Showing posts with label News. Show all posts
Showing posts with label News. Show all posts

Friday, 11 May 2018

Anak Muda Zaman Sekarang Menolak Kapitalisme Tapi Tak Yakin Sosialisme, Apa Solusinya?


Anak muda zaman sekarang semakin tidak menyukai cara pemimpin mereka bekerja. 

Kemarahan mereka baru-baru ini tergambar ketika ribuan anak mudadan yang lainnya melakukan demonstrasi tanggal 24 Maret lalu menuntut adanya kontrol senjata, hampir sebulan setelah sejumlah teman mereka tertembak dan terbunuh di sebuah SMA di Parkland, Florida. 

Namun ada bukti yang semakin menguatkan bahwa anak muda zaman sekarang, yang berusia antara 18 sampai 29 tahun, memiliki ketidakpuasan yang kuat terhadap aspek mendasar sistem ekonomi dan politik kita. Secara khusus, semakin banyak yang menolak kapitalisme. 

Hal ini mendorong kami – seorang sosiolog dan ekonom – bertanya-tanya bagaimana anak muda mendesain kembali sistem ekonomi jika mereka diberi kesempatan. Berdasarkan survei terkini, jawaban mereka seharusnya membuat para politisi pendukung status quo untuk berpikir ulang tentang kebijakan ekonomi mereka. 


Menolak kapitalisme 


Awalnya, kami ingin memahami lebih bagaimana perasaan anak muda terhadap sistem ekonomi saat ini. 

Jadi, kami mulai dengan mengamati sebuah survei dari Harvard University di tahun 2016 yang menemukan bahwa 51% anak muda Amerika yang berusia 18 sampai 29 tahun tidak lagi mendukung kapitalisme. Hanya 42% yang mengatakan mereka mendukungnya, sementara hanya 19% yang mau menyebut diri mereka kapitalis. 

Meskipun kenyataan bahwa anak muda dari generasi manapun memiliki kecenderungan untuk memberikan sedikit dukungan pada sistem ekonomi dan politik yang berkuasa mungkin saja benar dan kondisi akan berubah ketika mereka bertambah umur, survei terakhir mengenai topik ini menunjukkan bahwa ada sebuah fenomana baru yang dirasakan anak muda zaman sekarang. Sebuah survei di tahun 2010 menunjukkan bahwa hanya 38% dari anak muda yang memiliki pandangan negatif terhadap kapitalisme – dan hasil ini muncul tepat setelah krisis finansial dan ekonomi terburuk setelah Era Depresi Besar, yang menimpa anak-anak muda cukup parah. 
Chart: The Conversation, CC-BY-ND. Research by Joseph Blasi and Douglas Kruse. Data provided by The Roper Center for Public Opinion Research. Source: Peter Hart Poll (1975), Gallup Poll (2010), Princeton Survey Research Associates for the Pew Research Center (2010), Institute of Politics Poll (2015), Institute of Politics Poll (2016)

Lalu bagaimana kita memahami ini semua? Apa itu berarti mereka lebih memilih sistem sosialisme, ketika pemerintah secara aktif mengatur dan mencampuri kegiatan ekonomi dan membatasi pilihan individu? 

Sejauh ini tidak jelas. Penelitian dari Harvard menunjukkan hanya 33% yang mengatakan mereka memilih sosialisme. Sebuah survei terpisah di tahun 2015 yang dilakukan oleh kelompok konservatif Reason-Rupe menemukan bahwa generasi muda dengan umur antara 18 sampai 24 tahun memiliki pandangan lebih mendukung sosialisme ketimbang kapitalisme. 

Pandangan mereka bertentangan dengan pandangan generasi orang tua, yang secara konsisten mengatakan bahwa mereka memilih kapitalisme di survei-survei dengan suara marjin yang cukup besar – dan semakin bertambah jumlahnya ketika umur mereka bertambah. Namun, jumlah yang mempertanyakan prinsip kapitalisme tetap saja jumlahnya paling tinggi setidaknya dalam 80 tahun semenjak survei untuk topik semacam ini dilakukan. 

Untuk memastikan, pertanyaan dalam survei tersebut berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya, dan ukuran sampel tidak selalu cukup besar untuk membuat kesimpulan. 

Namun hasilnya tetap sama yaitu generasi anak muda adalah bagian dari barisan depan rakyat Amerika yang mulai kehilangan keyakinannya terhadap kapitalisme dan bersiap untuk menyambut sesuatu yang baru. 




Tapi apa yang mereka inginkan? 


Jadi, jika anak muda semakin menolak kapitalisme sedangkan mereka tidak yakin terhadap sosialime, apa yang mereka inginkan? 

Untuk menjawab ini, kami perlu menelusuri apa yang tidak memuaskan dari sistem kapitalisme 

Sebuah diskusi yang menindaklanjuti penelitian Harvard menyimpulkan bahwa banyak dari anak muda ini yang merasakan bahwa “kapitalisme tidak adil dan tidak melibatkan banyak orang meskipun mereka bekerja keras”. Sebuah survei pada tahun 2012 oleh Pew Research Center menemukan bahwa 71% dari mereka yang berusia 18 sampai 34 tahun merasa adanya konflik yang kuat antara yang miskin dan yang kaya pada masyarakat Amerika. 

Sebagian besar anak muda mengatakan mereka percaya bahwa ada orang yang mendapatkan sesuatu karena mereka memiliki sesuatu entah karena “mereka kenal seseorang atau mereka terlahir dari orang tua yang kaya.” 

Pandangan terhadap ketidaksetaraan ini tertanam di dalam sistem ekonomi Amerika milik orang partai Republik atau Demokrat, Independent atau golongan konversatif, moderat dan liberal. Bagi kami, hal ini menunjukkan alasan penting mengapa anak muda kehilangan keyakinannya terhadap kapitalisme adalah karena sistem tersebut telah kehilangan kemampuannya untuk bersikap adil. Namun mereka tampaknya tidak berpikir bahwa sebuah sistem alternatif lainnya seperti sosialisme bisa menyelesaikan masalah. 

Kita bisa memulai memikirkan apa yang mungkin saja berhasil di pikiran mereka dengan mengamati survei tahun 2015 oleh Public Policy Polling, yang menanyakan pada narasumbernya pandangan mereka terhadap perusahaan yang dimiliki karyawan dan campur tangan pemerintah untuk mendorong keberadaan perusahaan dengan kepemilikan semacam itu. 

Survei tersebut menemukan bahwa 75% dari responden yang berusia 18 sampai 29 tahun mendukung ini, lebih dari kelompok usia yang lain, sementara itu 83% mengatakan konsep perusahaan yang dimiliki karyawan adalah konsep yang sangat Amerika sama seperti pai Apel, hot dog dan baseball. 

Jadi survei-survei ini menunjukkan bahwa anak muda bukannya tidak menginginkan berkurangnya kapitalisme, mereka bahkan menginginkannya lebih. Mereka hanya ingin memastikan kalau kesempatan untuk berbagi menjadi lebih luas, seperti misalnya dengan membuat kita lebih mudah menjadi kapitalis dan kemudian membagi kekayaannya yang kita sama-sama bangun. 

Ketika kami bertemu generasi zaman sekarang dalam ruang kelas, kami dikejutkan oleh kuatnya dukungan atas konsep ini di dalam kelas ekonomi dan tata kelola pemerintahan. 

Survei lainnya yang menunjukkan keinginan untuk bentuk yang lebih inklusif dari kapitalisme semakin banyak ditemui. Sebuah survei tentang tempat bekerja di Amerika pada tahun 2016 menemukan bahwa 40% pekerja Amerika akan meninggalkan perusahaan mereka untuk bekerja di perusahaan lain yang menerapkan sistem berbagi keuntungan dengan pekerjanya. 

Akhir-akhir ini menjadi lebih mudah untuk bekerja di perusahaan-perusahaan semacam itu karena semakin banyak perusahaan di Amerika yang mengakui keberhasilan kepemilikan saham perusahaan oleh karyawan, dikarenakan oleh kemampuannya untuk mengurangi keluar masuknya pegawai (turnover) dan meningkatkan kinerja ekonomi. Dan baru tahun lalu, sebuah perusahaan di Lembah Silicon menawarkan sertifikat bagi perusahaan yang dimiliki oleh karyawan untuk membangun “ekonomi yang dimiliki oleh karyawan”. 


Menargetkan ekonomi 


Apa yang orang lihat pada tanggal 24 Maret adalah sebuah kekuatan politik yang energik, dinamis dan kuat di Amerika. 

Saat ini gerakan ini berfokus pada kontrol kepemilikan senjata. Dan kekuatan ini mungkin akan berpaling selanjutnya pada struktur perusahaan dan sistem ekonomi yang telah mengakibatkan melebarnya ketimpangan. 

Sama seperti anggota parlemen mungkin ingin memikirkan ulang pandangan mereka terhadap hak-hak atas kepemilikan senjata, mereka juga mungkin akan menengok kembali pemahaman mereka mengenai seperti apa kapitalisme itu. 

Chart: The Conversation, CC-BY-ND. Research by Joseph Blasi and Douglas Kruse. Data provided by The Roper Center for Public Opinion Research.
Anda bisa baca versi bahasa inggris dari sumber aslinya.

Thursday, 8 March 2018

Kala Curiga Menghantui Cadar di Kampus Islam



REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhamad Afif Sholahudin *)

Perkembangan zaman biasanya diikuti dengan perubahan norma sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Kebiasaan menggunakan cadar pun semakin diminati, penggunanya semakin banyak bahkan mulai bermunculan komunitas-komunitas cadar khususnya di kalangan remaja. Selain menunjukkan bahwa cadar adalah bagian dari syariat Islam, kehadiran mereka pun berusaha meluruskan persepsi kebanyakan masyarakat bahwa cadar identik teroris.

Tak heran jika anggapan seperti ini kerap kali muncul, seringnya aksi terorisme yang terekpos di Indonesia selalu pelakunya dikaitkan dengan sosok agamis, kaum celana cingkrang, jenggot panjang dan jilbab bercadar. Tuduhan seperti itu sangat tendensius, disamping masih banyak lagi kejadian yang lebih keras efeknya dibanding isu terorisme baru-baru ini. Bahkan koruptor yang jelas merugikan negara pun bisa terlihat agamis saat menghadapi persidangan.

Menarik dari fenomena ini, belakangan ada salah satu kampus Islam di Yogyakarta yang mengeluarkan peraturan bagi mahasiswanya yang bercadar. Bukan sebuah larangan, tapi berupa pendataan dan pembinaan di setiap lapisan civitas kampus. Melalui surat bernomor B-1301/Un.02/R/AK.00.3/02/2018 Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta baru-baru ini mengeluarkan surat edaran ‘penting’ bagi Direktur Pascasarjana, Dekan Fakultas dan Kepala Unit/Lembaga di kampusnya. Perlu disoroti tujuan dari pendataan tidak lain melakukan pembinaan bagi para pengguna cadar.

Pertimbangannya berupa peraturan kampus yang harus ditaati, selain itu pihaknya perlu mengantisipasi masuknya aliran-aliran yang tidak diharapkan di kampusnya. Meskipun mereka sudah menjelaskan bahwa pihaknya tidak bermaksud memberikan stigma negatif bagi mahasiswinya yang bercadar, namun upaya untuk menginvestigasi kegiatan-kegiatan mahasiswa terselubung masih tetap dilakukan. Setidaknya info ini yang dijelaskan oleh Waryono, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama (detik.com 22/2/2018).

Memang pada dasarnya kampus berhak mengeluarkan aturan yang mengharuskan mahasiswanya terkait pakaian yang digunakan. Hal itu merupakan bagian dari norma akademik kampus, yakni ketentuan, peraturan dan tata nilai yang harus ditaati seluruh manusia berkaitan dengan aktivitas akademik. Begitupun sanksi yang ditetapkan untuk jenis pelanggaran baik yang bersifat akademik maupun non akademik. Namun, hal ini tentunya dibatasi dengan peraturan yang berlaku. Dalam Pasal 6 UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi bahwa Pendidikan Tinggi diselenggarakan dengan prinsip: (b) Demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai agama, nilai budaya, kemajemukan, persatuan, dan kesatuan bangsa.

Jika kampus dituntut untuk tidak diskriminatif, maka aturan pendataan dan pembinaan tertentu karena ditakutkan terkontaminasi aliran tertentu bisa jadi dinilai diskriminatif tergantung sudut pandang yang digunakan. Penulis melihat mereka yang didata tentu merasa didiskriminasikan karena dirasa dicurigai oleh pihak kampus, kecurigaan kampus tentu akan berdampak kepada lingkungan kampus. Seharusnya menggunakan cadar adalah hak asasi manusia dan bagian dari nilai agama Islam yang harus dijaga di kampus Islam.

Bagi kampus yang mengeluarkan kebijakan merasa kebijakannya merupakan bagian dari antisipasi kemungkinan rusaknya persatuan dan kesatuan bangsa. Namun hal itu harus dibuktikan terlebih dahulu bahwa pernah didapatkan penyebab hal yang dimaksud di kampusnya, jika tidak bisa dibuktikan maka kampus dinilai paranoid terhadap mahasiswanya. Adakah mahasiswanya yang ditangkap oleh badan anti terorisme karena tindakannya merusak kesatuan bangsa, atau jika dikerucutkan mahasiswi bercadar mana yang terlibat dalam memecah belah bangsa. Jika tidak lantas kepentingan apa yang melatarbelakangi kampus memaksakan pembinaan kepada seluruh mahasiswinya yang bercadar.

Kampus harus bersifat netral dan tidak boleh dikendalikan oleh pengaruh apapun, setidaknya hal ini dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Pendidikan Tinggi. Dalam penjelasan umum bahwa misi utama Pendidikan Tinggi adalah mencari, menemukan, menyebarluaskan, dan menjunjung tinggi kebenaran. Agar misi tersebut dapat diwujudkan, maka Perguruan Tinggi sebagai penyelenggara Pendidikan Tinggi harus bebas dari pengaruh, tekanan, dan kontaminasi apapun seperti kekuatan politik dan/atau kekuatan ekonomi, sehingga Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, dapat dilaksanakan berdasarkan kebebasan akademik dan otonomi keilmuan.

Mencurigai pengguna cadar secara general sebagai pembawa ideologi impor adalah hal yang gegabah, ditambah pendataan dan pembinaan seluruh mahasiswi bercadar dinilai langkah yang kurang bijak. Ditakutkan berdampak kepada mental para mahasiswi bercadar di lingkungan teman-temannya bahwa dirinya bagian dari golongan yang dimungkinkan dimasuki aliran radikal. Sikap kampus kurang tepat karena secara tidak langsung bahaya itu digeneralisir bagi kaum cadar, padahal kampus adalah lingkungan yang menjunjung tinggi kebebasan akademik bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Mengenakan cadar tidak lain untuk kebaikan pengguna dan orang yang melihatnya agar terjaga dari fitrah. Tidak pantas memberikan stigma negatif kepada para pengguna cadar, jangan sampai persepsi buruk terhadap cadar malah menimbulkan ketakutan bagi para muslimah yang awalnya tertarik ingin menggunakannya namun enggan karena sebab kecurigaan. Biarkan mereka menggunakannya sebagai bentuk menjalankan ekspresi keberagaman.

Jika merujuk pada UUD 1945 Pasal 28E Ayat (2) bahwa setiap orang berhak atas kepercayaannya, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya. Penggunaan cadar dijamin oleh konstitusi Indonesia, tidak berhak didiskriminasi dan direndahkan martabatnya. Sebagaimana Pasal 28I Ayat (2) bahwa setiap orang bebas dari perlakuan yang bersifat dikriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.

Tindakan kampus yang terlalu pro-aktif menanggulangi paham radikal dengan mengawasi wanita bercadar justru menimbulkan stigma negatif di tengah masyarakat. Awalnya bermaksud melakukan pembenahan namun dianggap mencoreng nama kampus berlabelkan Islam. Publik berharap kampus Islam seperti UIN mampu mencerminkan lingkungan ilmiah yang bernuansa islami.

Mengacu kepada Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor: Dj.I/255/2007 tentang Tata Tertib Mahasiswa Perguruan Tinggi Agama Islam, dalam Pasal Pasal 3 tentang Kewajiban dan Hak Mahasiswa bahwa setiap mahasiswa PTAI berkewajiban: (6) Berpakaian sopan, rapi, bersih dan menutup aurat terutama pada saat kuliah, ujian dan ketika berurusan dengan dosen, karyawan maupun pimpinan. Khusus bagi mahasiswi wajib berbusana muslimah sesuai dengan syari’at Islam.

Begitupun dijelaskan di Pasal 5 tentang Larangan bahwa setiap mahasiswa PTAI dilarang: (1) Memakai kaos oblong/tidak berkerah, celana atau baju yang sobek, sarung dan sandal, topi, rambut panjang dan/atau bercat, anting-anting, kalung, gelang (khusus laki-laki) dan tato dalam mengikuti kegiatan akademik, layanan administrasi dan kegiatan kampus. Khusus bagi mahasiswi dilarang memakai baju dan/atau celana ketat, tembus pandang dan tanpa berjilbab dalam mengikuti kegiatan di kampus.

Sejak dulu UIN dipandang sebagai kampus yang inklusif dan ramah terhadap perbedaan pendapat, ragam pemikiran dan madzhab dari yang paling kanan hingga paling kiri pun dapat kita temukan. Entah mengapa belakangan ini terlihat terbuka terhadap mahasiswanya yang bercorak barat namun alergi terhadap corak keislaman karena dianggap budaya arab dan tidak cocok bagi warga nusantara.

Meskipun masalah cadar sudah berulang kali dibahas bahwa penggunaannya bagian dari syariat Islam bukan impor timur tengah. Padahal, di kampusnya dibahas hukum mengenakan cadar, maka hal yang wajar jika ita temukan banyak pengguna cadar di kampus Islam dibandingkan kampus umum lainnya yang tidak membahas seputar hukum cadar.

Hindari sikap standar ganda terhadap agama. Jangan sampai kita anggap pengguna cadar adalah orang yang memposisikan diri ekslusif atau bisa jadi anggapan itu muncul karena sikap egoisme kita ketika berkomunikasi dengan mereka. Curiga bukanlah sikap menghargai keberagaman, alangkah baiknya jika saling menghormati perbedaan khususnya dalam perkara agama yang sama. Waspada memang bentuk sikap kehati-hatian, namun jangan dilandasi dengan kecerobohan, imbasnya bisa mengundang batil secara kebetulan.

*) Badan Eksekutif (BE) Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) Jawa Barat, S1 Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/kabar/18/03/05/p52h7m396-kala-curiga-menghantui-cadar-di-kampus-islam


Friday, 15 August 2014

Aborsi legal, Buah Sistem Liberal


Sudah sejak lama kasus pelaksanaan aborsi dilarang di indonesia, sekarang pemerintah malah melegalkannya. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 61 Tahun 2014 yang baru-baru ini dibuat adalah wujud sikap pemerintah atas dilegalkannya praktek aborsi. Masih menjadi perbincangan yang hangat Antara pihak pro dan kontra terhadap peraturan yang baru keluar ini. 

Menurut perkiraan BKKBN atas surveynya mengenai jumlah praktek aborsi yang terjadi, ada sekitar 2.000.000 lebih kasus aborsi yang terjadi setiap tahunnya di Indonesia. Berarti ada 2 juta nyawa yang dibunuh setiap tahunnya dengan keji. Selain itu, frekuensi terjadinya aborsi sangat sulit dihitung secara akurat, karena memang aborsi buatan sangat sering terjadi tanpa dilaporkan. Kecuali ketika ada komplikasi sehingga harus diaporkan ke rumah sakit. Sumber: aborsi.org

Ini adalah angka yang sangat tinggi, bahkan lebih tinggi dari korban jiwa kecelakaan atau karena penyakit. Di amerika saja 550 ribu meninggal karena kanker dan 700 ribu karena penyakit jantung. Bisa dikatakan lebih banyak dibanding korban perang. 

Aborsi yang dilakukan pada umumnya dilakukan oleh remaja rentang umur 15-25 tahun, sisanya mungkin karena ada kondisi medis yang parah yang tidak memungkinkan bayi tersebut selamat. Dan sifat remaja tersebut pun sama alias tidak ada kesadaran, yang ada penyesalan. Tanpa ada yang tahu bagaimana bayi itu bisa ada, bahkan sampai kita sendiri tidak menyadari banyaknya nyawa yang melayang secara diam-diam. Akhirnya ketika sudah terbongkar, barulah menyadari dia ternyata adalah seorang pembunuh. 

Masya allah.. 

Pelegalan aborsi itu terdapat di Pasal 31 PP Kesehatan Reproduksi. Bunyinya:
(1) Tindakan aborsi hanya dapat dilakukan berdasarkan:
a. indikasi kedaruratan medis; atau
b. kehamilan akibat pemerkosaan
(2) Tindakan aborsi akibat pemerkosaan hanya dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama berusia 40 hari, dihitung sejak hari pertama haid terakhir. 

Jika ketika sang ibu dan bayi dalam keadaan kritis sehingga mau tidak mau harus melakukan aborsi, itu termasuk ke dalam hal yang diperbolehkan karena memang harus ada nyawa yang diselamatkan. Tentu itu terjadi ketika bayi belum genap 9 bulan ya.. karena kalau udah genap 9 bulan berarti namanya sesar alias melahirkan dengan cara yang lain.

Tapi ketika aturan korban perkosaan diperbolehkan untuk aborsi, maka ini akan menjadi alasan yang menarik agar sang penderita bisa melakukan aborsi. Entah itu dengan alasan hasil pemerkosaan atau bukan. Ketika seseorang dinyatakan hamil, maka tinggal lapor bahwa dia adalah korban permerkosaan. Lalu siapa yang memerkosa? Ya kabur lah.. masa datengnya barengan trus tiba-tiba ngaku gitu?? (ini nih yg namanya alesan -_-). Kalau begini terus pasti angka pemerkosaan di Indonesia akan meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat aborsi di indonesia. 

Bahaya bukan hanya mengancam angka aborsi, tapi praktek perzinahan bakalan memuncak. Ketika aborsi masih dilarang karena jelas melanggar perikemanusiaan saja masih banyak yang melakukan, apalagi kalau sudah dilegalkan. Nanti orang berbuat berzina tanpa takut lagi adanya resiko melanggar aturan, kan sudah dilegalkan. Itulah karena kebanyakan orang masih menganut aturan Negara yang dibuat oleh tangan-tangan manusia ini, bukannya malah mengikuti aturan-aturan agama yang sudah jelas buatan sang pengatur alam semesta 

Lama kelamaan jangan-jangan Indonesia bakalan melegalkan perzinaan?? Naudzubillahi mindzalik

Legalisasi Aborsi? Apa Indonesia tidak Malu dengan Jerman?

Bukan ingin membandingkan agar barat dijadikan sebagai contoh ya. Tapi betul sekali kalau memang negeri barat saja yang tidak memegang teguh tauhid mengerti bahwa jika aborsi dilegalkan nanti akan berakibat fatal kedepannya. sumur. Lah, kita sebagai Negara dengan mayoritas muslim malah melaksanakan aturan yang diluar perikemanusiaan ini. Sekali lagi itu semua karena di sini yang buat aturan manusia, seenaknya tanpa memandang ada tuhan sang pengatur alam semesta.

Indonesia liberal, Makin Bebas Makin Ancur 

Kembali lagi bahwa ketika suatu negara membuat aturan yang bersifat bebas, maka kualitas masyarakatnya lama kelamaan akan menurun. Seperti amerika serikat yang menjadi Negara dengan tingkat kriminalitas tertinggi di dunia. Ada lebih dari 200 senjata berkeliaran dan lebih dari 50 pembunuhan sehari, 10 kali lebih banyak dari jerman. Hampir 5000 orang meninggal setahun di kecelakaan truk, sekitar 6000 meninggal karena kejang-kejang di jalan dan 31000 orang mengakhiri hidup mereka sendiri. Itu semua karena aturan yang terlalu bebas sehingga tiap-tiap individu bebas atas semua kelakuannya. Sumber : kaskus.co.id

Sama halnya seperti Indonesia yang sudah lama melegalkan pornografi, walaupun yang dikeluarkan tidak sepenuhnya alias ada batasannya, tapi pelegalan tersebut sama saja tentunya akan menurunkan kualitas bangsa khususnya remaja yang lebih menikmati aturan ini. Nah, jika sebelum dilegalkan saja tingkat aborsi sudah tinggi, maka dapat dipastikan kalau setelah dilegalkan akan terjadi peningkatan dari sebelumnya

Perubahan Hakiki 

Jelas aturan bebas/liberal bisa saja dibuat karena memang sistemnya tidak melarangnya. Jadi semua itu dikarenakan sistem yang digunakan oleh wilayah tersebut. Kita terlalu fokus mengurusi pemerintahan yang pada hakikatnya pemerintah akan sejalan dengan sistem yang telah ada. 

Kita sama seperti fokus pada seorang supir yang bisa saja dia mau membawa penumpangnya kemanapun dia mau, tapi tidak bisa keluar dari jalan yang ada. Nah, jalan itulah yang namanya sistem. Mengatur sopir agar ke arah tertentu, berarti mengatur pemerintah ke jalan sistem yg ada sekarang yaitu kapitalisme/liberalisme.

ketika sistem itu diperbaiki, maka seluruh yang ada di dalamnya pun akan ikut diperbaiki. Jadi bukan hanya sekedar mencampakkan sistem yang ada, tapi juga memberikan pilihan terbaik sesuai dengan hukum sang pencipta alam semesta, yaitu dengan syariat islam. sistem yang sudah Berjaya lebih dari 13 abad lamanya..

Thursday, 7 November 2013

Ketika Wartawan Mengerti LKMA

LKMA sudah diujung tanduk. 3 hari sebelum pelepasan suasana sudah semakin menegangkan. Tinggal hanya dijalankan dan dipastikan bahwa LKMA merupakan solusi terbaik menciptakan pemimpin umat. Hanya ada satu kendala lagi yang masih mengganjal di benak para peserta, media partner. Kami sudah mengambil beberapa pilihan yang kira-kira bisa menjadi media partner untuk LKMA ini. Akhirnya pun kita dapatkan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) sebagai media partner kami.

Kami berangkat langsung ke gedung PWI cabang Kota Bogor. Untuk jadwal pertemuan sudah direncanakan dari sebelum-sebelumnya hanya tinggal menunggu kedatangan kami di tempat. Tepat pukul 14.00 WIB agenda diskusi pun dimulai. Dari 11 orang yang hadir, 4 perwakilan dari PWI dan 7 orang perwakilan dari kami yang terdiri dari 2 pendamping dan 5 siswa. Diskusi ini hanya sekedar memperkenalkan apa itu LKMA dan mengajak PWI sebagai media partner kami.

Kami disambut baik dari pihak PWI hingga akhirnya dimulainya agenda diskusi mengenai LKMA.

“Sekolah kami dilandaskan sekolah calon pemimpin. Jadi di beberapa agenda harian siswa kami memang ada beberapa berbeda dari sekolah lain. Tapi banyak dari aktivitas-aktivitas siswa kami sematkan beberapa aktivitas yang dapat memacu sifat kepemimpinan itu timbul pada diri masing-masing siswa. Itu semua karena kita berlandaskan Sekolah Calon Pemimpin.” Kata Bapak Andi, selaku perwakilan dari Kepala Sekolah SMAIT Insantama.

Dari pihak PWI sendiri mereka sangat kagum melihat sekolah seperti ini. Karena memang jarang-jarang sekolah yang mengedepankan aspek kepemimpinan. Dan mereka pun baru menyadari kalau misalnya hal seperti inilah yang sangat dibutuhkan oleh Negara kita agar Negara kita bisa berubah.

“Sebenarnya tugas kami sebagai seorang wartawan itu hanyalah menyalurkan opini masyarakat. Tapi lain halnya jika kita menyalurkan aspirasi sendiri namanya bukan menyalurkan opini tapi beropini.” Kata salah satu pengurus PWI.

Setelah itu barulah dari pihak siswa menjelaskan apa itu LKMA dan alasan betapa pentingnya LKMA itu dilaksanakan. 

“Seudah tiga kali kita melaksanakan program kepemimpinan di SMAIT Insantama dan LKMA inilah yang terakhir. Mulai dari LDK 1, LDK 2 dan LKMM sudah kami lewati. Hanya tinggal tingkat akhir ini saja yang tinggal kita jalankan.” Kata Addin, selaku Ketua LKMA 2013. 

Dari pihak PWI, mereka sangat kagum melihat program ini karena beberapa alasan menurut mereka program ini HARUS dilaksanakan. Menurut mereka sebenarnya banyak sekali program sekolah jalan-jalan ke luar negri dan itu bersifat tidak bermanfaat. Baru kali ini mereka mendengar program yang dilakukan untuk studi komparasi kepemimpinan di dua Negara. Tujuannya pun tidak main-main melainkan untuk belajar dan menerapkan kepemimpinan sebagai lulusan sekolah yang berslogan “Sekolah Calon Pemimpin” ini.

“Saya salut dengan sekolah ini karena menurut saya sekolah ini nanggung. Mengapa tidak sekalian dibuat universitas yang bisa menjadi tingkat lanjutan dari SMAnya. Dan sekali lagi sekolah ini sebenarnya nanggung.” Kata Bapak Pengurus PWI Bidang Organisasi.

Banyak lagi kemudian yang diceritakan oleh Bapak Karebet mengenai perjuangan berdirinya sekolah Insantama dan bagaimana bisa meraih banyak penghargaan pemenang padahal statusnya masih sekolah baru. Ajang internasional sudah pernah diikutkan dan menjadi perwakilan Indonesia. Lalu banyak lomba tingkat jabodetabek yang dimenangkan oleh siswa siswinya. 

Oleh karena itu tidak heran jika dari pihak PWI sendiri mengira anak-anak dari SMAIT Insantama selalu mempunya mimpi tinggi. Seperti ingin terbang ke Malaysia dan Singapura dengan mencari uang sendiri atau found rising. Kemudian cita-cita adik kelasnya yang ingin terbang ke Australia dan dilanjutkan angkatan berikutnya ke Jepang. Dan yang terakhir yaitu lulus menjadi seseorang yang dapat mengubah umat dari kondisi sekarang ini. 

“Baiklah, mungkin yang kita harapkan dari kami satu tapi yang kita dapatkan malah lima. Sungguh pertemuan yang sangat kami harapkan sejak dulu. Semoga kerjasama PWI dan Insantama semakin baik untuk kedepannya.” Kata Bapak Karebet sebagai penutup diskusi kami dengan pihak PWI.

Nah, ternyata memang benar rezeki itu datangnya tidak disangka-sangka. Awalnya kami hanya ingin menampilkan reportase kami di PWI malah ditambah kerjasama yang baik untuk di banyak bidang. Itu semua karena keinginan PWI yang kuat untuk menyalurkan opini kami yang mereka anggap itu penting diketahui oleh banyak orang. Dan semakin lama maka insya Allah insantama akan semakin banyak dikenal orang. Dan sekali lagi, perjuangan kami tidak hanya sampai di sini. Sampai kondisi umat belum berubah maka kami tidak akan pernah berhenti bertindak. [114]

Friday, 26 July 2013

Temu Tokoh dan Ulama Kabupaten Bogor dalam Rangka Diskusi Mengenai Penolakan Miss World 2013 dan Buka Bersama

Sudah 15 menit saya menunggu acara “Temu Tokoh dan Ulama Kabupaten Bogor Dalam Rangka Diskusi Mengenai Penolakan Miss World 2013 dan Buka Bersama” dimulai namun baru setengah tokoh dan ulama yang hadir di tempat. Karena acara ini urgent untuk dihadiri oleh para tokoh dan ulama akhirnya panitia berencana untuk menunggu sampai semua datang di tempat. Tepat acara dimulai pada pukul 17.00 WIB hari Rabu, 24 Juli 2013 di Rumah Makan Bambu Haur Sentul, Bogor.

Thursday, 25 July 2013

7 Alasan Menolak Miss World 2013 Di Indonesia

alasan menolak miss world 2013

Beredarnya berita mengenai diadakannya acara Miss World di Bogor membuat para warga menolak untuk mengadakan acara tersebut. Bahkan warga Sentul sendiripun menolak untuk mengadakan acara maksiat di daerahnya ia tinggal. Sudah banyak yang menolak bahkan membuat ancaman kepada Pak Bupati kalau misalnya acara itu diadakan.

Semua ormas islam telah setuju untuk menolaknya. Namun tetap saja acara ini masih dipertahankan, walaupun katanya Pak Bupatinya sediripun tidak tahu menahu kapan dia mengizinkan acara tersebut. akhirnya terjadilah lempar melempar masalah. Semuanya pada mengaku tidak tahu menahu mengenai penyelenggaraan acara ini.

Monday, 1 July 2013

BLSM, Bantuan atau Jebakan?


Sejak diberitahukannya ada Bantuan Langsung Sementara Masyarakat sebagai obat atas diberlakukannya kenaikan BBM ini ternyata mengundang banyak kontroversi baik di kalangan rakyat maupun pejabat. Uang yang diberikan kepada rakyat miskin sebesar Rp. 150 ribu/bulan selama 4 bulan ini tidak menimbulkan banyak perubahan.

Banyak yang menganggap bantuan ini tidak berguna banyak karena ditimbang dari perbandingan kebutuhan hidupnya. Bantuan yang hanya diberikan kepada rakyat mikin ini nyatanya tidak sesuai yang direncanakan. Banyak orang kelas ekonomi atas yang mengikuti program ini. Seperti orang yang memiliki telepon pintar yang sudah tergolong kelas ekonomi atas. Lantas kemanakah hak-hak yang pemerintah janjikan tersebut?

Sunday, 17 February 2013

Berburu Pengetahuan di IBF Bogor 2013


Pameran buku Islamic Book Fair 2013 telah menarik perhatian beberapa warga di wilayah bogor, khususnya di dekat daerah Masjid Raya Bogor. Setelah diadakannya IBF 2013 ini sejak tanggal 11 Februari lalu sampai dengan hari terakhir ini akhirnya pelanggan dapat merasakan diskon yang besar-besaran.

Awalnya pameran buku ini dimaksudkan agar tetap menjaga tradisi pengetahuan umat islam akan ilmu-ilmu islam yang terus maju sampai sekarang. Beberapa kegiatanpun ditambahkan agar dapat menarik perhatian orang-orang tentang pameran buku ini. Diantaranya Talk Show bersama narasumber yang terkenal. Salah satunya adalah Ust. Felix Siaw. Siapa coba yang belum kenal dengan beliau? Beliau adalah salah satu muallaf yang akhir-akhir ini telah memberikan banyak semangat kepada para pejuang kaum muslimin. Sekaligus peluncuran buku terbarunya (16/2/2013). Selesai di penghujung acara barulah para pengunjung melanjutkan shopping bukunya.

Sunday, 6 January 2013

Jebakan Tahun Baru

Tahun 2013 telah datang dan apakah kita harus menyambutnya? Lebih baik kita perhatikan dulu semua sebab akibat dari kegiatan yang kurang penting ini.

Orang memandang ini kagiatan yang sangat penting karena kegiatan seperti ini hanya ada 1 tahun sekali. Saking menghargainya akhirnya orang-orang merayakannya dengan meriah. Sampai-sampai beli kembang api dan trompet buat tambah meriah padahal ngabisin duit. Ditambah lagi konser musik yang mengundang setan untuk ikut nimbrung ke sana. Tapi kenapa masih tidak sadar juga sih?

Untuk beli barang-barang kayak gitu mendingan dibeliin makanan yang pastinya dapet manfaat. Kalo buat dibeliin kembang api itu hanya bersifat sementara. Alasannya apa? Padahal kalo ingin lihat kembang api ya lihat aja kali pasti ada juga yang beli. Ingin nyalain kembang api? Nah, ini yang jadi masalah. Dalam islam tidak ada tradisi nyalain kembang api dan itu merupakan budaya non muslim. Tau sendiri kan hukumnya gimana?

Kemudian sampai diadakannya konser musik tempat para syetan berkumpul. Padahal kalau mau denger musik tinggal denger lewat laptop. Mau lihat mukanya tinggal search di mas google. Mau ketemu langsung? Ngapain... mending juga ngaji ikut pengajian yang diselenggarakan pada malam tahun baru. Emang ada? Ada. Ada habib yang mengadakan pengajian ceramah di monas. Sebenarnya itu boleh gak sih... kalau suatu pekerjaan itu tergantung niat yang sudah kita niatkan. Kalau pengejian itu untuk melawan para konser musik yang ada itu berarti berbiat baik. Tapi kalau supaya ngerayain tahun baru tapi dengan cara yang berbeda itu gak boleh. Lagian ngapain ceramah jam 11.00 malam.

Selesai konser yang stress siapa coba? Ya petugas kebersihan lah. Kasihan dia harus membersihkan tempat koser dari banyak sampah yang berserakan di jalan-jalan. Kenapa pas konser gak banjir aja coba, kan jakarta bakalan tenang.

Masih ingat tentang tsunami di aceh? Setelah terjadi tsunami di aceh sekali-kalinya itu tahun baruan yang paling sepi soalnya takut terjadi susulan sekaligus orang-orang masih pada gotong royong menyelamatkan korban tsunami. Dan bisa dibayangkan pula tahun baruan di GAZA bagaimana rasanya.

Memang sungguh aneh kalau kita tidak tahu bahwa tahun baruan itu memang menjebak kita. Sengaja membuat kita mengikutinya padahal itu merupakan kegiatan yang sia-sia. Rasul pernah mengingatkan kepada kita bahwa tingalkanlah perbuatan yang sia-sia maka kamu akan mendapatkan pahala. Saya mendengar berita bahwa ada seorang perempuan yang pingsan saat berdesak-desakan dengan penonton lain yang sedang menyaksikan konser. Kemudian ada banyak lagi orang yang kehilangan alat-alat elektroniknya gara-gara kurang dijaga, yang dijaga malahan kembang apinya. Jadi sebenarnya tahun baruan itu RUGI dan DOSA karena mengikuti ajaran non islam.

Bagi yang ingin menambah gagasan mengenai jebakan tahun baru silahkan tambah pengalaman anda dengan menulis komentar di bawah posting ini. Semoga dapat menambah pengetahuan para pembaca ya...

Saturday, 15 September 2012

LKMM (Latihan Kepemimpinan dan Manajemen tingkat Menengah) 2012

 Pukul 06.10 para peserta disiapkan di lapangan depan sekolah untuk berangkat ke tempat tujuan. Dengan makan 2 telur dan segelas air madu membuat para peserta bertambah stamina. Upacara yang diselingi senam pagi membuat para peserta semakin semangat. Dengan penuh keyakinan dan tidak sabar, akhirnya para peserta diberangkatkan. Rombongan angkot pun dilepas di lapangan parkir sekolah oleh kepala sekolah kami tercinta, Pak Uno, yang tidak bisa ikut karena ada tugas lain yang harus diselesaikan di sekolah.


Perjalanan di mobil memang melelahkan. Tapi ternyata itu belum seberapa. Kita para peserta diturunkan di Cibatok, Leuwiliang yang berjarak ± 45 km sebelum Desa Cibitung Kulon. Mulai dari sinilah tantangan fisik dijalani. Jalan jauh pun harus dilalui dengan sangat terpaksa. Sekitar 3 tempat pemberhantian sudah dilewati dan akhirnya sampai di lokasi tempat kita akan melakukan presentasi dengan warga. Di sana kami disambut oleh Pak SekDes Desa Cibitung Kulon. Kami disambut baik oleh para pengurus desa. Penyambutan pun selesai dan jalan kaki dilanjutkan sampai tempat kita menginap, yaitu masjid milik Ustadz Muhyidin yang biasa di sapa ustadz mumuh. Di sana kita sudah disambut oleh hidangan makanan berupa sayur sop dan kawan-kawannya. Kami gunakan waktu ini untuk sholat dan istirahat sampai Ustadz Mumuh datang. 

Sunday, 19 February 2012

Arab Saudi Bukan Negara Islam?


Ruyati dipancung di Arab Saudi. Berita ini bak petir di siang bolong, mengagetkan hampir seluruh rakyat Indonesia. Pemerintah Arab menyatakan, Ruyati binti Satubi mengaku telah membunuh istri majikannya dengan palu dan menusukkan pisau ke lehernya. Pihak keluarga korban tidak mau memaafkan, sehingga Ruyati mesti menjalani hukuman pancung. 

Pemerintah Saudi mengklaim, bahwa pelaksanaan hukum pancung ini adalah penerapan hukum Islam yang diberlakukan oleh negara. Setiap orang yang membunuh, akan dibalas bunuh, kecuali bila mendapatkan pemaafan dari pihak keluarga. Dalam hal ini maka pembunuh tidak dibunuh tetapi wajib membayar diyat, yang di Indonesia lebih dikenal sebagai uang darah.

Penerapan hukuman pancung Ruyati memunculkan imbas ketakutan dan ketidaksetujuan yang besar terhadap penerapan syariah Islam dan institusi Negara Islam. Hal ini terjadi karena tidak adanya kejelasan di tengah umat tentang hakikat negara Islam, sehingga mengidentikkan penerapan sebagian hukum Islam dengan negara Islam. 

Darul Islam adalah negeri yang di dalamnya diterapkan hukum-hukum Islam, dan keamanannya didasarkan pada keamanan Islam (An Nabhani, 2009). Melihat pada definisi tersebut, maka Arab Saudi jelas bukan negara Islam. 

Saudi hanya menerapkan sebagian saja dari hukum Islam. Hukum-hukum terkait hukum pidana seperti hudud dan jinayat, seperti hukuman bagi pezina, pencuri dan pembunuh diterapkan. Di sisi yang lain, Saudi mengabaikan hukum yang terkait dengan pembuktian sehingga terkesan keputusan yang dijatuhkan jauh dari kebenaran. Seperti kasus Darsem, yang bila diputuskan sesuai dengan hukum Islam, seharusnya bebas karena Darsem membunuh dalam rangka membela diri dari pemerkosaan.

Begitu pula dalam masalah sosial. Arab mewajibkan perempuan mengenakan cadar, melarang mereka untuk mengemudi, memisahkan kehidupan laki-laki dan perempuan. Di sisi lain, ia tidak menerapkan hukum yang telah ditentukan Islam terkait kehidupan dalam ruang khusus, seperti larangan khalwat, dan penjaminan keamanan bagi perempuan pekerja di dalam rumah. Maka tampak dalam kehidupan umum “islami”, namun di rumah-rumah, pelecehan seksual dan kekerasan seolah tak tersentuh hukum. Bahkan, menurut dokumen wikileaks, bangsawan-bangsawan Arab leluasa melakukan pesta dengan minuman keras dan seks.

Dalam masalah ekonomi, Saudi menerapkan bebas riba. Namun ia mengabaikan hukum-hukum kepemilikan dalam Islam. Sumberdaya alam yang seharusnya milik umat, diserahkan kepada para bangsawan, pejabat, dan asing. Maka kesenjangan yang besar tercipta. Masyarakat Saudi yang miskin ternyata banyak juga jumlahnya.

Dan yang paling jelas menunjukkan Saudi bukan negara Islam adalah system politik dan pemerintahan yang dianutnya. Sistem Islam adalah kekhilafahan, bukan kerajaan. Sistem ini dipimpin seorang khalifah yang dipilih dari kaum muslimin melalui baiat, bukan semata-mata pewarisan kekuasaan turun temurun. 

Dalam menilai Arab Saudi, harus kita pisahkan antara Saudi sebagai tempat bermulanya Islam dengan Saudi dalam system yang berlaku sekarang. Benar bahwa sebagai tempat di mana Islam diturunkan, Saudi pernah menjadi pusat negara Islam. Bahkan berabad-abad kemudian, sekalipun pusat kekhilafahan telah berpindah ke Baghdad dan kemudian ke Istambul, Saudi tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari negara Islam. 

Ketika negara Islam mulai melemah seiring dengan melemahnya pemahaman umat terhadap Islam dan masuknya ide-ide asing yang merusak, ikatan antara Arab dengan negara Islam juga mulai melemah. Api nasionalisme yang ditiupkan Barat untuk memecah belah negara Islam membuahkan hasil dengan lepasnya Arab dari daulah pasca perang dunia pertama.

Setelah lepas, Arab membentuk negara sendiri dengan mengadopsi sistem kerajaan sebagai sistem pemerintahan. Kemudian setelah dinasti Saud berkuasa, paham Wahabi dijadikan sebagai paham negara. Penerapan Islam dalam paham Wahabi ini hanya penerapan yang bersifat parsial, karena paham Wahabi sendiri hanya mengadopsi masalah aqidah, ibadah dan sebagian kecil saja dari hukum Islam. 

Maka Saudi pada dasarnya tidak menerapkan hukum Islam, melainkan hanya mengadopsi suatu paham tertentu. Untuk menambal kekurangan paham Wahabi ini, Saudi mengambil sistem kapitalisme dalam masalah perekonomian dan politiknya. 

Ini dari segi penerapan hukum Islam. Dari sisi keamanan, kita lihat bahwa Saudi menyerahkan penjagaan keamanannya pada AS. Ia menyediakan pangkalan militer bagi AS dan bergantung pada penjagaan AS. Kompensasinya, Saudi bersedia membayar mahal plus memberikan konsesi eksploitasi kekayaan alamnya terutama minyak pada AS.

Mencermati fakta tersebut, maka tidak tepat bila Saudi dikatakan sebagai negara Islam, bahkan menjadi representasi negara Islam pun tidak layak. Penerapan Islam hanya sebatas klaim Saudi sebagai alat legitimasi terhadap posisinya sebagai penjaga tempat suci umat Islam sedunia, yakni Baitul Haram.

Negara Islam adalah negara yang menerapkan seluruh sistem Islam dari masalah sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, sampai urusan hukum, politik dan pemerintahan. Hanya dengan penerapan Islam secara utuh dan menyeluruh lah maka seluruh problem umat manusia dapat terpecahkan secara tuntas. Kemakmuran dan keamanan menjadi keniscayaan.

Sebaliknya, penerapan secara parsial justru hanya melahirkan berbagai masalah baru yang tidak mampu menggambarkan keagungan Islam sama sekali. Saudi telah membuktikan hal ini. 

Wallahu a'lam bi showab.

Wednesday, 28 December 2011

Negeri Sejuta Koruptor


Sungguh enak jadi koruptor di Indonesia, bisa mendapatkan uang banyak namun hanya mendapatkan sedikit hukuman, sehingga rakyatnya berlomba jadi koruptor! * + + + Ada benarnya, seperti yang dikatakan bahwa sungguh enak dan nyaman menjadi koruptor di Indonesia. Bisa meraup uang negara sebanyak-banyaknya dan kemudian menerima hukuman yang seringan-ringannya. Setelah menguras uang rakyat dan uang ditangan, maka bisa digunakan untuk membeli aparat hukum. Para koruptor dihukum dengan hukuman apa adanya hanyalah untuk membohongi publik. Bagaimana tidak enak jadi koruptor di Indonesia, hukuman yang seharusnya membuat pelaku kejahatan menjadi jera, malah dipermainkan dan

hukumannya menjadi menyenangkan. Sudah dihukum seadanya, kemudian dengan mudahnya mendapatkan diskon masa hukuman besar-besaran berupa remisi, dan berbagai macam fasilitas yang nyaman. Benar-benar enak tenan jadi koruptor di Indonesia! Sepertinya para koruptor memang mendapatkan perlakuan istimewa dari negara. Tak heran kasus korupsi semakin merajalela di negeri ini. Sebaliknya orang-orang yang mempunyai hati untuk menjadi penggerak pemberantas korupsi justru bisa mendapatkan perlakuan yang tidak enak dan siap-siap harus menjadi kambing hitam untuk dijebloskan ke penjara. Bila dengan kondisi yang demikian enaknya jadi koruptor disini, tentunya hampir setiap orang menjadi tertarik untuk segera menjadi koruptor. Siapa yang tidak mau mempunyai banyak uang tanpa harus menguras keringat? Sedangkan orang yang hendak memberantas korupsi justru akan selalu dalam tekanan dan bahkan ancaman. Jadi sementara ini keinginan pemimpin kita untuk memberantas korupsi baru berupa slogan, buktinya kasus korupsi terus meningkat. Sementara ini, para koruptor masih bisa tertawa lepas dan dengan nikmat bisa menikmati hasil korupsi bersama-sama keluarga. Mungkin sebentar lagi, negara kita Indonesia, akan meraih peringkat nomor satu dalam hal korupsi, bila keadaan ini terus berlangsung.