benar seperti itu? 

Menghafal memang membutuhkan proses panjang, tidak instan dan butuh perjuangan. Sebab dibutukan ilmu membaca, ilmu menghafal, ilmu menjaga hafalan, dsb. Secara psikologis pun diharuskan memiliki motivasi yang kuat, kesungguhan dan niat yang lurus, tidak bagi mereka yang hanya mencari ijazah semata. Belajar dari pengalaman para hafidz terkadang tidak cukup, mengikuti motivasi tahfidz sudah beberapa kali, berbagai metode dan cara sudah dilalui, dan tahapan lain yang harus ditempuh agar menjadi hafidz hebat. Jika mencoba menjadi hafidz qur’an berkualitas tidak mampu, minimal cukup hafal saja tidak perlu prestasi dalam perlombaan dianggap sudah cukup. 

Salahnya kita, anggapan berat yang terfikirkan dalam benak kita langsung ditransformasikan ke dalam pola pembinaan anak yang belum mencapai tingkat pendidikan yang cukup. Seperti anggapan berikut: 

“Ah, untuk orang dewasa seperti saya saja susah, apalagi untuk anak saya yang masih belajar membaca.”

“Kalau nanti anak saya fokus menghafal, lalu bagaimana dengan pelajaran setingkat teman-temannya yang sekelas nanti.”

“Saya belum yakin bisa punya anak hafal Al Qur’an, karena keluarganya saja masih belajar Islam. Nanti kalaupun dia sudah hafal, pas balik ke rumahnya lama-lama juga bakal hilang lagi hafalannya.”

Wahai para orangtua yang budiman, mencari alasan untuk tidak memberi kesempatan anak menghafal Al Qur’an adalah kesalahan fatal yang akan dirasakan penyesalannya di kemudian hari. Jika terus ditunda-tunda lalu kapan waktu agar anak dapat memulai perjuangannya menghafal qur’an? Seharusnya lebih cepat memberi kesempatan anak menghafal Al Qur’an akan lebih baik, terutama bagi anak yang masih berada di usia muda. Ada beberapa alasan, diantaranya: 

Alasan pertama, di usia muda anak masih tidak memiliki banyak fikiran. Mungkin yang difikirkan oleh usia anak-anak hanya main dan main, kadang untuk makan saja butuh diingatkan. Namun anda akan merasakan jika semakin tua akan semakin banyak fikiran karena beban untuk berfikir akan semakin banyak. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka akan semakin banyak pengetahuan yang dipelajari, begitulah konsekuensi logis tingkatan pendidikan. Jika sudah banyak fikiran, wajar bila anak akan mudah menolak tawaran untuk menghafal Al Qur’an. 

Alasan kedua, anak ketika usia muda akan lebih mudah untuk diajak beraktivitas, karena jangkauan aktivitas masih belum luas. Jika anak belum masuk SD maka pengetahuan lingkungan yang dikenal hanya sebatas rumah dan tetangga, jika sebelum masuk SMP maka pengetahuan lingkungan hanya sebatas sekolah dan teman dekatnya. Berbeda dengan tingkatan pendidikan yang semakin tinggi akan meluaskan jangkauan pergaulan anak. Semakin luas pergaulan anak maka akan semakin sulit orangtua mengajak anaknya mengikuti program hafidz qur’an. Mengapa bisa begitu? Karena bagi dia ada banyak pertimbangan aktivitas yang harus dilakukan seiring dengan luasnya pergaulan anak kita. 

Alasan ketiga, semakin muda usia akan membuat hafalan semakin kuat. Sebagaimana peribahasa, belajar di waktu muda bagaikan mengukir di atas batu, belajar di waktu tua bagaikan mengukir di atas air. Memang akan lebih sulit menghafal di usia muda, namun hasilnya akan lebih berbekas. Berbeda jika usia menginjak tua akan mudah menghafal namun konsekuensinya akan mudah pula lupa. 

Alasan keempat, kebiasaan waktu muda akan dibawa hingga tua. Sejak kecil anak sering diajak ke masjid, maka tidak heran jika masa remaja hingga dewasanya terbiasa untuk ke masjid. Begitupun dengan bacaan sholat, mungkin seringnya kita membaca surat pendek berupa al Ikhlas atau al ‘Ashr karena dulu sewaktu kecil kita selalu dibiasakan membacanya. Atau kebiasaan kita terburu-buru setelah sholat langsung keluar tanpa dzikir, tidak lain dikarenakan kebiasaan kita tidak pernah menyempatkan waktu dzikir setelah sholat sejak kecil. Lalu bagaimana jika kita ingin agar anak kita sekalipun sudah dewasa masih tetap menjaga muroja’ah hafalannya? Tentu saja dibiasakan sejak kecil mengulang hafalannya. Jika di keluarga kita sudah punya kebiasaan membaca Al Qur’an setiap ba’da shubuh dan maghrib, seharusnya bisa kita tingkatkan sampai menghafal beberapa ayat tambahan. Sedikit pun tidak apa asalkan kebiasaan itu tetap dijaga. 

Keluarga adalah arena terpenting dalam pendidikan anak. Syaikh Abu Hamid al-Ghazali ketika membahas tentang peran kedua orang tua dalam pendidikan, beliau mengatakan, “Ketahuilah, bahwa anak kecil merupakan amanat bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apa pun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya. Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan, dia akan tumbuh dalam kebaikan. 


Dan berbahagialah kedua orangtuanya di dunia dan akhirat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tapi jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagaimana binatang ternak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh pengurus dan walinya. Maka hendaklah ia memelihara, mendidik dan membina serta mengajarinya akhlak yang baik, menjaganya dari teman-teman jahat, tidak membiasakannya bersenang-senang dan tidak pula menjadikannya suka kepada kemewahan, sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari hal tersebut bila dewasa.”[1]


Oleh karena itu, mulai sekarang hapus semua persepsi keberatan untuk melatih anak menghafal Al Qur’an. Menunda-nunda kebiasaan baik akan memberikan waktu luang diisi oleh kebiasaan buruk lainnya. Bukankah melahirkan calon hafidz qur’an butuh waktu dan usaha yang tidak instan? Segera bicarakan dengan anakmu, yakinkan mereka bahwa menghafal adalah ilmu yang utama, bahkan dibutuhkan sekalipun sudah lulus sekolah hingga mati kelak. 

Untuk mengetahui apa saja keutamaan menghafal Al Qur’an silahkan bisa baca banyak referensi terkait hal itu. Salah satu keutamaannya para penghafal Al Qur’an yakni mereka yang telah Allah masukkan sebagai orang-orang khusus kepercayaan-Nya, mereka adalah keluarga ahlul qur’an. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: 


“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka yang Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para Ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihan-Nya.” (HR. Ahmad) 


__________________
Bandung, 27 Juli 2019
Muhamad Afif Sholahudin

========
[1] Muhammad Hamid an-Nashir dan Khaulah Abdul Qadir Darwisy, Tarbiyah al-Athfal fi Rihab al-Islam fi al-Bait wa ar-Raudhah, hlm. 41